Memetik Hikmah Ibadah Haji

Memetik Hikmah Ibadah Haji

Gema JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

Khutbah H. Akhi Tamlicha M. Hasan, Lc, Penceramah Masjid Raya Baiturrahman

Haji merupakan ajaran esensial dalam Islam, terletak pada urutan  kelima dari lima ajaran dasar Islam. Kewajiban haji wajib dilaksanakan oleh  semua orang Islam, dewasa, laki-laki dan perempuan yang mampu. Ibadah ini berlangsung setiap tahun dengan fokus aktivitas antara  8 hingga 13 Dzulhijjah, bulan kedua belas dari perhitungan kalender Lunear. Meskipun ibadah ini sebagai bahagian dari kerangka ajaran lainnya, namun ia memiliki  karakteristik dan keunikan tersendiri. Sehingga haji dipahami sebagai bagian penyempurnaan konsep  penyerahan diri kepada Allah, Tuhan Yang tiada satu tuhan selainNya. Sebelum berangkat, calon haji terlebih dahulu harus memperbaiki kesalahan-kesalahannya, melunasi hutang, mempersiapkan sejumlah pembiayaan yang cukup untuk perjalanannya dan bagi nafkah keluarga yang ditinggalkan.

Pada saat seorang haji mendekati kota Mekkah, ia memasuki keadaan suci dan bersih yang dikenal dengan sebutan Ihram. Dalam kondisi ini, ia hanya menggunakan pakaian khusus dengan aturan yang sangat khusus pula, yang melambangkan penghambaan sejati dengan hiasan kerendahan hakiki sebagai manifestasi dari ketundukannya kepada Allah, Sang Pencipta, Pemilik, Pengatur alam raya. Sang haji berjalan mengelilingi Ka’bah sebagai sentralnya sebanyak tujuh kali dalam rotasi pergerakan yang berlawanan dengan arah jarum jam; ritual ini disebut Thawaf. Apabila mampu mendekati batu suci, ia dianjurkan mengecupnya atau memberi isyarat dengan lambaian bagi yang sedikit berjarak dari batu hitam itu. Batu yang dikenal dengan sebutan Hajar Aswad ini menempel disebuah kerangka perak pada dinding Ka’bah, setinggi empat kaki dari permukaan tanah (lantai), sebelah pojok selatan dari tempat suci itu. Selama beberapa hari kemudian sang haji berjalan mengikuti rute yang diperintahkan menuju tempat suci lainnya di sekitar  Mekkah; Mina, Arafah, Muzdalifah, siklus Jamarat dan kembali ke Ka’bah pada hari yang terakhir. Inilah ritual singkat dari ibadah haji yang mengandung sejuta hikmah padanya.

Diantara  hikmah yang terkandung dari pelaksanaan ibadah haji:

Pertama, esensi kemuliaan abadi

Ka’bah, bangunan batu berpresisi, berbentuk kubus beratap datar, setinggi lima puluh kaki dari dasar marmer di atas fondasi batu lokal berwarna biru keabu-abuan. Bangunan dengan dimensi-dimensi yang tak sepenuhnya kubus, memiliki kedudukan sentral yang sangat berarti.

Allah berfirman: “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semesta alam” (QS Ali Imran: 96)

Allah SWT memuliakan Mekkah dengan memilihnya sebagai lokasi dibangunnya Ka’bah Agung, sentral paling awal tempat beribadah bagi manusia. Gerakan thawaf yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam memiliki hikmah gerakan esensial menuju keabadian asal mula penciptaan. Sesungguhnya sangat menakjubkan bahwa materi alam raya diciptakan berpasang-pasangan; positif-negatif, lahiriah-bathiniah, laki-laki-perempuan, dan jantan-betina. Seluruh jagat raya, dari yang terkecil dalam siklus, komposisi, dan ukuran masing-masing; bergerak memutar dengan gerakan thawaf berlanjut secara terus menerus, menuju kesatuan putaran episiklus yang lebih besar. Sehingga yang tersisa hanyalah satu simbol makna ketauhidan di semesta raya yang menjadi akhir dari gerakan ini. Tiada lain kecuali keesaan Allah SWT, yang mensifati dzatNya dengan Laa Ilaaha IllaLLah.

Untuk meraih hikmah esensi kemuliaan ini, Allah menginginkan hambaNya yang beriman untuk mengambil bagian menempati posisi fitrah gerakan raya, sehingga sang hamba merekayasa kesatu-paduan  integral dirinya dalam jagad penciptaan, jika ia mampu walau hanya sekali seumur hidup.

