Kebijakan Pemerintah Seimbang dengan Pertumbuhan Ekonomi

Kebijakan Pemerintah Seimbang dengan Pertumbuhan Ekonomi

GEMA JUMAT, 12 MEI 2017

Dr. Drs. TM. Jamil TA, M.Si

(Ketua Program Doktor Pendidikan IPS Unsyiah)

Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV dibuka Presiden Jokowi pada Sabtu, 6 Mei 2017 lalu. Ajang yang memamerkan capaian di bidang pertanian ini dengan seluruh subsektornya dihadiri oleh puluhan ribu peserta utusan dari berbagai daerah di Tanah Air.

Bagi Aceh, menjadi tuan rumah Penas XV memberi banyak manfaat, terutama secara ekonomi. Puluhan ribu tamu yang datang sangat membantu memberi daya dorong bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Beberapa lapangan usaha seperti akomodasi (hotel/penginapan) dan makan-minum, transportasi, perdagangan, dan komunikasi dipastikan berdenyut lebih bergairah karena adanya tambahan pendapatan. Simak wawancara sigkat Wartawan Gema Baiturrahman Indra Kariadi, dengan Dr. Drs. TM. Jamil TA, M.Si, Ketua Program Doktor Pendidikan IPS Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Apa dampaknya Penas XV bagi Aceh?

Penas XV ini adalah kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk meningkatkan perekonomian Aceh, apabila ada kenyaman, kondisi daerah dan welcomenya masyarakat Aceh terhadap masyarakat luar, maka akan terciptanya ekonomi yang baik pula. Salah satu event ini menunjukkan pada masyarakat luar bahwa Aceh nyaman. Momentum ini adalah momentum sangat besar untuk menarik investor luar, agar bisa menanam sahamnya di Aceh. Dengan cara menghadirkan investor luar datang ke Aceh adalah salah satunya dengan birokrasi dengan sistem yang tidak ke majemukan. Kalau kita lihat kondisi Penas XV dengan banyaknya masyarakat luar datang ke Aceh tentu akan meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat sendiri. Tentu mereka akan belanja di Aceh, dengan minimal belanja Rp. 500.000 saja, dengan massa yang datang ke Aceh 15.000 – 35.000 orang dengan waktu dari tanggal 06 – 11 mei 2017, bisa dibayangkan berapa pendapatan masyarakat dalam waktu 5 hari itu.

Mungkin pada waktu PENAS KTNA XV ini, mereka tidak mendapatkan hasil yang maksimal, tetapi itu adalah modal pertama untuk promosi dan publikasi untuk masyarakat luar, dengan cara akan di hubungi oleh perusahaan luar dengan cara memasokkan barang ke luar dengan jumlah yang besar.

Menurut Anda, Aceh sekarang sangat welcome dengan pendatang?

Belum ada sejarah masyarakat Aceh menolak orang yang datang ke Aceh untuk pergi bertamu. Lebih-lebih sifat masyarakat Aceh ini kesantunan, memuliakan jamee itu lebih mulia bagi masyarakat Aceh sendiri. Tidak ada bukti sejarah masyarakat Aceh itu menolak orang luar, tapi stigma yang berkembang di luar Aceh, bahwasanya Aceh itu menakutkan. Inilah yang dikatakan dengan persaingan bisnis, dengan cara orang tidak datang ke Aceh, lalu pergi ketempat mereka. Stigma ini harus dibuang, tidak ada alasan bahwa masyarakat itu sulit menerima orang luar untuk datang bertamu.

Yang perlu ditingkatkan oleh pemerintah adalah jangan mencari kesempatan, jika orang ingin berbuat banyak untuk masyarakat, tetapi pemerintah lebih mementingkan kelompok, jangan menyulitkan para investor untuk masuk ke Aceh, dengan cara membuat kebijakan daerah yang mempersulit para investor luar untuk menanam saham di Aceh. Ketika datang investor luar ke Aceh, maka mamfaatnya untuk orang banyak. Jangan selalu berbicara global, dan sangat penting untuk berbicara local. Sekarang kita sudah saatnya tidak diikat oleh sebuah komunal, yang mementingkan kelompok saja.

Bagaimana Aceh memamfaatkan event ini untuk peningkatkan ekonomi?

