Gubernur Harapkan Kebangkitkan Seni Budaya

Gubernur Harapkan Kebangkitkan Seni Budaya

Gema JUMAT, 27 November 2015

Gema (Aceh Timur)  – Kehadiran seluruh elemen masyarakat di arena Pekan Kebudayaan Aceh Timur 2015 disatukan oleh tekad yang sama, yaitu memperkuat semangat untuk membangkitkan seni dan budaya sebagai penunjang bagi keberlang- sungnya pembangunan.

Demikian disampaikan Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, dalam sambutan singkatnya saat membuka secara resmi Pekan Kebudayaan Aceh Timur (PKAT) Tahun 2015. Kegiatan yang juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Aceh Timur itu, dipusatkan di arena PKAT, yang berada di komplek perkantoran Pemkab Aceh Timur, (Senin, 23/11/2015).

Menurut Gubernur, PKAT yang dirangkai dengan Pameran Pembangunan Aceh Timur merupakan sebuah manivestasi kegembiraan dan syukuran atas ulang tahun ke-59 Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan yang akan berlangsung selama seminggu itu akan menyelenggarakan Pekan Kebudayaan dengan menyajikan khazanah budaya dari seluruh wilayah Aceh Timur.

“Kegiatan ini merupakan perlambang bagaimana rakyat Aceh Timur bersatu untuk sebuah tujuan perdamaian dan kesejahteraan. Mudah-mudahan PKAT menjadi momentum bersama dalam rangka untuk rasa cinta kepada budaya Aceh, sekaligus sebagai alat perekat rasa persaudaraan dan kebersamaan di antara kita semua,” katanya.

Pria yang akrab disapa Doto Zaini itu menjelaskan, menghidupkan seni budaya adalah upaya untuk mengokohkan identitas diri sekaligus sebuah sikap kepedulian pada sejarah. Menurut Doto Zaini, event ini sangat penting dilakukan mengingat kecenderungan generasi muda yang mulai melupakan budaya sendiri.

“Kita melihat banyak anak-anak muda Aceh yang begitu suka musik-musik luar, tapi terkadang enggan mempelajari pantun-pantun Aceh dan hikayat perang sabi. Banyak pula yang suka kepada tari-tarian modern, tapi lupa pada Tari Seudati, Saman dan sebagainya. Kalau saja semua budaya luar itu diterima mentah-mentah, perlahan-lahan  identitas ke-Aceh-an kita akan hilang,” ujarnya.

Gubernur mengkhawatirkan, jika tren tersebut terus berlanjut, maka dalam beberapa tahun mendatang, generasi muda Aceh tidak akan mengenal lagi seni budaya khas Aceh, seperti Meurukon, Dalail Khairat, rapa’i dan lain sebagainya. “Jika ini yang terjadi, Kiamat Budaya akan menimpa Aceh. Kita akan menjadi masyarakat global yang tidak memiliki karakter yang khas.” tegas Doto Zaini.

Untuk mengatasi hal tersebut, Gubernur menga- jak semua pihak untuk mengangkat kembali seni budaya daerah. Kepada pemerintah kabupaten/kota, Gubernur menganjurkan agar aktif menyelenggarakan berbagai festival seni budaya untuk mendorong masyarakat agar tidak melupakan identitas ke-Aceh-annya.

“Kepedulian Pemerintah Aceh Timur pada seni bu- daya patut kita beri apresiasi, mengingat daerah ini meru- pakan salah satu wilayah tertua dan memiliki banyak khazanah budaya dan sejarah peradaban,” lanjut Doto.

Sebagaimana diketahui, di wilayah ini banyak juga lahir tokoh pejuang dan ulama Aceh, seperti Sultan Ahmad Al-Baqari, Tengku Di Madat, Tengku Tanoh Mirah, Sultan Ahmad Syah, dan lain sebagainya. Gubernur berpesan agar perjuangan para tokoh tersebut bagi kemajuan Islam dan Pembangunan Aceh harus terus dilanjutkan oleh generasi muda.

“Oleh sebab itu, melalui event kebudayaan seperti ini, kita mengajak kembali masyarakat untuk lebih mengenal karakter daerah dan memahami kembali tokoh-tokoh Besar Aceh yang menjadi sosok penting bagi kemajuan dan pembangunan Aceh.” ujar Gubernur.

Pekan Kebudayaan Aceh Timur 2015 akan berlangsung selama sepekan, pembukaan dimulai Senin 23 November dan akan ditutup Jumat 27 November 2015, seluruh Kecamatan yang berada diwilayah Aceh Timur akan mengisi anjungan yang dipusatkan pada  Desa Titi Baro, Kecamatan Idi Rayeuk, Kab. Aceh Timur. Pesan gubernur Sejalan dengan langkah Pemerintah Aceh Timur menyelenggarakan Pekan Kebudayaan dan Pameran Pembangunan, Gubernur menyampaikan beberapa pesan:

Pertama, melalui kegiatan Pekan Kebudayaan ini, mari kita perkuat kebersamaan dan semangat perdamaian, dalam membangun Aceh yang lebih baik di masa mendatang.

Kedua, saya mengajak seluruh generasi muda Aceh untuk kembali mencintai seni dan budaya daerah dengan cara mempelajari dan mengembangkannya. Generasi muda Aceh harus men- jadikan seni budaya sebagai filter untuk menyaring masuknya budaya asing akibat pengaruh globalisasi dunia.

Ketiga, Pemerintah Daerah saya minta memperbanyak kegiatan seni budaya di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat gampong, mukim hingga tingkat kabupaten, agar tercipta ikatan silaturrahmi di antara masyarakat yang lebih kuat.

Keempat, masyarakat Aceh Timur hendaknya dapat pula menjadikan Pekan Kebudayaan ini sebagai momentum untuk memperkuat komunikasi dengan Pemerintah, Ulama dan Tokoh Adat, sehingga jalannya pembangunan di segala bidang, dapat dilakukan dengan lebih baik lagi.

Kelima, Gubernur mengajak masyarakat agar terus mempertahankan tradisi dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai warisan peradaban Aceh yang tak ternilai dari para pendahulu. “Akhirnya, saya menga- jak kita semua untuk bekerja keras agar perjuangan kita mengembangkan dan me- lestarikan seni dan budaya Aceh, mendapatkan hasil yang maksimal,” pungkas Gubernur Aceh.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.