Kedua, akhlak dan dinamika tak terbatas

Dalam haji, ka’bah menjadi isu sentral. Sentralitas ini tidak serta merta mematikan karakter pengembangan yang mendinamika. Thawaf, mata air Zamzam, Maqam, Sa’i bukit Shafa-Marwah, Arafah, Tahallul bercukur, adalah simbol lain dari gerakan mendinamika dan berbeda-beda. Bukankah thawaf adalah putaran yang terus bergerak dan tidak statis. Mata air yang melambangkan unsur kehidupan sekaligus perhatian agar sang haji menghiasi diri dengan sifat Tuhan yang memberi hidup, terlebih disaat-saat kritis dan krisis. Maqam Ibrahim sebagai penghargaan atas jejak dan karya arif para leluhur, adat-istiadat, disisi ka’bah dalam Masjidil Haram yang menghilangkan kecemasan dan ketakutan, memberi rasa aman yang jauh dari sikap radikalis, kesemrautan, bahkan teror. Sa’i dalam lautan hidup dan karya, jatuh-bangun, timbul-tenggelam, menanjak-menurun yang tidak boleh mempadamkan asa. Arafah, perteduhan dan puncak harapan. Tahallul lambang kematangan untuk kembali tumbuh subur disamping keridhaan sang haji. Subhanallah, kesemuanya bermuara pada akhlak, moralitas, dan pengembangan tak terbatas kearah kesempurnaan.

Firman Allah: “Disana terdapat tanda-tanda yang jelas, (diantaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia…”(QS Ali Imran: 97)

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat”(QS Al-Baqarah:125)

 Dalam surat Al-Baqarah ayat 197 Allah berfirman:  “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu maka janganlah dia berkata keji (rafas), berbuat maksiat (fusuq), dan bertengkar (jidal) dalam ibadah haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang memiliki akal sehat”.

Ketiga, kepekaan sosial dalam kesetaraan

Banyak orang yang merasa dirinya terhina oleh kehidupan, lalu pesimis skeptis menganggap Tuhan tidak adil membagi sebakul nikmat. Pada sisi lain, banyak pula manusia gagah, hartawan, ilmuwan dengan segudang kelebihan, menganggap dirinya super, beruntung dan merasa dimanja Tuhan. Dalam anggapan mereka, serantang nikmat  lahir batin hanya disediakan untuk mereka. Lalu, menganggap diri sebagai orang-orang yang terpilih.

Sebenarnya hidup tidak boleh diasumsikan demikian. Hidup adalah ujian. Firman Allah SWT: “(Maha suci) Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk: 2)

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit  ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS) Al-Baqarah: 155)

“Allah tidak akan biarkan orang-orang beriman sebagaimana dalam keadaan saat sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang baik dari yang buruk..” (QS Al-Imran: 179)

Berkaca pada ritual haji, Tuhan memanggil hambaNya dalam jamuan kesetaraan. Konsep aturan sederajat dengan bungkusan pakaian yang seirama. Balasan bahkan hukuman yang diperoleh juga senada. Sesampai disana, sang haji pasti merasakan sugesti gambaran penghambaan setingkat, yang sama sekali tanpa lirikan perbedaan strata sosial.

Dalam surat Al-Hajj ayat 27 sampai dengan ayat 37 secara lebar diterangkan makna kepekaan sosial dalam kesetaraan dimaksud, dimana terdapat perintah untuk berzikir, berserah diri, membersihkan diri dari kotoran, sempurnakan nazar, mengagungkan apa yang terhormat disisi Allah,  syukur atas anugerah, menyembelih  hewan qurban dan memberi makan orang lain. Dari sini, sang haji yang telah mendapat jamuan keagungan, kembali  sebagai  muslim yang bersahaja, setara memposisikan diri dalam masyarakatnya. Berjiwa sosial di garda terdepan dalam beramar makruf nahi mungkar, mengimani bahwa kelebihannya adalah anugerah Allah yang singgah melaluinya untuk kepentingan banyak pihak. Dan pada kilasan lain, melihat kekurangan dan keterbatasan diri sebagai media untuk lebih berbesar harap pada Dzat yang rahmatNya meliputi segala sesuatu.

