Harapan Kepada Pemimpin Baru

Harapan Kepada Pemimpin Baru

GEMA JUMAT, 14 APRIL 2017

Tidak lama lagi Aceh akan me- miliki pem- impin baru setelah Pilkada. Pemimpin baru menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, penerapan syariat Islam dan pelestarian kebudayaan.

Dalam perspektif ekonomi, pemerintah daerah merupakan tonggak utama bagi bangkitnya kualitas kesejahteraan. “Ekonomi seperti darah dalam badan,” ujar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah, Prof Dr Nasir Aziz MBA.

Di Aceh, beberapa persoalan ekonomi harus segera diselesaikan. Contohnya, produksi produk lokal Aceh sedikit. Malahan, produk yang beredar di pasaran berasal dari Medan. Banyak  sekali produk kebutuhan dasar masyarakat, seperti telur, masih bergantung dari Medan. Seharusnya, persoalan ini bisa teratasi, mengingat Aceh memiliki banyak potensi daerah yang dapat dimanfaatkan demi ke- mandirian ekonomi.

Pemerintah harus memikirkan kebutuhan pokok bisa diproduksi di daerah sendiri. Hal ini merupakan tan- tangan bagi siapapun yang memimpin Aceh. Arus globalisasi jangan sampai menghambat perkembangan produk lokal. “Ketika sudah ada produk lokal, permintaan harus ada. Kalau itu kebu- tuhan pokok pasti dibeli,” ujarnya.

Selain itu, kebutuhan dasar lain masih belum mencukupi, seperti listrik. Kekurangan listrik bisa mengakibatkan terkendalanya perkembangan ekonomi. Selama ini, proses ekonomi hampir seluruhnya membutuhkan listrik.

Harapan lain kepada pemerintah supaya masyarakat bisa mencintai produk sendiri. Di Jepang, walaupun ada masuk produk luar, tapi produk lokal yang paling berjaya. “Pemerintah harus mengatur regu- lasi untuk mendorong masyarakat mencintai produk sendiri,” pung- kasnya.

Saat ini, fenomena kehadiran supermarket menjadi momok mena- kutkan bagi pengusaha kios kecil. Di daerah lain, pemerintah mengatur jarak antara satu supermarket dengan supermarket yang lain. Kebanyakan kios tersebut terpaksa gulung tikar, karena tidak mampu bersaing.  “Membangun ekonomi tidak bisa lepas dari pengaruh akademisi, businessmen, dan govern- ment,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah perlu menggaet investor, supaya mau berinvestasi di Aceh. Investor sangat berpengaruh bagi perkembangan suatu daerah. Negara-negara maju dipengaruhi oleh investor. Sebab, uang daerah sangat sedikit untuk bisa membangun. Namun, para investor ini tidak akan datang bila infrastruktur dasar seperti listrik tidak ada. “Dalam teori ekonomi, investasi merupakan faktor yang mengungkit ekonomi,” paparnya.

Penerapan syariat Islam Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Yusni Sabi mengharapkan pemimpin baru Aceh bisa lebih aktif menerapkan syariat Islam. “Kita berharap ke depan, pemimpin Aceh lebih adil, jujur, aktif, berorientasi kepada rakyat, transparan, profesional dan dapat meningkatkan kemasalahan dan ketetraman masyarakat Aceh,” ujarnya.

Pemimpin yang baik meninggalkan kenangan indah yang tidak akan dilupakan masyarakat. Misalnya, setelah kepemimpinannya, ekonomi masyarakat lebih berkembang, sarana dan prasarana lebih memadai, serta toleransi diantara masyarakat kuat. “Disinilah syariat Islam berfungsi dengan baik. Yakni masyarakat yang makmur, sejahtera, aman, tenteram, dan saling menghargai,” tambahnya.

Untuk pengangkatan kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPA) ke depan, harus diangkat secara profesioanl berdasarkan jenjang karirnya. Adanya kepantasan, kejujuran, dan mereka anti melakukan korupsi. Seorang pemimpin harus memiliki sifat shiddiq, amanah, tab- ligh, dan fathanah.

Tantangan syariat Islam terdapat pada pejabat yang melakukan korupsi. Pelaku korupsi sama sudah melanggar salah satu bagian penerapan syariat Islam. Ketika ada pegawa tidak disiplin, korupsi, kolusi, dan nepotisme, wilayah yang kotor, itulah pelanggaran syariat Islam.

“Syariat Islam mampu membendung fakir dan miskin,” kata mantan Rek- tor UIN Ar-Raniry, itu.

Melestarikan kebudayaan Pemerhati budaya Tarmizi A Hamid atau akrab disapa Cek Midi, mengatakan, budaya Aceh tidak terlepas dengan syariat Islam. Setiap daerah di Aceh memiliki kebudayaannya masing-masing. Tugas pemerintah adalah kebudayaan akan tetap ada sampai kapanpun. “Kalau itu tidak dilestarikan, generasi ke depan akan melupakan kebudayaannya itu,” lanjutnya.

Bila kebudayaan Aceh sudah melekat erat dengan masyarakat, budaya lain tidak gampangnya masuk ke tanah serambi Mekkah ini. Generasi pemuda sekarang sudah lari dari kebudayaan syariat. Kalau kebudayaan tidak dikawal, maka akan dimanfaatkan oleh pihak lain demi tercapai misi tertentu. Apapun kebudayaan di Aceh harus diselesaikan sesuai adat dan buaya.

“Suka atau tidak suka, sebenarnya budaya luar sudah kita laksanakan. Fitnah memfi tnah bukan budaya Aceh,” imbuhnya. Salah satu pelestariannya bisa dilakukan melalui kurikulum pendidikan. Seluruh jenjang pendidikan memiliki andil demi terawatnya kebudayaan. Bila ada kurikulum yang tidak sesuai dengan kebudayaan Aceh perlu ditinjau kembali.

Menurut Cek Midi, sedikitnya ada lima pokok landasan dan harapan sebagai acuan bagi seorang pimpinan baru di Aceh. Pertama, hifz, artinya memelihara kepercayaan rakyat, menunaikan kewajiban janjinya. Hifz juga diartikan orang memiliki ingatan yang kuat, yaitu cerdas dan cakap, itu menjadi modal dasar membangun negeri ini.

Kedua, Fahm, artinya cepat tanggap dalam semua persoalan dalam negeri dan rakyatnya.Ketiga, fi kr, yaitu idealis, tajam pikiran dan luas wawasannya. Keempat, iradat, yaitu visi misi, prospek dan target. Pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat. Dan kelima, nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur di atas segalanya. (Zulfurqan)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.