Tragedi Kemanusiaan Aleppo

Tragedi Kemanusiaan Aleppo

Gema Jum’at, 23 Desember 2016

Oleh H. Ameer Hamzah

Ya Allah! Bantulah saudara-saudara kami muslim Sunni Aleppo. Berilah jalan keluar dari penderitaan mereka. Ya Allah porakporandakan kekuatan setan yang menghancurkan kota peradaban Islam Aleppo. Ya Allah dulu di sini, Malik Az-Zahir, Nuruddin Zangki , Shalahuddin Al-Ayyubi mempersiapkan Angkatan Perang melawan tentara Salib. Ya Allah dulu di sini umat Islam berjaya mengalah musuh-musuh-Mu ya Allah! Kemudian membebesakan Baital Maqdis. Ya Allah selamatkanlah Aleppo dari niat jahat tentara Rusia yang komunis dan rezim Basyar Al-Assad yang sosialis. Ya Allah selamatkanlah Islam di bumi Aleppo.

Perang saudara antara pendukung diktator Basyar Assad (Syiah Nusiriyah) dan Kaum Pemborontak (Sunni) yang ingin ada perubahan di Halab (Aleppo) sungguh mengerikan. Mesin perang buatan Rusia (Komunis) menghancurkan tembok-tembok kota, melebihi kehancuran Gempa bumi Di Pidie Jaya. Ribuan orang juga mati akibat reruntuhan gedung ataupun kena peluru, bahkan kehilangan oksigen. Tragedi yang dibuat dan dirancang sendiri oleh manusia.

Perang, sebenarnya kalimat usang yang menakutkan. Perang sebenarnya harus berakhir dalam kehidupan modern yang berperadaban. Tetapi kenyataannya, perang juga tak terhapus dari kamus manusia modern, bahkan dalam otak pemimpin mereka perang adalah alat untuk mempertahankan kekuasaan. Maka mereka menghabiskan bermilyar-milyar dolar untuk membeli senjata, pesawat tempur dan melatih tentara-tentara mereka ke luar negeri.

Oh dunia, adalakah perang sebuah keniscayaan yang harus berjalan terus menerus? Ibarat mendung dan hujan? Hujan turun ke setiap puncak-puncak gunung, mengalir ke lembah-lembah, hujan menyuburkan bumi yang mati? Apakah perang juga seperti hujan? Harus ada yang mati? Reda di belahan bumi ini, lebat di pelahan bumi yang lain? Hujan dan perang terus menerus ada. Jikapun tak ada hujan hanya di musim kemarau, jikapun tak ada perang karena mereka telah kelelahan.

Kilas balik ke negeri Syam yang sekarang kita kenal Suriah. Negeri ini telah diperebutkan oleh bangsa-bangsa Kaldan sejak Nabi Ibrahim As, bangsa Persia, kemudian dicaplok oleh bangsa Mesir zaman Firaun, lalu jatuh ke tangan Romawi Timur. Zaman Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Syam dari tangan Romawi. Suriah menjadi bagian dari Islam. Zaman Bani Umayyah Syam menjadi pusat peradaban Islam. Damaskus menjadi ibukota Daulah Bani Umayyah.

Di bumi Syam, banyak para sahabat Rasulullah bersemayam (wafat) di sana. Makam mereka ada di Aleppo, Homs, Damaskus dan kota-kota lainnya. Inilah bumi yang diberkati Nabi di malam hijrah. Juga bumi yang pernah dikunjungi Nabi ketika beliau berusia, 9, 12, tahun ketika berniaga bersama pamannya Abu Thalib. Nabi juga berniaga ketika beliau berusia 24 tahun membawa barang-barang Khadijah. Tetapi mengapa seolah-olah bumi Syam tidak berkah lagi? Mengapa tentara-tentara Rusia yang komunis dizinkan oleh Basyar As-Sad untuk membunuh rakyatnya?

Oh Tuhan, seorang bocah perempuan, Fathimah Al-Halaby (9) tahun ke luar dari reruntuhan gedung di Aleppo. Dia berteriak kepada dunia; efakuasi kami, efakuasi kami! Perang telah mengakhiri semua yang kami banggakan. Masa depan kami telah sangat sirna, bantulah kami. Oh dunia, oh dunia! Kemudian dia menghilang ke balik-balik reuntuhan. Selanjutnya kita tidak tahu lagi, apakah Fathimah kecil masih hidup? Atau telah tewas bersama desingan mesin senjata pemusnah manusia.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.