Hubungan Aceh-Kedah dalam Sejarah

Hubungan Aceh-Kedah dalam Sejarah

Gema Jumat, 01 Januari 2016

Pengantar Redaksi: Tanggal 19-2 2 Desember 2015 lalu, Drs H. Ameer Hamzah diundang ke Kedah mengikuti Seminar Sejarah Kedah yang diadakan di Kota Padang Sera, Ibukota Kerajaan Kedah abad ke 15. Berikut intisari Kertas Kerja (makalah) Ameer Hamzah yang disajikan dalam Forum tersebut.

1.Zaman Kerajaan Samudera Pasee Sejarah ini kita mulai pada zaman Kerajaan Islam pertama Samudra- Pasee pada abad pertama hijrah atau abad ke 7 Masehi. Pada waktu itu Kerajaan Samudra Pasee menaklukkan Kerajaan Kedah secara damai. Bukan lewat perang, tetapi karena rakyat Kedah sudah masuk Islam, maka mereka takluk kepada Kerajaan Samudra Pasee yang memang sedang kuat di kala itu.(LIhat: Kronik RajaRaja Pasee: Ibrahim Alfian).

Saya tidak tahu, apakah ada catatan sejarah tentang penaklukkan ini di buku-buku sejarah Negeri Kedah, tetapi dalam buku sejarah Aceh, peristiwa ini ditulis sejarawan. Salah seorang cucu Malikus Saleh (Wafat. 1297 M) adalah Malikah Nur Ilah (Ratu Nur Ilah). Putri dari Sultan Malikuz Zahir Bin Sultan Malikussaleh. Ratu ini naik tahta setelah mangkat ayahnya Sultan Malikiz Zahir.

Ratu yang memerintah dengan hukum Allah ini dikatakan juga berkuasa atas Kedah di Semenanjung Tanah Melayu. Raja perempuan ini sangat adil dan alim. Pada zamannya Kerajaan Siam (Thailad) yang beragama Budha menyerang Kedah. Ratu langsung mengirim bala bantuan ribuan tentara yang terlatih sehingga Siam dapat dikalahkan.

Setelah Ratu Nur Ilah wafat, di batu nisannya ditulis dalam bahasa Melayu campur Arab dengan menggunakah huruf Pallawa (Jawa kuno).

Sarjana Belanda W.F. Stutterheim telah meneliti dan membaca tulisan tersebut, dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. Ibrahim Alfian, putra Pasee yang menjadi pensyarah (Guru Besar di UGM Yogyakarta).

Tulisan itu berbunyi: Matn almalikah almu’azzamah adalah (al ‘Aalah) binti Sultan almarhum, Malikuzzahair Khan, al-Athar Ibnu Walididhi Khan, al-Khanat, taghammadhullahu birridhwan fir-Rabbi ‘ashar yaumul Jum’ah min Zilhijjah ahad watis’anu wasab’ami’ah, min Hijrah almusthafawiyah.

Terjemahan:

Ini kubur Ratu yang agung Nur Ilah Binti Sultan Almarhum Malik Az-Zahir terkenal dengan Ahadi Khan direstui ayahnya, Allah meliputinya dengan segala kerelaan, mangkat pada 14 Hari Bulan Zulhijjah, Jumat, Hijrah bNabi Mustafa.

Tulisan lain yang terrpahat indah di nisannya berupa syair dalam bahasa Jawa kuno:

Hijrah nabi mungstafa yang prasaddha/Tujuh ratus asta puluh savarassa/ Hajji catur dan dasa vara sukra/ Raja iman warda rahmatallah/ Gutra bah(ru) bhasa(ng) mpu hak Kadah Pase ma/taruk ntasih tanah samuha/Taruh dalam syarga tuha ta tuha.

Terjemahannya sebagai berikut: Setelah hijriah Nabi , kekasih yang telah wafat/. Tujuh ratus delapan puluh satu tahun/, bulan Zulhijjah, 14 hari Jumat/Ratu iman “wardah” rahmat Allah atasnya/ dari suku Barubasa (di Gujarat) mempunyai hak atas Kedah dan Pasai/ menaruk dan di darat semesta/. Ya Allah ya Tuhan semesta/ tempatlah baginda dalam syurga Tuhan.

Menurut Prof Dr. Ibrahim Alfian, MA, Ratu Nur Ilah hidup ketika Kerajaan Hindu Majapahit menaklukkan Pasee, yakni 1365 M. Jadi bahasa Jawa kuno mempengaruhi bahasa Melayu di Pasee.(4). Mungkin juga batu nisan tersebut dibuat oleh seorang seniman ukir batu dari Kerajaan Majapahit.

Dalam bidang penyebaran Islam, Sejarawan Malaysia Mohammad Saghir Abdullah menyebutkan; Seorang ulama besar dari Pasee yang bernama Syeikh Abdullah Arif datang ke Kedah untuk mengislamkan penduduknya. Syeikh Abdullah Arif bersama seorang temannya Syekih Abdullah Qumairi dari Yaman berhasil mengajak Raja Kedah yang bernama Maharaja Durban II yang masih kafir. Maharaja masuk Islam, maka pembesar-pembesar dan rakyat juga masuk Islam.

  1. Zaman Kerajaan aceh Darussalam Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya di zaman Sultan iskandar Muda (1607—1636). Raja ini memperluas kerajaannya hampir seluruh Sumatera dan Semenanjung.   Pahang ditaklukkan tahun 1619 M.

Menurut Prof. A. Hasjmy (sejarawan Aceh) Iskandar Muda sengaja menaklukkan negeri-negeri di Semenanjung dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mencegak penjajah Eropa mengambil tanah Melayu Muslim. Karena sangat sering kerajaan-kerajaan di Senenajung Melayu bekerjasama dengan kaum penjajah, Inggris, Portogis dan Belanda dalam masalah perdagangan.
  2. Aceh juga kuatir, penjajah Barat akan lebih dahulu menaklukkan negerinegeri Islam tersebut. Dari jatuh ke bahawah penjajah, lebih baik kita gabung dalam kerajaan Aceh yang sama-sama muslim dan serumpun Melayu. Demikian pendapat iskandar Muda.
  3. Orang-orang Aceh ingin menguasai perairan Selat Melaka secara utuh. Niat Iskandar Muda tersebut mendapat dukungan rakyatnya, bahkan rakyat negeri yang ditaklukkan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.