Aceh Harus Punya Strategi Hadapi MTQ Nasional

Aceh Harus Punya Strategi Hadapi MTQ Nasional

Gema JUMAT, 28 Agustus 2015

Dr. Ir. Agussabti, M.Si, Ketua IPQAH Aceh

Bagaimana cara meningkatkan kualitas Qari-qariah Aceh di tingkat Nasional? Sebenarnya Aceh sering kalah di tingkat nasional, baik itu MTQ maupun pertandingan yang lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kesiapan dan strategi. Saya melihat dua-duanya kita lemah, baik itu persiapan maupun strategi. Misalnya, dengan pelatih yang dipakai, kita tidak banyak mengundang pelatih dari nasional dan yang rata-rata juri adalah mereka.

Akhirnya, kita sering tidak mendapatkan juara, karena mereka tidak pernah mendengar qari-qariah Aceh dan siapa yang sering dia dengar itu suaranya yang bagus menurut mereka. Permasalahan berikutnya adalah soal pembinaan bagi qari-qariah kita yang belum secara berkelanjutan. Sebenarnya, Aceh harus mempunyai dana alokasi anggaran untuk pembinaan lanjutan dengan memilih potensi-potensi yang dimiliki seluruh Aceh, tidak hanya potensi yang ada di Banda Aceh saja, karena aceh ini luas, kalau saya melihat yang memiliki suara bagus kita misalkan, Gayo Lues bagus, Aceh Barat, dan Aceh Timur.

Hal paling utama dilakukan adalah semua calon peserta harus dikumpulkan dan sekolahkan, kemudian nanti dilatih secarakontinyu, sehingga potensi mereka itu berkembang secara optimal. Kendalanya di Aceh kalau sudah mau MTQ kita sibuk buat pelatihan, habis MTQ selesai semuanya tidak ada pembinaanl anjutan.

Persiapan apa saja yang perlu disiapkan?

Misalnya pembinaan dan persiapan per cabang itu terdiri dari tiga orang. Mereka dipanggil yang bagus-bagus dan ditempatkan di Banda Aceh, kemudian diundanglah pelatih dari tingkat nasional untuk melatih mereka. Kalau tahap pertama boleh dipakai pelatihnya orang kita sendiri sebagai pelatih pendamping. Setelah itu diundang pelatih nasional dan diharapkan para peserta bias berkembang secara optimal. Kita contohkan Tengku Takdir Feriza, beliau juara internasional yang diselenggarkan di Turki, tetapi di nasional dia tidak menang. Kenapa bias aterjadi seperti itu. Maknanya adalah banyak potensi yang bagus di Aceh.

Jadi, untuk menghadapi nasional kita harus persiapan dan kita mencari tahu yang apa disukai oleh juri nasional itu apasebenarnya?

Jika berbicara bertanding kita harus ada strategi, tetapi kurang dilakukan di Aceh. Bila tidak memiliki strategi, maka setia pertandingan kita akan kalah. Buktinya, bila anak Aceh yang ikut mewakili Jakarta selalu menang.

Namun, anak Aceh yang mewakili Aceh tidak menang.Kenapa?

karena disana pembinaannya optimal dan mereka juga punya strategi dalam mengha- dapi lomba. Kemudian keterlibatan, seperti organisasi masyarakat misalnya seperti IPQAH.

Ini tidak optimal dilibatkan, Walaupun anggotanya adalah para pemain istilah kata, memang secara personal mereka dilibatkan tetapi secara organisasi kita tidak dilibatkan. Sehingga kita tidak biasa memberikan input-input yang lebih optimal untuk perbaikan kedepan, jadi istilahnya siapa senang dengan panitia dimasukkan, tidak lebih pada profesionalitas. Saya meliha tada program-program yang harus diberikan kepada organisasi organisasi masyarakat untuk membina.

Pemerintah itu tidak sendiri bermain tapi ada melibatkan lembaga-lembagake- masyarakatan. Apakah selama ini kurang melibatkannya?

Pemerintah selalu member penghargaan di ujung. Kalau sudah sukses dikasih penghargaan, tapi yang paling penting bukan di ujungnya, bagaimana proses dia menjadi sukses, itu yang perlu dihargai. Sebenarnya yang lebih penting menurut saya proses penghargaan untuk mereka biar menang, seperti diberi beasiswa pen- didikan kepada mereka. Mereka-mereka yang punya potensi itu dihargai, diberi pekerjaan supaya mereka nyaman, sehingga mereka focus dan tidak perlu lagi orang tuanya menanggung biaya dan mereka focus membina dan mengembangkankarir MTQ-nya saja. Jangan penghargaan itu selalu diberikan di ujung, karena untuk menang itu tidak gampang dan tidak mudah, ini yang perlu dibina dan dihargai oleh pemerintah.

Harapan bapak kepada pemerintah dalam MTQ tahun ini?

Harapan saya yang pertama Aceh ini mempunyai potensi yang bagus dan saya mengharapkan pemerintah itu serius, dalam istilah orang Aceh bekcilet-cilet, kalau memang pemerintah serius dan ingin mendapatkan peringkat di tingkat nasional dan harus siap mengalokasi dana, karena istilah zaman sekarang tidak ada yang gratis, semuanya itu perlu biaya, baik itu biaya pembinaan maupun biaya lainnya.

Kedua, pembinaan harus kontinue dan harus melibatkan banyakpihak dan ini sangat perlu, seperti misalnya lembaga IPQAH dan lembaga lainnya untuk sama- sama membina masyarakat, baik di bidang al Quran maupun bidang lainnya. Orang yang tidak berkontribusi selama ini harus diberikan penghargaan yang pantas.

Ketiga, duduk dengan ormas-ormas untuk merancang itu harus ada ukuran yang ingin di capai oleh Pemerintah Aceh di tingkat nasional, misalnya pada MTQ nasional tahun ini Aceh harus masuk lima besar, maka untuk mendapatkan target lima besarituapa yang harusdilakukandanituharus di buatperencanaan yang baik, program yang baik serta melibatkan lembaga- lembaga lainnya. (Indra Kariadi)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.