Latihan Puasa Pada Anak

Latihan Puasa Pada Anak

GEMA JUMAT, 26 MEI 2017

dr.Teuku Yusriadi, Sp.BA*)

Belajar berpuasa Ramadhan bagi anak-anak akan menjadi pondasi kuat tatkala menjalankan kewajiban itu saat sudah baligh nantinya. Tahap pertama, anak bisa diajari berpuasa menahan lapar dan haus hingga beberapa jam saja. Berpuasa dapat membentuk kepribadian anak. Dari sisi perkembangan kognitif, puasa mengajak anak berpikir kreatif. Pada perkembangan emosi, anak belajar pengendalian diri dan sisi pekembangan sosial, anak-anak diajari kepedulian. Melihat besarnya manfaat puasa tersebut, hendaknya para orang tua mendorong dan melatih putra-putrinya untuk berpuasa.

Puasa pada anak itu hanya sebagai latihan saja dan tidak boleh dipaksa.  “Mau sepuluh kali atau lebih buka puasa tidak apa-apa, namanya memperkenalkan. Puasanya bolong-bolong juga tidak apa-apa, yang penting tidak boleh ada tekanan.

Bagi anak yang bisa ikut berpuasa, orang tua harus menciptakan suasana lebih menyenangkan di rumah, sehingga anak tidak menganggap puasa itu menjadi sesuatu yang berat. Sambil menunggu berbuka, misalnya, ajak anak-anak bermain. Ini akan membuat anak lupa bahwa ia sedang puasa.

Abi dan Ummi, kewajiban berpuasa yang diikuti dengan aktivitas menahan lapar serta dahaga semestinya tidak membuat kita bermalas-malasan selama Ramadhan. Justru sebaliknya kita harus dapat menyiasati bagaimana caranya agar kita dapat selalu segar dan bugar  selama menunaikan ibadah puasa. Hal ini juga akan memengaruhi anak-anak kita yang sedang belajar untuk menjalankan ibadah puasa dengan semangat dan tidak mencari-cari alasan untuk membatalkan puasanya.

Dari Rubayyi binti Muawidz berkata:” Di pagi Asyura’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke kampung-kampung Anshar :” Siapa yang pagi ini dalam keadaan puasa maka sempurnakanlah puasanya, dan barangsiapa yang pagi ini dalam keadaan tidak berpuasa, maka berpuasalah pada sisa hari ini. Dan kamipun melakukan puasa Asyura’. Sebagaimana kami menyuruh puasa anak-anak kecil kami, dan kami beserta putra-putra kami berangkat ke masjid dengan menjadikan mainan dari kapas buat mereka, jika ada salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami berikan mainan itu kepadanya sampai masuk waktu berbuka” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Syafi’i, bersandar pada hadits Rasulullah yang memerintahkan para orang tua untuk menyuruh anak-anak mereka melaksanakan shalat pada usia 7 tahun dan memukul mereka karena meninggalkan shalat saat usia mereka menginjak sepuluh tahun. “Karenanya, anak dalam batas usia 7 tahun sampai dengan sepuluh tahun sudah dapat dilatih melaksanakan puasa.

Keadaan stabil di dalam tubuh manusia (homeostasis), memungkinkan melakukan berbagai kegiatan sehari-hari. Manusia bisa terjaga karena adanya glukosa. Glukosa merupakan sumber energi bagi otak, hati, otot, sel darah merah, dan sel lemak.

Otak dan sel darah merah tidak dapat memproduksi glukosa sendiri, tetapi tergantung pada kadar gula darah dalam tubuh. Sementara, kadar gula darah dalam tubuh bisa dipertahankan dengan mengonsumsi makanan.

Makanan yang dikonsumsi oleh anak dapat mempertahankan kadar gula darah dalam tubuh enam sampai delapan jam. Jadi, jika seorang anak, misalnya, makan sahur pada pukul 05.00, maka kadar gula darah dalam tubuhnya bisa bertahan sampai pukul 11.00. Setelah rentang waktu enam jam, untuk mempertahankan kadar gula darah, tubuh akan mulai memecah cadangan glukosa yang terutama disimpan di hati dan otot, yang disebut glikogen.

Enambelas jam setelah mengonsumsi makanan, atau yang disebut fase kelaparan dini, glukosa tidak lagi diambil tubuh dari cadangan yang disimpan di hati dan otot. Pada fase ini, sumber energi dapat berasal dari pemecahan lemak dan protein. Jika fase kelaparan berlangsung lama atau kronis, maka dapat terjadi gangguan tumbuh-kembang pada anak.

Pada tahun 2001, di Australia, beberapa ahli melakukan uji puasa pada anak mulai dari bayi usia 6 bulan sampai remaja usia 15 tahun. Hasilnya, bahkan bayi usia 6 bulan pun dapat menoleransi puasa sampai 24 jam. Artinya, anak sehat dapat melakukan puasa penuh tanpa berisiko mengalami hipoglikemia.

Bagi anak-anak pada dasarnya puasa tidak wajib, meski demikian mengajari mereka sejak dini agar berpuasa terbiasa merupakan perbuatan sunnah Nabi dan para salaf shalih as sepanjang mereka mampu menjalankannya.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.