Muallaf bukan Pengemis

Muallaf bukan Pengemis

GEMA JUMAT, 05 MEI 2017

Setiap orang yang masuk Islam dan menjadi Muallaf, tentu harus dibina sampai mereka benar-benar memahami tentang Islam. Kementerian Agama sekarang hanya bertindak sebagai regulator. Sedangkan, operator pembagiaan zakat menjadi otoritas Baznas.

Sebelum Undang-Undang Pengelolaan Zakat Nomor 23 Tahun 2011 direvisi Mahkamah Konstitusi, pengaturan dan pengelolaan zakat ada di tangan pemerintah.Tapi, sekarang kewenangan pengelolaan zakat diserahkan kepada badan amil zakat. Bagaimana tugas pemberdayaan dan pembinaan muallaf? Berikut wawancara Gema Baiturrahman dengan Ketua Forum Muallaf Aceh (Formula). Tgk Rasyid.

Menurut Anda, bagaimana pembinaan Muallaf selama ini?

Dalam amatan saya, para muallaf di Aceh yang masuk Islam seperti kurang mendapat pembinaan. Setelah masuk Islam mereka hanya diberikan selembar surat. Dengan surat itu para  Muallaf berkeliling kemana-mana (cari sedekah).

Seharusnya, setelah disyahdatkan, mereka diserahkan ke pesantren, atau dibina pemahaman aqidah dan ibdahnya dengan menggelar pengajian- pengajian khusus bagi muallaf.  Khusus para muallaf yang jadi binaan Formula, hanya dibina selama tiga tahun baik secara ekonomi atau keislaman mereka. Apabila setelah itu, belum juga berhasil secara ekonomi. Jelas ini masuk dalam katagori fakir atau miskin.

Caranya?

Yang lebih memahami Muallaf adalah muallaf sendiri, Jika selama ini ada bantuan dari pemerintah, sebaiknya bukan bantuan yang konsumtif saja, tapi lebih kepada bantuan yang bersifat produktif.  Bantuan produktif itu dapat disesuaikan dengan skill dan pekerjaan yang ditekuni masing-masing para mualaf. Misalnya, bagi muallaf tukang becak, pemerintah menyediakan becak, kalau ia pedagang, ya pemerintah men- support  modal usahanya.

Haruskah dibina oleh lembaga khusus?

Ya, seharusnya seperti itu. Dengan adanya lembaga khusus seperti Baitul Mal. Pembinaan akan lebih focus.  Kami pernah mengusulkan sebelumnya, setiap orang yang masuk Islam harus diurus oleh lembaga resmi Negara. Karna selama ini setiap oaring yang masuk Islam datang ke kami, kami bawa untuk bersyahadat dengan mengajak semua anggota dan pengurus Formula sehingga memberi nuansa bagus untuk mendukung semangat dalam masuk ke dalam agama Islam.

Kira-kira, berapa jumlah Muallaf di Aceh?

Dalam pendataan terakhir, Muallaf di Aceh lebih kurang sekitar 3 ribu orang. Mereka banyak tersebar di kawasan Aceh Tamiang, Langsa Aceh Tenggra dan Gayo Lues. Jumlah tersebut  belum valid semua, sebab masih banyak yang belum terdata. Misalnya para muallaf di beberapa kabupten lainnya.

Untuk pembinaan yang tepat, Apa saran Anda?

Dalam pemahaman kami, Muallaaf bukanlah peminta- minta. Masuk Islam itu karena Lillahi Ta’ala. Untuk mendukung pembinaan
Muallaf dibutuhkan perhatian dan pembinaan kontinyu dan serius dari pemerintah. Misalnya, untuk pembinaan Aqidah Akhlak misalnya, adanya Balai Pengajian khusus untuk Muallaf di setiap kabupaten kota, agar setiap muallaf dapat bela- jar dan menambah ilmu tentang pemahamannya terhadap islam. (Marmus)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.