Mengurus Yatim Berkelanjutan

Mengurus Yatim Berkelanjutan

Gema JUMAT, 24 JUNI 2016

 Oleh:  Sayed Muhammad Husen

Mengurus anak yatim atau yatim adalah implementasi ajaran Al-Quran. Kita diminta tidak menyia-nyiakan yatim, memenuhi hak dan melindungi hartanya. Kita harus memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis yatim, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sempurna sebagaimana anak lainnya. Memperlakukan anak yatim sama dengan anak sendiri dan mengurusnya hingga mandiri.

Organisasi Konperensi Islam  dalam tiga tahun terakhir menetapkan 17 Ramadhan sebagai Hari Yatim se Dunia Islam. Penetapan ini mendapat respon positif Pemerintah Kota Banda Aceh, yang memperingatinya setiap tahun bersama komponen masyarakat peduli yatim. Ikut serta juga beberapa Lembaga Amil Zakat dan Baitul Mal.

Peringatan hari yatim bukanlah hal baru, sebab organisasi Muhammadiyah telah menjadikan hari yatim sebagai tradisi tahunan. Yatim mendapat perhatian dan santunan khusus setiap tahun. Hari yatim ini digunakan sebagai media sosialisasi, edukasi dan kampanye supaya masyarakat berpartsipasi dalam gerakan mengurus anak yatim.

Lalu, apa pentingnya mengurus anak yatim? Ada alasan kuat mengurus yatim di Aceh, sebab konflik 1976-2005 dan stunami 2004 telah “memproduksi” ribuan yatim. Tentu saja ditambah lagi yatim yang lahir secara alamiah akibat orang tuanya berpulang ke rahmatullah. Faktanya, sebagian besar yatim ini berasal dari keluarga miskin.

Memang ada upaya pemerintah dan organisasi masyarakat mengurus yatim, seperti pemberian beasiswa oleh Pemerintah Aceh, beasiswa OIC OKI, menampung di panti-panti asuhan dan pesantren terpadu, serta bantuan mandiri oleh  masyarakat. Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak komponen masyarakat melakukan santunan yatim.

Mengurus yatim tidaklah cukup dalam bentuk karitatif dan insidentil, tapi harus dilakukan berkelanjutan hingga mereka mandiri. Yatim mestilah dibekali ilmu pengetahuan, keterampilan dan pembinaan ketaqwaan, sehingga mereka mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan ini.

 

Karena itu, kita harus mengurus yatim hingga sarjana. Bahkan, dalam sebagian kasus, yatim yang lahir dari rahim konflik kita harus memfasilitasinya hingga berpendidikan tingkat master atau doktor. Dengan pengetahuan yang cukup dan menjadi ilmuan, kita yakin yatim ini akan bebas dari trauma masa lalu dan melupakan dendam politik secara permanen.

 

Semoga dengan data base yatim yang baik, sinergi pemerintah dan non pemerintah, kita dapat mengurus yatim berkelanjutan dan  sempurna. Maka masa depan Aceh akan diisi oleh SDM yatim yang berkualitas.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.