Menatap dengan Optimis Tahun 2016

Menatap dengan Optimis Tahun 2016

Gema Jumat, 01 Januari 2016

Khutbah Jum’at, Drs. Tgk. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd, Khatib Kepala Biro AUAK IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa

PerganTian hari, bulan dan tahun merupakan sunnatullah dalam kehidupan kita, semakin bertambah usia semestinya semakin banyak amal shalih yang kita lakukan, semakin besar peluang kebaikan yang kita gapai, karena hakikatnya meskipun usia kita terasa bertambah tetapi sebenarnya ia semakin berkurang, semakin dekat dengan ajal.

Untuk itu mari kita isi hari-hari dalam hidup ini dengan keimanan, amal shalih dan optimisme sehingga kita selalu bersemangat dalam beramal dan bekerja demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ada banyak sistem penanggalan di dunia terkait dengan pergantian tahun secara periodik selain tahun baru Masehi saat ini, pada umumnya bermuatan relijius, dilatarbelakangi oleh sejarah perubahan sosial dari masa kelam kepada masa yang bersinar, sarat dengan pesan-pesan moral dan lambang kemenangan bagi kebaikan.

Sebagai umat Islam kita menggunakan kalender Hijriyah yang didasarkan pada masa orbit bulan mengelilingi bumi, dan kita sudah sama tahu bahwa spirit hijrah Nabi dapat menginspirasi setiap perubahan-perubahan besar bagi individu maupun sosial.

Tahun baru 2016 Masehi ini semoga dapat kita ambil hikmahnya, mari mengintrospeksi diri kita dan bertaubat dari segala dosa dan kekeliruan kita di tahun lalu, membangun optimisme serta berusaha memperbaiki segala kesalahan.

Mari kita tingkatkan rasa syukur kita kepada Allah swt karena kita masih diberi kesempatan untuk mempergunakan umur dan segala fasilitas hidup yang akan kita pertanggung jawabkan nanti, sebagaimana disabdakan Nabi saw.

“Tidak akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Rabnya sehinga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya untuk apa ia pergunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan, dan tentang ilmunya apa yang ia amalkan (darinya). (HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, jilid 10, hal 8, no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946)

Janganlah di kemudian hari kita termasuk orang-orang yang menyesal karena tidak dapat mempergunakan karunia Allah dengan sebaik-baiknya berupa kesempatan hidup dengan berbagai amal kebajikan, sebagaimana diilustrasikan dalam al-Qur’an:

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekalikali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100).

Allah telah memuliakan manusia, diangkat darinya segala dosa bila bertaubat dan kembali pada-Nya, Dia mengampuni semua dosa, kita harus optimis bahwa Allah maha pengampun atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, Allah Swt berfirman :

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Az Zumar 39 : 53).

Ketahuilah bahwasanya tidak ada tempat bagi keputusasaan dalam hidupmu, bila bencana datang menyerang dan musibah bertubi-tubi menerpamu, maka tugasmu adalah berlaku optimis dan penuh pengharapan terhadap apa yang ada di sisi Tuhanmu dan berprasangka baik pada Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda:

“Allah Swt berfirman : Aku sebagaimana prasangka hambaku kepadaKu, bila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan, dan bia berprasangka buruk kepada-Ku, maka baginya keburukan”(Ahmad 9314, Shahih Ibnu Hibban 2/405).

Kita juga dianjurkan untuk menularkan optimisme kepada orang lain yang sedang ditimpa musibah, misalnya ketika sedang sakit, dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kita untuk berdoa kesembuhan dan memberi semangat kepada orang tersebut.

Rasulullah saw bila menjenguk orang sakit berdoa : tidak mengapa, sembuh insya Allah, lalu beliau berdoa untuknya: Tidak mengapa, sembuh, insya Allah” lalu seseorang berkata : kau berkata: Sembuh, sebenarnya itu demam panas yang sedang meluap dan mengancam orang yang sangat tua dan akan membawa maut.” Nabi Saw bersabda: ”Ya, kalau begitu ya sudahlah.”(HR. Bukhari. 3616).

Dalam syarah (penjelasan) hadits di atas disebutkan bahwa seorang muslim bila menjenguk orang sakit, maka hendaknya ia memberikan harapan kehidupan padanya, menenangkan jiwanya dan mencoba melapangkan dari dari masalahnya. (Fathul Bari 10/121).

Rasulullah Saw melarang prilaku pesimis , karena itu merupakan tindakan orang-orang yang frustasi, Rasulullah Saw bersabda : “Bila seseorang berkata : manusia celaka, maka ia yang paling celaka diantara mereka” (HR. Muslim 8/36).

Artinya ia sendiri orang yang paling celaka, dan ia menjadi penyebab dalam kecelakaan mereka, karena ia pemilik pandangan pesimis, ia selalu menyebut keburukan orang lain dan menjelekjelekkan mereka.

Optimisme berdampak pada kemakmuran masyarakat, kebahagiaan dan perkembangannya, dengan bersenjatakan optimisme setiap individu akan memiliki semangat yang tinggi, mereka akan mampu mengalahkan kesusahan, akan bersungguh-sungguh dalam bekerja, Rasulullah Saw bersabda ;

“Jika hari kiamat tiba, sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit kurma, jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah” (Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrid 1/168).

Semoga kita semua diberikan rahmat dan ampunan oleh Allah SWT, serta dapat menjalani kehidupan dengan penuh rasa optimis dalam rangka menggapai syurga Allah swt. Amin

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.