Ameer Hamzah

Shalat Tarawih Sebagai Syiar

GEMA JUMAT, 26 MEI 2017

Oleh  H. Ameer Hamzah

Barang siapa mendirikan shalat tarawih dengan penuh keimanan dan harapan pahala dari Allah, maka akan terampuni dosa-dosanya yang terdahulu (HR. Bukhari).

SHALAT  TARAWIH adalah shalat sunat khusus pada bulan Ramadhan. Tidak ada shalat Tarawih di bulan yang lain. Jumlah rakaatnya, boleh delapan, 20, 36, bahkan 40, 47  rakaat. Terserah kepada para jamaah. Waktunya setelah shalat Isya. Setelah Tarawih dilanjutkan dengan shalat Witir tiga rakaat. Boleh juga di antara salam (dua rakaat) tarawih diisi dengan zikir dan doa.

Umumnya di masjid-masjid kota di Aceh ada dua model shalat Tarawih. Pertama mereka shalat delapan rakaat. Lalu ditutup dengan witir tiga rakaat. Kemudian yang ingin melanjutkan 20 masih diberikan kesempatan. Setelah 20 rakaat, ditambah Witir tiga rakaat. Cara ini lebih bijak, dan terhindar dari perpecahan umat. Jangan sampai gara-gara shalat sunat, kita tidak akur.

Menurut sejarah, Rasulullah SAW hanya tiga malam keluar ke masjid di bulan Ramadhan. Ketika beliau mengerjakan shalat malam, umat sudah banyak yang hadir dan shalat di belakang beliau. Malam kedua lebih banyak lagi, dan malam ketiga semakin ramai. Karena dikhawatirkan shalat itu diwajibkan, maka beliau tidak keluar di malam yang keempat. Pada waktu shubuh beliau bersabda: Tadi malam aku mengetahui, bahwa kalian berkumpul di masjid. Saya sengaja tidak ke luar, sebab saya khawatir, shalat ini diwajibkan atas kalian, sedangka kalian tidak mampu mengerjakannya.(HR:Bukhari – Muslim).

Kebanyakan ulama shalaf berpendapat, shalat tarawih itu 11 rakaat. Mereka berpedoman kepada hadis riwayat Ummul Mukminin, Aisyah ra. Aisyah ditanya, berapa rakaat Rasulullah shalat malam, Aisyah menjawab: Rasulullah shalat malam tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 rakaat pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya…(HR:Bukhari-Muslim). Imam Ibnu Taimiyyah memilih 20 rakaat. Itulah yang lebih baik, menurut ulama tersebut. Imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali)  konon cenderung ke 20 juga. Mereka mengikuti ijtihad  Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Shalat tarawih adalah shalat yang digalakkan umat Islam pada bulan Ramadhan. Ia menjadi syiar Islam yang sangat semarak. Antara shalat Isya dan Tarawih, juga ada ceramah singkat. Ini juga baik untuk mengingatkan kaum muslimin. Berbagai tema dapat kita masukkan dalam ceramah  Tarawih tersebut, kecuali khilafiah dan menghina sesuatu golongan. Ceramah Ramadhan sebaiknya dihindari lucu, karena tertawa dalam masjid hukumnya haram.

Tarawih di Masjid Raya

Tarawih di Masjid Raya Baiturrahman sebelum tahun 1996 Cuma delapan rakaat, tambah tiga witir. Waktu itu Imam Besar Tgk. H. Soufyan Hamzah.  Organisasi Rabithah Thaliban Aceh meminta supaya juga dibolehkan 20 rakaat. Akhirnya pengurus Masjid Raya Baiturrahman bermusyawarah dengan organsasi Thaliban Aceh.

Tokoh-tokoh yang hadir dalam Musyawarah tersebut antara lain;

  1. H. Soufyan Hamzah (Imam Besar)
  2. Sanusi Hanafi (Kepala Sekretariat MRB).
  3. Ali Hasjmy (Ketua MUI)
  4. H. Alyasa’ Abubakar, MA (IAIN Ar-Raniry).
  5. Muhammad Ismy (Abu Madinah).
  6. Imam Suja’ (Ketua Muhammadyah Aceh)
  7. Bulqaini Tanjungan (Rabithah Thaliban Aceh)
  8. Ameer Hamzah (Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman)
  9. Drs .Ridwan Johan (Sekretaris Umum Remaja masjid Raya Baiturrhman).
  10. Para Pengurus Rabithah Thaliban lebih kurang 20 orang).

Dalam musyawarah tersebut mencapai kata sepakat. Mulai tahun 1996, Shalat Tarawih di Masjid  Raya dilanjutkan sampai 20 rakaat, tambah witir tiga rakaat. Setiap malam dipasang dua orang Imam. Imam pertama memimpin smpai delapan rakaat, dan imam kedua melanjutkan sampai selesai shalat 20 rakaat. Bagi yang shalat hanya sampai delapan rakaat, boleh sahalat witir di luar shaf (di belakang), boleh juga mengikuti shalat Tarawih rakaat Sembilan dan sepuluh, kemudian bangkit untuk rakaat ketiga shalat witir.

Dalam musyawarah  perubahan Shalat Tarawih waktu itu, baik pihak pengurus Masjid raya Baiturrahman maupun pihak Rabithah Thaliban Aceh memilih saya (Drs. Ameer Hamzah) menjadi Ketua Tim Perumus. Hasilnya waktu itu dipublikasikan di Harian Serambi Indonesia.[]

 

 

 

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman