Pemerataan Distribusi Qurban

Pemerataan Distribusi Qurban

Gema, 24 september 2015

Banyak pelajaran bisa diambil dari pendistribusian daging qurban.  Satu gampong misalnya mendapat daging qurban berlebih, namun malah ada yang kurang cukup kalau dibagikan. Tapi di Aceh, fakir miskin pasti mendapat daging qurban meskipun sedikit, berkat pendataan tuha gampong, keuchik dan warga, kita patut bersyukur warga Aceh yang fakir miskin pasti kebagian jatah qurban. Namun ada problem jika satu gampong memiliki lebih dari tiga dusun. Tiap dusun memiliki jumlah warga miskin berbeda satu dengan yang lain, sedangkan ketersediaan daging sangat sedikit, maka akan terjadi “cekcok” karena kurang merata dalam pemba-gian perdusun.

Keuchik Lamgugop, Syauqi A. Majid, S.Ag men-gungkapkan, daging qurban di Lamgugop cukup terpenuhi. Tahun ini terkumpul sapi 20 ekor, sedangkan kambing akan warga bawa sendiri di hari qurban. “Karena daging qurban yang ada berlebih, maka akan didistribusikan ke gampong Alue Naga dan Dayah Raya,” ungkap Syauqi. Kedua gampong tersebut dalam lingkup Kota Banda Aceh.

Gampong Alue Naga hingga kini belum terkumpul dana qurban, hingga  dua hari menjelang Idul Adha. Keuchik Alue Naga, Zulkifli Usman mengatakan, belum terkumpul dana qurban karena masalah yang terjadi akibat tsunami 2014. Warga empat dusun menuntut harus adil dalam pembagian, sedangkan  dalam pandangan Zulkifli harus dibagi berdasarkan kuota fakir miskin setiap dusun. Misalnya satu dusun ada 45 warga miskin, sedangkan dusun lain 60 orang lebih, jadi tidak bisa dibagi rata satu du-sun harus satu sapi. Sehingga warga banyak yang protes.

Kasus lain ditemui Zulkifli, pada satu dusun ada bantuan sapi, namun tetap juga meminta untuk diberikan sapi oleh Keuchik, sedangkan ketersediaan sapi terkumpul hanya tiga ekor, yang harus dibagikan  un-tuk tiga dusun lainnya.

Karena itu, perlu mekanisme distribusi daging yang tepat sasaran, teliti dan cermat.  Di Aceh, pasti ada daerah yang tidak cukup jatah daging qurban seperti yang dialami Dayah Raya dan Alue Naga.  Langkah yang dilakukan Syauqi membagikan daging qurban ke gampong lain, bisa dijadikan contoh. Karena tidak semua gampong memi-liki warga yang dermawan dan mampu berqurban.

Kesadaran

Menurut Syauqi, penting juga membangun kesadaran dalam berqurban. Melalui musyawarah warga gampong yang dilaksanakan seminggu sebelum Idul Adha, dia menekankan tradisi berqurban adalah ibadah sunnha terbaik yang mestiya kita laksanakan. “Kita harus memotivasi kesadaran warga,” katanya.

Dia sendiri memberi contoh dalam berqurban, sehingga warga juga ikut serta.  Lalu bersama warga dibuat kesepakatan:  jika harga sapi kisaran 20  juta, dibentuk satu kelompok pequrban sapi sebanyak 7 orang, Rp1.750.000 perorang, setelah terkumpul baru diserahkan kepada Keuchik.

Jadi, Lamgugop berbagi Alue Naga dalam berbagi daging qurban, sehingga permasalahan yang dihadapi warga Alue naga yang  kebanyakan korban tsunami dan berpenghasilan sebagai nelayan dapat tertangani. “Ini salah satu solusi dalam pendistribusian daging qurban,” kata Syauqi.

Ada solusi lain, kata Zulkifli, tahun lalu pihaknya mendapat uluran tangan dari donatur qurban seperti Rumah Zakat, salah satu partai politik, Gampong Pineung, Peurada dan Masjid Raya Baiturrahman/BPHBI. Alhamdulillah. (Nelly)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.