Ikhlas dalam Beramal

Ikhlas dalam Beramal

GEMA JUMAT, 14 APRIL 2017

Oleh H. Basri   A. Bakar

“Mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS: Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas merupakan inti dan ruh dari pada amal ibadah. Diterima atau ditolaknya amal ibadah oleh Allah SWT sangat bergantung sejauh mana keikhlasan dari pelakunya. Ikhlas dalam beramal diartikan melakukan ibadah semata-mata karena Allah, mencari ridhaNya, tanpa iming-iming mendapat pujian, penghargaan atau lainnya dari manusia. Coba kita renungkan yang kita baca  dalam do’a iftitah : “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Pengakuan yang tulus dari seorang hamba kepada RabbNya, itulah yang menjadi landasan seseorang dalam melakukan ibadah. Oleh karena itu bila seseorang ingin ibadahnya bernilai di sisi Allah, maka yang harus dilakukan adalah meluruskan dan menata niatnya dengan benar yakni melakukan sesuatu perintah semata-mata karena Allah.

tanpa sedikitpun dikotori dengan riya’ atau pamer. Lihatlah bagaimana keikhlasan yang ditunjukkan Nabiyullah Ibrahim a.s saat menjalankan perintah Allah menyembelih putranya Nabi Ismail a.s. Atau bagaimana keihlasan yang dicontohkan Bilal saat kafir Qurasy menyiksa dan menindih perutnya  dengan batu besar karena tetap bertauhid kepada Allah. Imam Al-Ghazali berkata, “Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga akan binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal”. Allah berfi rman yang artinya: “Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan”. (QS. Ash-Shaaffat: 40-43).

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.