Maulid Nabi Wadah Kebersamaan Orang Aceh

Maulid Nabi Wadah Kebersamaan Orang Aceh

Oleh : Muhajir Al Fairusy, Dosen Antropologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

Gema JUMAT, 8 Januari 2016

PERAYAAN Maulid Nabi yang dalam bahasa Aceh disebut Kenduri Maulod merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW atau disebut juga memperingati kelahiran Pang Ulee Alam (penghulu Alam). Keunduri Maulod sudah menjadi tradisi dalam masyarakata Aceh. Bahkan yang terbesar bila dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain di Aceh. Lebih lengkap tentang tradisi maulid ini simak wawancara wartawan Gema Baiturrahman, Indra Kariadi, dengan Pengurus Majelis Adat Aceh dan UIN Ar-Raniry ini.

Apa makna maulid Rasulullah SAW bagi masyarakat Aceh?

Apa yang paling diingat dan menjadi kebiasaan orang Aceh, baik di dalam maupun di luar tanah air mereka, antropolog UGM Irwan Abdullah menyebutkan adalah berkumpul bersama dan kemudian melakukan kenduri. Kegemaran orang Aceh yang suka berkumpul bersama, dapat dimaknai begitu eratnya kebersamaan orang Aceh. Apalagi, di antara kenduri yang paling lama dilaksanakan oleh orang Aceh adalah Kenduri Molod. Dalam almanak Aceh, secara eksplisit mencantumkan tiga bulan berturut-turut rayanya ritual dan kenduri ini (Molot, Adoe Molot, dan Molot Keuneulhuh).

Apakah hikmah yang bisa diambil dari maulid ini?

Kedekatan masyarakat Aceh dengan tradisi adat, dan agama mereka, menunjukkan kemampuan transformasi tradisi nilai dari masa lampau (local genius) bertahan hingga sekarang, termasuk tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad. Apalagi, selain Maulid dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad, kedekatan kultur pengkultusan pada ahlul bait Nabi juga dilakukan oleh orang Aceh dalam syair, fokhlore (dapat ditemukan dalam teks manuskrip kuno Aceh), hingga beberapa perayaan yang berhubungan dengan tradisi tesebut, masih berlangsung di Aceh. Karena itu, tidak mengherankan, jika kemudian perayaan Maulid Nabi, diperingati secara meriah dan lama oleh orang Aceh (tiga bulan berturut-turut), karena intervensi sejarah dan budaya yang mengakar.

Bagimana tradisi baca berzanji dan syair puji-pujian terhadap Rasul mempengaruhi masyarakat Aceh?

Perayaan Maulid di Aceh, bukan hanya representasi mengenang kelahiran Nabi akhir zaman tersebut, yang dipuji, diagunggkan oleh segenap umat Islam di seluruh penjuru dunia, sebagai sosok paling agung dalam Islam. Akan tetapi, di sana mengalir nilai-nilai tradisi lokal, seperti kesenian membaca barzanji, syair puji-pujian yang mendalam bagi baginda Nabi, juga memuat secara eksplisit nilai kebersamaan antar-orang Aceh. Saling berkunjung dan silaturrahmi antar-gampong, antarkeluarga sangat terasa saat perayaan Maulid Nabi. Di pelosok Seulimum dan Lam No misalnya, kelompok-kelompok barzanji secara khusus diundang antargampong (dalam satu kemukiman) untuk memeriahkan gampong yang merayakan Maulid, sambil melangsungkan pembacaan barzanji, begitu seterusnya selama tiga bulan masing-masing gampong mendapat giliran perayaan, dengan mengundang gampong lain untuk membaca barzanji dengan seni khas yang berkembang di Aceh (dikee Molot), dalam kajian budaya, fenomena ini menunjukkan proses resiprositas-pelanggengan hubungan sosial dalam masyarakat Aceh secara kuat.

Disisi apa?

Di sisi lain, Maulid juga menjadi arena mempertahankan kuliner khas Aceh, dengan dibalut simbol Idang Meulapeh, tempat khusus menaruh kuliner Mualid. Di mana, nasi dibungkus khusus dengan daun pisang (Bu Kulah), ragam masakan yang kuat rempah-rempah Aceh disajikan, hingga bermacam jenis kueh dihidangkan. Lalu, orang berkumpul, duduk bersila menghadap idang, tanpa membuat gap-kelas sosial, dilanjutkan dengan makan bersama. Artinya, budaya perayaan Maulid, menunjukkan tingginya konfi gurasi local genius Aceh dalam tatanan egaliter dan kebersamaan.

Apakah peringatan maulid menjadi penting bagi masyarakat perdalaman?

Penting untuk dicatat, bahwa perayaan ritual Maulid di Aceh, tidak hanya terasa di wilayah pesisir Aceh, juga menjamah pedalaman Aceh dan perbatasan Aceh. Di Singkil misalnya, masyarakat di sana merayakan Maulid dengan cara turun ke jalan-jalan kampung, sambil mendorong becak dayung yang telah dihiasi, dan berisi makanan untuk dimakan bersama, kemudian di arak keliling kampung, sambil dibacakan barzanji. Akhirnya, dalam konteks kultur lokal, dan konfi gurasi sebuah tatanan masyarakat, perayaan Maulid, selain menunjukkan identitas (keislaman orang Aceh) dan potret sebagai masyarakat Nusantara yang mengakar dengan tradisi, juga wujud gembiranya masyarakat ujung Sumatera tersebut menyambut kelahiran Nabi mereka Muhammad SAW.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.