MAHKAMAH ALLAH DI HARI KIAMAT

MAHKAMAH ALLAH DI HARI KIAMAT

Gema JUMAT, 25 NOVEMBER 2016

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” QS (al-A’raf ayat 7-8

Ayat di atas merupakan sambungan dari ayat pada tafsir sebelumnya  tentang situasi pada hari kiamat, yang mana Allah SWT menyatakan sebelumnya, Allah SWT akan menanyai semua rasul tentang dakwah dan seruan yang mereka sampaikan kepada orang-orang yang menentangnya dan yang mendurhakai seruan tersebut dengan dihadapkan langsung dengan orang-orang tersebut, sehingga tidak ada lagi yang disembunyikan.

Pada ayat ini Allah SWT kembali menjelaskan apa saja proses yang terjadi pada hari kiamat yaitu, Allah SWT akan menunjukkan kembali apa yang telah kita lakukan di dunia ini, berupa amalan kita semuanya; amal baikkah atau amal burukkah, semuanya tidak ada yang luput dari semua catatan amal kita. Semuanya dituliskan dalam rekaman yang tidak dapat diubah dan selalu tetap seperti itu sampai waktunya tiba untuk dipertanggungjawabkan.

Mengapa semua itu bisa begitu detil? Allah SWT menyatakan bahwa Allah SWT tidak pernah jauh dari kita, selalu mengawasi kita dan mengetahui semua yang kita lakukan, siang-malam, gelap-terang, sendiri-keramaian, lahir-batin, dan semua kondisi dimanapun kita berada dan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita.

Dalam keadaan seperti ini, ‘mizan’ atau timbangan kebaikan dan keburukan adalah takaran untuk menentukan amalan baik dan buruk. Apabila amalan kebaikan lebih banyak dan berat, maka Allah SWT menyatakan orang-orang itulah yang beruntung, namun apabila amal keburukan lebih dominan, maka orang tersebut tidak beruntung.

Keberuntungan inilah keberuntungan yang sejati, karena keberuntungan dalam timbangan langsung mendapatkan surga bila amalan baik, dan –naudzu billah– akan dilempar ke neraka apabila lebih banyak amalan buruk.  Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi hari itu? Allah menjelaskan dalam kitab suci al-Qur’an, bahwa dunia inilah tempat melakukan kebaikan, amalan, ibadah dan semua aktifitas yang bermuatan positif. Jika pun kita memiliki catatan keburukan pada orang lain maupun setelah mengintrospeksi diri sendiri, maka hendaklah kita sadar, bahwa timbangan Allah SWT tidak dapat ditawar-tawar. Tidak ada sogokan, suap dan sebagainya, karena hanya dengan amalan kita-lah timbangan itu akan condong kepada kebaikan, apabila melakukan kebaikan. Condong kepada amalan buruk, apabila kita melakukan pelanggaran dan penentangan terhadap perintah Allah SWT. Allahu musta’an.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.