Ini adalah kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk belajar dengan cara berdiskusi dengan teman-teman luar, bagaimana cara promosi dan memasarkan keluar. Mungkin kesulitan bagi masyarakat adalah pada kapitalnya (modal), maka pemerintah harus memberikan fasilitas-fasilitas kemudahan, dengan cara meminjam uang di bank atau bantuan dalam berbagai kebijakan, kendala itu bisa diatasi.

Intinya masyarakat hari ini mau tidak untuk berbuat, kalau kebijakan banyak yang bisa dilakukan. Kemudian kebijakan pemerintah, ketika masyarakat mau berbuat, masih adakah kebijakan pemerintah yang menghambat kemauan dari masyarakat itu sendiri.

Pembelajaran yang didapatkan bagi masyarakat dari kawan-kawan diluar, untuk meningkatkan para petani dan nelayan di Aceh. Kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat bekerja sebaik mungkin dan jika kemauan masyarakat itu tinggi, maka pemerintah harus membuat kebijaka-kebijakan yang memudahkan masyarakat dalam mendapatkan modal dan lahan yang sesuai dengan pertumbuhan perekonomian masyarakat. Dengan cara menyiapkan lahan yang memadai, yaitu air yang teralir bagus untuk petani, dan waduk yang sangat memungkin untuk masyarakat bertani serta para nelayan.

Apa langkah kongkrit peningkatkan ekonomi petani dan nelayan?

Pertama, pemerintah itu harus berpijak kepada rakyat, karena pemerintah adalah orang yang di gaji oleh rakyat. Yang kedua, pemerintah jangan menutupi kegagalan mereka, tunjukkan pada masyarkat, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Dan yang ketiga, adalah konsisten dengan ucapan, apa yang dijanjikan untuk masyarakat itu yang diberikan. Selama ini kita melihat pemerintah selalu memberikan janji, tetapi tidak memberikan kepastian pada rakyat. Target dari pemerintah itu selama satu periode apa yang ingin dicapai, saya meminta kepada gubernur sekarang dengan gubernur yang baru, jangan lagi putus. Ketika ada kebijakan masa lalu yang bagus, maka itu dilanjutkan oleh gubernur yang baru, jangan diabaikan, yang baik diambil, yang tidak baik disesuaikan dan diperbaiki.

Bagaimana nasib pengusaha lokal?

Pengusaha selama ini kita melihat, mereka sulit sekali untuk bersaing dengan orang luar. Menurut saya pengusaha itu adalah orang yang memperkuat struktur ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat struktur pemerintah. Kenapa saya bilang, pengusaha adalah orang yang memperkuat struktur ekonomi, ketika struktur ekonomi kuat, ini tingkat keberlangsungan pemerintah juga terjamin. Nah, kesempatan terbaik yang harus digunakan pengusaha kita adalah belajar pada orang-orang sukses, bukan berarti pengusaha Aceh tidak sukses. Kita lihat hari ini sudah sangat banyak pengusaha Aceh yang sukses. Sekarang kendalanaya, kita lihat dibidang pemerintahan, maka lakukan regulasi dengan pemerintah. Dan juga, lakukan kerjasama dengan kampus yang mereka percayai dan yang ahli dibidangnya, dengan cara meminta pendapat pihak kampus. Pengusaha juga harus belajar pada kondisi-kondisi yang lalu, seperti PENAS KTNA XIV di Malang pada tahun 2014, itu adalah sebuah proses pembelajaran pada pengusaha Aceh, sehingga mereka yakin dengan apa yang mereka pelajari pada Penas yang lalu dan sekarang akan mereka coba praktekkan pada PENAS KTNA XV sekarang.

Pengusaha Aceh sekarang yang perlu kita berikan adalah semangat dari pemerintah. Pengusaha itu tidak perlu modal, tetapi mereka memerlukan kebijakan pemerintah yang memudahkan mereka untuk berbuat, jangan pemerintah mempersulit mereka dengan kebijakan yang ada. Pengusaha harus ciptakan kondisi mandiri, pengusaha yang baik itu adalah pengusaha yang bisa mewarnai pemerintah, jangan pernah pengusaha menjadi warna dari sebuah pemerintah. Dan yang terakhir saya mengharapkan kepada pengusaha mengambil momentum terbaik dari PENAS KTNA XV ini, dengan cara menciptakan satu produk yang siap untuk disaingi ke luar.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.