Puasa Batin

Puasa Batin

GEMA JUMAT, 26 MEI 2017

Oleh Murizal  Hamzah

Insya Allah, besok  seluruh umat Islam akan menunaikan ibadah puasa. Kita semua sudah paham, ibadah wajib tahunan ini – selain ibadah sunah puasa Senin Kamis dan lain-lain – hanya diwajibkan kepada orang yang beriman. Suasana Ramadhan sudah terlihat di mana-mana hingga memasuki mall atau relung televisi. Alasannya, pusat bisnis menghormati bulan suci Ramadhan selain faktor bisnis yang luar biasa dalam merogoh isi kantong umat Islam. nama juga pengusaha, di mana ada peluang, di sana mereka hadir untuk menguras isi tabungan warga secara terhormat. Ada gula ada semut. Begitu kata peribahasa.

Sekedar ulang kaji, puasa secara bahasa berarti imsak alias menahan diri, mengendalikan diri. dalam dunia tasawuf, puasa bermakna mengendalikan hawa nafsu. jika tidak bisa mengendalikan diri, maka menjadi berbagai sumber kejahatan atau dosa. Baik dosa lahir yang melibatkan fisik atau dosa batin yang tersimpan rapat-rapat di hati yang berdampak merusak kesucian jiwa. Puasa yang hakiki adalah menahan masuknya makanan dan minuman ke mulut atau nutrisi melalui suntikan/selang yakni menghindarkan diri dari segala bentuk dosa.

Sebaliknya, jika yang berpuasa masih melakukan dosa melalui mulut, tangan atau pendengaran dan lain-lain, mereka disebut belum mengendalikan nafsu.tidak mengeluarkan kata-kata hina, fitnah atau sebagainya yang bisa membatalkan nilai-nilai puasa bahkan puasa.
Islam sangat menjunjung etika atau adab.

Suatu ketika, pada bulan puasa, seorang perempuan mencaci maki pembantunya. Ketika Rasalullah mengetahui hal itu, menyuruh seseorang memanggil wanita itu. Kemudian  Rasulullah bersabda, “makanlah makanan ini”. Wanita itu menjawab, “saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah.”

Rasululah bersabda lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa banyaknya orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Jika dulu caci maki atau fitnah dilontarkan secara langsung, maka kini dalam dunia teknologi, perbuatan tidak beradab bisa dilaksanakan secara cepat dan gampang. Cukup di ujung jari, maka kabar fitnah atau melanjutkan caci maki lebih cepat tersebar.

Menahan diri dari perkataan mengumpat butuh komitmen kuat.  Tidak cepat naik darah dan emosi mendengar sesuatu yang belum pasti.  Rasulullah bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa’!” (HR. Bukhari Muslim).

Melalui media sosial seperti WA, facebook, twitter dan sebagainya, kabar-kabar bohong atau nasihat lebih cepat tersebar dan murah. Jika kita berdakwah melalui kemajuan teknologi, maka ada nilai pahala.

Sebaliknya, jika kabar dusta yang kita bagi-bagi gratis ke pembaca, maka kita adalah bagian dari penerus kabar dusta  baik karena kita sengaja atau tidak karena kita terbatas ilmu terhadap yang kita sebarkan. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi yakni,

“Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”

Akhirukalam, marhaban yaa Ramadhan. Kita berusaha nilai-nilai ibadah puasa tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. sebab belum tentu kita bisa berjumpa Ramadhan tahun depan!

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.