Keempat, tanggungjawab dan keharmonisan

Tanggungjawab dan kiprah luar biasa telah dinampakkan oleh Ibrahim, Hajar  dan Ismail. Allah menginginkan keduanya menjadi sebutan yang baik dan teladan memikul tanggung jawab dan keharmonisan interaksi dalam keluarga. Diungsikan jauh dari kampung halaman, ditinggalkan di lembah sunyi tanpa kehidupan, Hajar tidak berulah macam-macam. Kesulitan demi kesulitan mendera Hajar dan bayi merah dalam pelukan. Hajar yang mulia terus mengasuh dan mendidik Ismail kecil dalam tatanan kemuliaan. Bekal pendidikan dini ini menyeruak pengaruhnya dalam kepribadian Ismail. Hingga Ismail AS menjadi  orang yang diridhai. Firman Allah SWT: “Dan kisahkan (hai Muhammad) tentang Ismail didalam Al Kitab. Dia seorang yang benar janjinya, dan seorang rasul lagi nabi. Dia menyuruh keluarganya (tegakkan) shalat dan (tunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai disisi Tuhannya”. (QS Maryam: 54-55)

Dalam perjalanan haji, geografis lembah Mekkah, bangunan Ka’bah, Dua Maqam, ritual Sa’i, Mudzdalifah, Mina  dan Jamarat mengilhami sang haji napak tilas keluarga Ibrahim AS, termasuk syari’at Qurban. Surat As-Shaffat ayat: 101-107 memberi gambaran perintah wahyu agar Ibrahim AS menyembelih buah hatinya Ismail AS, tanggapan anak ketika diajak berdialog oleh ayah, keharuan peluk kasih perpisahan menjelang detik-detik penyembelihan, balasan orang-orang baik, dan tebusan Allah atas Ismail.

“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar”(QS As-Shaffat:107)

Dalam beberapa literatur, Ismail sempat menitip pesan kepada sang Ayah agar menjaga Ibu dan perasaannya. Bahkan Ia meminta baju yang dipakainya dapat dilepaskan dari tubuhnya agar tidak berlumur darah untuk diberikan kepada Ibunya Hajar. Dengan begitu akan mengobati kerinduan dan meminimalisir rasa kehilangan sang anak. Betapa besar perhatian orang-orang arif nan bijak terhadap perempuan.

Nasehatilah perempuan dengan kebaikan (lemah lembut, santun, penuh kehati-hatian), sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Sebagian diantara isi Khutbah Nabi saw pada Haji Wada’).

Bila kita menatap pada tataran  perempuan Aceh, beberapa tahun lampau dan sebagian dari mereka hingga saat ini, maka para Haji “tempoe doeloe” telah mengkisahkan karakter Hajar kepada mereka, agar tidak mengeluh dalam mengasuh, menjaga, membimbing, dan membesarkan anak-anak mereka. Sangat ajaib, membagi waktu untuk rutinitas kesibukan rumah tangga, menyemai benih, menanam padi, menggurat hama rumput di sawah-ladang, memanen, memisahkan butir padi dari tangkai (lhoe pade), peukrui padi. Pada saat bersamaan sang anak telah kenyang disusui dan ditidurkan dalam ayunan yang menggantung pada pepohonan rindang yang tumbuh disisi pematang sawah mereka. Hingga sempat perempuan Aceh tangguh ini mencari kayu bakar, menjaga jemuran gabah dari serbuan ternak ayam. Hikmah ini  yang mulai pudar dari memori. Keajaibanpun kembali menyapa, rumah tangga bersemi, hasil panen melimpah dalam perjalanan waktu seiring kesuksesan pendidikan sang anak.

Anak adalah sosok unik istimewa. Ia mesti mendapatkan pendidikan emosional sempurna. Kematangan emosionalnya diusahakan terkontrol dalam kebersahajaan sifat hilmi menghadapi kesulitan dan tekanan. Orang tua harus mampu mengukir karya ketauladanan.  Sang ayah patron karakteristik, ketenangan, kebijaksanaan dan kepemimpinan. Sedangkan Sang ibu adalah madrasah kasih, kelembutan, loyalitas kesetiaan, sensitifitas dan kearifan perasaan.

Kelima, menambat hati di taman rohani dua tanah haram

Inilah hikmah sang haji sejati. Hati dan air mata merindu dua tanah haram. Rindunya tidak bersifat kebendaan, tetapi ketajaman rohani yang menawan. Jika Tanah Haram tidak dimasuki kekafiran dan keberhalaan, maka hati yang tertambat pada keduanya selalu terjaga dari ketidak sucian. Hati sang haji mengendus penglihatan Tuhan, mengarungi kebijaksanaanNya untuk memetik taburan hikmah yang tersembunyi dalam aturanNya.

Firman Allah SWT: Dan diantara mereka ada orang yang berdoa,”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab di akhirat”. Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Maha cepat perhitunganNya. (QS Al-Baqara: 201-202)

Demikianlah seuntai gambaran singkat dari hikmah ibadah haji, semoga Allah hiasi kita dan mereka yang  bersimpuh menziarahi rumah tua Baitullah ka’bah musyarrafah. Wallahu a’lam bisshawab.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.