Antara Haji Mabrur dan Mardud

Antara Haji Mabrur dan Mardud

 Gema JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

Oleh  H. Ameer Hamzah

NAIK Haji ke Baitullah adalah rukun Islam yang kelima. Hukumnya wajib bagi yang sanggup (istitatha’a) pulang pergi dan tidak wajib bagi yang tidak mampu. Tidak semua para jamaah akan mendapat haji mabrur, sebagian dari mereka kemungkinan akan ditolak hajinya (mardud). Dua  model jamamah haji ini memang sudah diberitakan sejak awal Islam.

Mendapat fadhilah menjadi haji mabrur adalah dambaan setiap kita yang melaksanakan ibadah haji. Harapan tersebut berdasarkan sabda  Rasulullah SAW: Haji mabrur tidak ada lain balasannya kecuali surga (HR Muslim). Abu Hurairah berkata: Orang yang pulang haij yang mabrur, ibarat anak yang baru dilahirkan dari perut ibunya (HR Muslim). Maksudnya bersih dari dosa-dosa.

Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi dalam kitabnya “Alhajjil Mabrur” menyebutkan; ada enam syarat supaya menjadi haji mabrur. Pertama niat karena Allah,  kedua naik haji dengan uang yang halal. Ketiga punya ilmu yang memadai  tentang manasik haji. Keempat banyak bersedekah kepada fakir-miskin. Kelima tidak ada utang pada manusia dan melunasi kewajiban zakat, keenam tidak bermaksiat kepada Allah SWT.

Setelah pulang ke negerinya, orang-orang yang mendapat fadhilat Haji Mabrur akan menampakkan perubahan pada akhlaknya. Misalnya sebelum berhaji agak sedikit sombong, namun setelah haji sudah menjadi manusia yang ramah tamah. Jika dulu terkesan bakhil (kikir) setelah pulang haji mulai gemar menyedekahkan sedikit hartanya kepada kaum dhuafa. Kalau dulu suka shalat sendirian, sekarang suka shalat berjamaah.

Haji mabrur yang diterima Allah sungguh berbeda dengan Haji Mardud yang tidak diterima. Haji Mardud adalah haji yang  ditolak pahalanya karena bukan berdasarkan perintah dari Allah. Mereka  naik haji karena niat lain selain Allah. Maka jika pulang ke negerinya, mereka tidak bisa menjadi teladan keluarga bahkan orang umum. Sifat-sifat jahiliyah masih melekat padanya, misalnya suka mengejek orang, bicara lagha (sia-sia) tidak ada manfaat.

Orang-orang yang tidak diterima hajinya sungguh menyedihkan, arang habis besi binasa, uang habis hajinya sia-sia. Semua akibat salah mereka sendiri. Semberono dalam melaksanakan ritual haji, misalnya tinggal wajib dan rukun, terlibat  fusuk dan jidal,  omong jorok dan bertengkar. Juga kadang-kadang tidak sesuai dengan sunnah. Mereka termasuk orang-orang yang rugi.

Tanda-tanda orang yang hajinya ditolak oleh Allah antara lain; shalat lima waktu masih disia-siakan. Hubungan sesama manusia sangat renggang,  masih gemar berbuat maksiat, seumpama judi,zina dan minuman keras. Penyakit kikir menghinggapinya sepanjang masa. Mereka  juga sangat sombong dengan manusia karena melihat kecukupannya. Mudah-mudahan jamaah haji tahun ini semuanya menjadi mabrur, Amin! Tidak ada yang mardud, sehingga  merugikan diri sendiri. Semoga  Haji Mabrur sepanjang hayat.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.