Puasa untuk Memanusiakan Manusia

Puasa untuk Memanusiakan Manusia

Gema JUMAT, 03 JUNI 2016

Oleh: Dr Tgk H Syamsul Rijal, MAg  (Khatib Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Ar Raniry Banda Aceh )

Pada setiap kehadiran bulan Ramadhan disertai dengan kewajiban (ibadah) berpuasa bagi setiap muslim yang beriman untuk menghantarkan jati dirinya menjadi manusia yang bertakwa (harapan yang adaptif) dan kompetensi ini merupakan entitas kemuliaan di antara berkehidupan manusia.

Kewajiban  berpuasa dalam lintas peradaban manusia bersifat historis, tidak hanya menjadi bagian kewajiban muslim tetapi juga telah ditradisikan dikalangan umat sebelumnya. Secara filosofi ibadah ini membangun nilai kemanusiaan bagi karakternya dalam meraup nilai ketakwaan sebagai elemen penting dari kemuliaan manusia itu sendiri.

Untuk memperteguh mentalitas, tentu saja, bagi setiap muslim kewajiban berpuasa menjadi tolok ukur utama dalam sebuah proses memanusiakan manusia, kenapa? karena inpactnya puasa bermuara kepada kepedulian nilai sosial yang tinggi dalam berkehidupan.

Rasulullah SAW pernah memberikan isyarat arti pentingnya puasa tatkala mengindikasikan bahwa perjuangan maha dahsyat beliau dengan para sahabat saat berjuang di kancah “badar” itu tdk seberapa dibandingkan dengan perjuangan melawan hawa-nafsu yang menjadi entry point utama yang harus dikendalikan selama menunaikan ibadah berpuasa.

Bagi yang berpuasa menahan lapar serta dahaga di waktunya tidak boleh diartikan sebagai penderitaan namun eksperien itu semua adalah sebuah proses agar mampu menyadari betapa mereka yang menderita karena lapar dan dahaga yang diperlukan uluran bantuan untuk membebaskan penderitaanya. Dalam posisi ini adalah arif disaat seseorang mampu memaknai betapa humanisnya ibadah ini. Di antara karakter manusia yang dirindukan oleh syurga itu adalah “mereka yang puasa dan juga mereka yang memberi (membebaskan) orang lain dari derita lapar” di kesempatan lain pun rasul mengingatkan umatnya bahwa amalan di bulan Ramadhan yang sarat-makna ke pribadian itu juga adalah memberi penganan berbuka bagi yang berpuasa.

Subtansi ibadah puasa dalam dimensi pengendalian hawa nafsu pada gilirannya akan menumbuhkembangkan nilai humanis pada setiap pribadi yang menjalaninya. Dalam konteks kehidupan sosial, asa humanis itu tetap diperlukan apalagi esensi utama kehadiran manusia itu adalah tidak hanya membawa manfaat bagi dirinya namun juga dapat menginspirasi (bermanfaat) bagi orang lain.

Sisi lain yang tercermin di bulan Ramadhan itu suasana gembira. Kegembiraan mana bermuara pada dua tahapan satu tahapan duniawiyah (insaniyah sifatnya) dan satu tahapan ukhrawiyah (ilahiyah sifatnya). Rasul bersabda “dua kegembiraan bagi yang berpuasa, pertama saat berbuka (insaniyah) dan saat bertemu langsung dengan Rabbnya (ilahiyah). Kegembiraan itu merasa sukses pengendalian diri dari segenap yang membatalkan puasa jadi segera membuncah rasa gembira tiada terpatri. Demikian juga di saat hari pembalasan manusia berpuasa akan bertemu langsung dengan Tuhannya, karena ibadah ini meskipun ibadah qashirah (individual sifatnya) namun berat prosesnya dan atas keberhasilan ibadah ini  Allah yang lansung membalasnya, nah salah satu dimensi penting di sisi ini ya itulah ketemuan mereka yang berpuasa dengan Rabb-nya.

Sementara itu, dari sisi nilai akumulatif ibadah telah ditegaskan bahwa beribadah di bulan Ranadhan itu setara dengan seribu kali ibadah di bukan lainnya. Subtansi apresiasi seperti ini terhadap yang beribadah sejatinya dapat memunculkan spirit baru bagi setiap pribadi untuk area taubat (memperbaiki diri) sehingga prosedural menuju insan muttaqin itu semakin dekat walaupun diibaratkan oleh al-Qur’an “la’allakum tattaqun” (mudah-mudahan anda bertakwa) artinya esensi ketakwaan seseorang memiliki korelasi bersinergi dengan maksimalisasi ibadah yang dia tunaikan.

Karakter bertakwa yang dimiliki seseorang sangat amat diperlukan dalam proses berkehidupan apalagi di era modernitas ini. Mereka bertakwa senantiasa selalu mempersiapkan kompetensi dirinya menjadi yang terbaik dan siap menginspirasi lainnya dalam kebaikan. Mereka yang bertakwa senantiasa memiliki sense humanis yang tajam sehingga peduli antar sesama sehingga tdk ada pembiaran berkehidupan ini tanpa ada sebuah kepedulian. Era modernitas jangan terjebak dengan despritualitas sehingga kehidupan individualistik menyeruak dalam berbagai sisi kehidupan sehingga mendorong kehidupan yang gersang yang jauh dari nilai kehidupan berkemanusiaan yang sesungguhnya.

Marhaban Ranadhan bulan inspirasi bagi setiap insan memperbaiki diri serta menumbuhkan humanisme yang dibutuhkan dalam berkehidupan di era modernitas sarat tantangan ini. Wallahualam bi alshawwab.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.