Gubernur Ulama + Umara

Gubernur Ulama + Umara

Gema JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016

Oleh Murizal Hamzah

Apa yang dibutuhkan oleh umat Islam dalam memilih pemimpin? Tidak salah lagi, penduduk perlu pemimpin berkapasitas ulama dan umara. Mereka percaya, individu ini dapat mengusung warga ke jembatan kemakmuran dan kemajuan.  Apakah Indonesia memiliki pemimpin atau gubernur yang di dalam tubuhnya melekat profil ulama dan umara?

Ya Nusantara ini memiliki gubernur yang menyandang gelar ulama plus umara. Pribadi yang langka ini menjabat Gubernur  Nusa Tenggara Barat  TGH Muhammad Zainul Majdi. Putra ulama di Negeri Seribu Masjid ini kelahiran  31 Mei 1972.

Zainul adalah  putra ketiga HM Djalaluddin, dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.  Ibu Zainul adalah putri pendiri organisasi Islam terbesar di NTB yakni  Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid.

Gubernur periode 2008-2013 dan periode 2013-2018 ini  menikah dengan Robiatul Adawiyah putri pemimpin Ponpes As-Syafiiyah, Jakarta, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i. Cucu ulama besar di NTB TGH. KH. Zainuddin Abdul Majid bersatu dengan cucu ulama besar kharismatik Jakarta..

Tidak diragukan, Tuan Guru Bajang  itu mewariskan ilmu agama dari kakeknya. Sedangkan ilmu birokrasi atau manajemen mengalir dari ayahnya seorang birokrat. Kita pantas belajar pada  gubernur NTB yang merupakan alumnus  Universitas Al-Azhar Cairo Fakultas Usuluddin Jurusan Tafsir & ilmu-ilmu Al Qur’an lulus Licenci (Lc).  Wal hasil,  Tuan Guru Bajang adalah seorang Hafidz Quran plus  pakar  Tafsir dan Ilmu-ilmu Qur’an.

Tahun 2008, Zainul menjadi gubernur termuda di Indonesia  yang dilantik pada 17 September 2008 dalam usia 36 tahun, 3 bulan dan 17 hari. Dalam aspek prestasi, dia memperoleh

penghargaan di Bidang Pangan dari Presiden RI atas Prestasi meningkatkan produksi Padi (P2BN) lebih dari 5 pada tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya.  Perekonomian di NTB dengan izin Allah tumbuh 21 persen, pertumbuhan tertinggi dibanding seluruh provinsi di Indonesia sehingga tingkat kemiskinan di NTB turun 0,56 persen dan tingkat ketimpangan di NTB dari Maret-September 2015 turun dari 0,37 menjadi 0,29.

Tidak berlebihan masyarakat NTB sangat bersyukur dengan keberadaan Zainul yang bisa berdiri  pada dua sisi yakni ulama dan umara. Karena sukses, dia pun terpilih dalam dua periode. Kita paham, ulama adalah pewaris Rasulullah yang berjuang untuk dakwah dalam arti luas. Ulama adalah umat pilihan yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan umara atau pemimpin adalah ibarat penjaga, penguatyang menyatukan umat Islam.

Mengutip pendapat Al Ghazali, agama adalah pondasi, sedangkan pemerintah adalah penjaga. Pemerintah tanpa agama akan hancur, sedang agama tanpa penjaga (pemerintah) akan hilang.

Jika NTB yang mayoritas umat Islam bisa menempatkan pemimpin alim dalam pemerintahan, bagaimana dengan Aceh?  Apakah Aceh memiliki sosok gubernur yang berkemampuan sebagai ulama dan umara?  Kita berharap memiliki gubernur Aceh yang mempunya latar belakang lulusan dayah serta ilmu kemimpinan sehingga sosok gubernur dapat memutuskan keputusan dengan bijak yang berfaedah bagi umat. Dalam bahasa BJ Habibie, sosok pemimpin berhati Mekkah dan berotak Jerman.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.