masjid raya baiturrahman

Hatiku Terikat dengan Masjid

Drs. Muhammad Hafnawi:

Siapa tak kenal  Drs Muhammad Hafnawi (57), sosok agamis, tokoh Kampung Baru Banda Aceh, yang hatinya selalu terikat dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dia shalat berjamaah lima waktu. Begitu azan berkumandang, Pak Nawi (demikian ia disapa), langsung berwudhu’ di rumahnya dan mengayunkan langkah menuju Masjid Raya. Hal itu dilaksanakan sejak 15 tahun lalu. “Saya sudah biasa jalan kaki dari rumah ke Masjid Raya. Memang rumah saya hanya 500 meter ke selatan masjid, “ ujar Pak Nawi, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Atjeh Baru (ASPEDAB) sejak tahun 2010 sampai sekarang.

Pak Nawi memang sejak muda telah terikat hatinya dengan masjid, maklum sebelum berumah tangga, dia tinggal di Masjid Al-Qadar Peuniti, sebagai guru TPQ di sana  sebelum Tsunami, Hafnawi pernah menghabiskan waktu di Kuala Lumpur selama tiga tahun sebagai guru nganji di Yayasan Datok Anwar Ibrahim. “Disana saya menjadi imam dan guru Al-Quran,” katanya.

Mengenai shalat berjamah sudah biasa sejak maha- siswa.  “Saya tidak enak kalau shalat sendiri-sendiri di rumah, shalat berjamaah disamping sunnah rasul, juga menyenangkan hati saya. Sekarang, saya penduduk Gampong Kampung Baru, tempat Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh  Sulthan Iskandar Muda, tak enak rasanya kalau tidak meramaikan Masjid Raya, Hatiku terikat dengan masjid,” ujar alumni Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, jurusan Aqidah dan Filsafat (1989) ini.

Bukan hanya dia yang berjamaah di masjid, tetapi juga keluarganya, yang berumah tangga dengan Ir Nelli Kartika (alh), cucu ulama besar, Allahyarham Tgk H Jakfar Hanafi ah. Abu Jakfar Hanafi ah adalah salah seorang Ketua MUI Aceh zaman Prof Ali Hasjmy menjadi Ketua Umum. Abu Jakfar seorang tokoh ulama pembaharu yang sangat disegani pada zamannya. “Beliaulah yang mendidik kami untuk mencintai masjid,” kata Pak Nawi.

Menurut Pak Nawi, shalat di masjid berjamaah pahalanya, 25 sampai 27 derjat kelebihannya dibanding shalat sendiri. Hikmah lain, terjalin hablumminallah yang kuat dan hablumminannas yang ramah. “Jika boleh saya imbau, mari kita meramaikan masjid-masjid yang ada di Banda Aceh lima waktu shalat,” harpanya. Dengan makmurnya masjid, syiar Islam akan bertambah kuat, tambah Pak Nawi yang juga ayah dari lima putra putri yang sedang beranjak remaja. Mereka adalah Alya Amina, Fariha Dayana, Ahmad Afif, Wlda Athiya dan Isna Aklima.

“Cita-cita saya, mengajak ummat untuk meramaikan  dan memakmurkan masjid Allah.  Dari masjid kita membangun  moralitas  bangsa. Nilai-nilai shalat kita pancarkan dalam kehidupan sehar-hari, yakni nilai iman dan taqwa, Jika saya diberi kesempatan oleh Allah memimpin Kampung Baru, saya akan mengajak warga untuk menggalakkan shalat jamaah dan menghidupkan ekono- mi ummat,” tekadnya.

“Bagi penduduk yang bukan muslim juga bebas menjalankan agamanya masing-masing. Tasamuh (toleransi) akan saya jalin dengan saudara zimmi,” ujar Pak Nawi, yang mencalonkan diri sebagai salah seorang kandidat Keuchik, Periode 2017-2022. Menurut tokoh kelahiran Peudada, Bireuen (1960) ini, Kampung Baru sejak zanan dulu sudah dihuni oleh berbagai suku bangsa dan agama. “Jadi masyarakat kita adalah pluralisme, namun tetap dalam persatuan dan kesatuan,” tukasnya. (Ameer Hamzah)

comments

Post Author: Nurjannah Usman