Ketika Ulama Wafat

Ketika Ulama Wafat

Sayed Muhammad Husen
Sayed Muhammad Husen

Gema JUMAT, 29 JULI 2016

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Dua ulama dayah dan berpengaruh di Aceh wafat pada hari yang sama. Teungku H Mukhtar Luthfi alias Abon Seulimum dan Abuya Jamaluddin Waly dan meninggal dunia, pada Kamis 21 Juli 2016. Berpulangnya kedua ulama itu tentu saja membawa duka yang dalam bagi masyarakat Aceh.

Abon Seulimum, Pemimpin Dayah Ruhul Fata Seulimum, Aceh Besar, meninggal akibat komplikasi penyakit. Ia sempat dirawat di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh. Ribuan pelayat mulai dari muridnya, masyarakat, hingga pejabat ikut mengantarkan jenazahnya ke liang lahat.

Sementara Abuya Jamaluddin Waly mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Teuku Pekan Blang Pidie, Aceh Barat Daya, sekira pukul 23.15 Wib atau sekitar 16 jam setelah meninggalnya Abon Seulimum.

Abuya Jamaluddin Waly adalah sosok yang disegani kharisma dan keilmuannya. Ia putra dari Abuya Syeikh Muhammad Muda Waly Al Khalidy, ulama besar Asia Tenggara, sekaligus pendiri Pesantren Darussalam Labuhan Haji, salah satu dayah tertua di Aceh.

Dalam hal ini, cendikiawan muslim Jarjani Usman menulis, wafatnya ulama lazimnya menimbulkan kesedihan mendalam di hati orang banyak. Terasa sekali ada suatu kehilangan besar. Tidak demikian dengan meninggalnya seorang yang kaya raya. Padahal ulama yang sesungguhnya seringkali tidak mewarisi harta benda. Yang diwariskan adalah ilmu yang berasal dari Allah sebagai penerang jalan dalam menempuh dunia menuju akhirat.

Bagi kita, wafatnya ulama adalah pembelajaran penting. Pelajaran pertama, kita harus lebih baik lagi membuat perencanaan pendidikan ulama di Aceh. Dua ulama wafat mestinya dalam waktu tertentu dapat tergantikan oleh dua puluhan ulama lainnya.

Kedua, dengan wafatnya ulama, semestinya kita lebih serius lagi menimba ilmu-ilmu keislaman, sebab inspirasi yang kita peroleh dari ulama adalah semangat mereka menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada ummat.

Karena itu, kita tak boleh berduka dalam waktu lama akibat wafatnya ulama. Kita juga tak baik menyebarkan kekhawatiran, seolah-olah Aceh akan krisis ulama dan berkurangnya ilmu keislaman di tengah-tengah masyarakat.

Sebab kita menyaksikan pertumbuhan ulama muda di dayah dan cendikiawan muslim muda di kampus terus berlangsung dengan baik.  Hanya saja yang diperlukan pemahaman konprehensif tentang definis ulama, tanpa membedakan dan memilah antara ulama dayah dengan cendikiawan muslim. Mereka semuanya adalah ulama.

 

 

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.