Jihad Ulama Lawan Korupsi

Jihad Ulama Lawan Korupsi

Gema JUMAT, 11 NOVEMBER 2016

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM ) Nahdhatul Ulama  bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan kegiatan bedah buku ‘Jihad NU Melawan Korupsi’ di Pesantren Mahyal Ulum Sibreh, Sabtu (7/11) dan Training Of Trainer “Kader Penggerak NU Anti Korupsi pada 5-6 November di Hotel OASIS Banda Aceh.

Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai instansi, ormas dan santri dayah setempat. Buku hasil karangan Hifdzil Alim, Mahbub Maafi Ramdlan, Marzuki Wahid, Muhammad Nurul Irfan dan Rumadi Ahmad diterbitkan oleh Lakpesdan PBNU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) di Jakarta Selatan.

Ahmad Ishomuddin Tanfidziyah PBNU sebagai narasumber pertama menyampaikan bahwa dalam Islam jihad itu bukan hanya berperang, tapi melawan korupsi juga bisa dikatagorikan jihad. Narasumber kedua dari Syuriah PBNU KH Robikin Emhas, menjelaskan bahwa Hancurnya negara-negara didunia secara umum adalah karena KORUPSI.

Ramah Handoko mewakili KPK mengatakan Bahwa kerja sama ini perlu ditingkatkan karena mengingat para santri-santri Aceh sangat bersemangat terhadap pemberantasan korupsi. “Saya melihat antusiasme yang begitu luar biasa para santri, pengurus OKP dan Ormas yang hadir dan semoga kedepan lahirnya generasi anti korupsi di Aceh” jelas Handoko.

Kegiatan tersebut juga turut diisi oleh narasumber lokal dan luar daerah diantaranya K.H. Ahmad Ishomuddin (PBNU), KH Rumadi Ahmad (Lakpesdam PBNU), Muhammad Hatta (PWNU).

Resensi buku

“Membiarkan terjadinya korupsi besar-besaran dengan menyibukkan diri pada ritus-ritus hanya akan membiarkan berlangsungnya proses pemiskinan bangsa yang semakin melaju,” kalimat inspiratif di halaman awal buku, oleh K H Abdurrahman Wahid.

“Sudah lama saya meyakini, perjuangan melawan korupsi merupakan perjuangan yang sejalan dengan spirit keagamaan (ruhul jihad). Dalam situasi seperti sekarang ini, perang melawan korupsi bisa disepadankan dengan jihad fi sabilillah. Tidak ada yang menyangka bahwa korupsi merupakan tindakan kejahatan bahkan ada yang menyebutnya kegiatan yang luar biasa yang tidak bisa diperangi dengan cara-cara yang biasa,” tulis Prof Dr KH Said Aqil Siroj di awal pembuka.

Deklarasi Jihad NU melawan Korupsi, “tindak pidana korupsi dan pencucian uang adalah kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan yang menimbulkan madharat dalam jangka panjang. NU harus memperkuat garis perjuangan anti-korupsi untuk melindungi ulama, jamaah dan organisasinya; melindungi hak rakyat dari kezaliman koruptor; dan mendidik para calon pejabat untuk tidak berdamai dengan korupsi dan pencucian uang.

Sanksi untuk pelaku tindak pidana korupsi dan pencucian uang meliputi sanksi moral, sanksi sosial, pemiskinan, ta’zir dan hukuman mati sebagai hukuman maksimal. Pemberlakuan hukuman mati sebagai hukuman maksimal mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penyelenggara Negara, terutama aparat penegak hukum, yang terlibat tindak pidana korupsi harus diperberat hukumannya.

Negara harus melindungi dan memperkuat semua pihak yang melaksanakan jihad melawan korupsi. NU menolak praktik kriminalisasi terhadap seluruh pegiat antikorupsi oleh aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum harus dapat menegakkan keadilan dan tidak berlaku sewenang-wenang.

Penegak hukum yang melakukan penanganan terhadap kasus hukum, termasuk kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang, harus melakukannya secara tepat dan cepat, berkeadilan, dan mempunyai kepastian hukum.

Alim ulama serta seluruh pemuka agama dan tokoh masyarakat wajib menjadi teladan dan penjaga moral melalui pendekatan nilai-nilai dan prilaku antikorupsi. (Jannah)

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.