Ameer Hamzah

Di Ambang Ramadhan

GEMA JUMAT, 19 MEI 2017

Oleh: Abu Rayyan

Insya Allah pekan depan, 27 Mei 2017, kita akan masuk bulan suci Ramadhan 1438 Hijriah. Allah SWT telah mewajibkan puasa atas kita, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum periode Nabi Muhammad SAW. Tujuannya jelas, yakni supaya kita  bertakwa dan masuk surga.

Ramadhan ibarat bidadari yang turun dari surga. Bau wanginya sudah mulai terasa,  tercium harum seperti sejuta bunga. Kita rindu ingin memeluknya, mendekap erat sampai tiada jarak antara kita dan dia. Itulah tamsilan yang paling tepat melukiskan Ramadhan yang mulia. Ramadhan yang penuh berkah, bulan turunnya Alquran.

Ramadhan membawa sejuta pesona, siangnya bening bagaikan kaca, sebab dosa-dosa terhapus di  altar hati para pencinta. Malamnya bercahaya, terang benderang ibarat  pelita “kauqaba” yang menembus jiwa.  Betapa terasa nikmatnya waktu berbuka,  segelas air dan dua biji kurma telah kehilangan lapar dan dahaga. Shalat jamaah lima waktu, juga tarawih  ba’da Isya, sangat menenangkan jiwa, apalagi ada tambahan tadarus Alquran yang mulia.

Karena terbayang kedatangan ‘bidadari surga” itulah, menyebabkan ahli ibadah (abidin) mengurangi tidur malam. Motivasi ingin bersama Ramadhan telah membuat orang-orang beriman mempersiapkan diri. Kedatangan Ramadhan kita sambut dengan “birahi” keimanan dan dan ketakwaan yang memucak.  Hari “meugang” yang sudah mentradisi di negeri kita, adalah bukti kebahagian kedatanganmu Ramadhan. Darah-darah yang mencurat dari leher lembu dan kerbau adalah kesyukuran kepada-Nya. Meugang, tradisi yang tercelup iman sejati.

Bersama detik dan detak jantung Ramadhan, kita istighfar, tahmid, tahlil, dan takbir, bersama Ramadhan, kita tafakkur dan tadabbur, bersama Ramadhan kita tadarus Quran, kita ulangi hadis-hadis tentang  ketakwaan, bersama Ramadhan kita jalin ukhuwwah islmiyah dan wathaniyah.Bersama Ramadhan yang mulia, kita tercatat sebagai penduduk surga.

Oh Lailatul Qadar yang penuh rahasia, kapan kita bisa berjumpa?  Sebab  malam itu adalah malam turun Alquran, malam turun Jibril dan para malaikat yang banyak. Malam rahmat Allah tercurah memenuhi  bumi Ilahi. Sejahtera sampai menjelang fajar Siddiq. Itulah malam nyang lebih mulia dari seribu bulan bagi yang rindu Tuhan.

Doa-doa  yang kita panjatkan, zikir di siang dan malam Ramadhan yang  sering kita bacakan, mudah-mudahan menjadi “energy” untuk mencapai ketakwaan. Sebab hanya dengan takwa puasa dan shalat tarawih itu tidak sia-sia, hanya dengan trakwa, sedekah, infak dan zakat akan terbalas di Yaumil Akhirat. Mudah-mudahan!

 

 

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman