Ramadhan Bulan Pendidikan

Ramadhan Bulan Pendidikan

GEMA JUMAT, 02 JUNI 2017

Tgk. Syamsul Bahri,  MA (Mahasiswa Doktoral PAI Multikultural, Universitas Islam Malang – Jawa Timur)

Mengisi Ramadhan dengan meningkatkan amal ibadah untuk menggapai predikat takwa dengan melakukan shalat sunnah, berinfak dan bersedekah, bukan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan keperluan lebaran seperti baju baru, perabot baru, aneka kue, minuman yang berwarna warni dan lain sebagainya.

Bulan Ramadhan ini kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan ini sebagai bulan yang produktif baik secara amalan maupun secara duniawi, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya. Simak wawancara singkat Wartawan Gema Baiturrahman, Indra Kariadi  dengan Mahasiswa Doktoral PAI Multikultural, Universitas Islam Malang – Jawa Timur, Tgk. Syamsul Bahri, MA. Bagaiman cara menjadikan Ramadhan ini adalah bulan puasa yang produktif?

Bagaimana meningkatkan produktifitas pada saat berpuasa?

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keagungan.  Allah telah menjanjikan kepada kita, kalau benar-benar melaksanakan puasa maka akan diberikan gelar taqwa (muttaqin).  Dengan demikian segala aktifitas kita akan diganjar pahala dua kali lipat berbeda dari bulan-bulan yang lain.  Apapun pekerjaan yang kita lakukan, misalnya kita bertani,  berdagang, mengajar dan lain-lain akan diganjar dengan pahala itu. Maka etos kerja kita pada bulan ini perlu ditingkatkan.  Perlu fokus dan punya tujuan.  Bukan justru sebaliknya bermalas-malasan. Karena dengan bekerja selain akan mendapatkan imbalan pahala yang banyak dari Allah swt, juga akan menghasilkan sesuatu dalam bulan ini.

Apa saja prestasi umat Islam pada bulan Ramadhan?

Terbukti bahwa etos kerja dapat meningkatkan produktivitas kita pada bulan Ramadhan. Kita lihat sejarah misalnya kemenangan perang Badar pada masa Rasulullah terjadi pada bulan ini. Kita harus mengaca pada keberhasilan itu. Bagaimana mungkin di tengah lapar dan haus di medan peperangan tapi umat Islam waktu itu bisa menang. Meskipun Rasulullah memberikan keringanan yaitu memperbolehkan membatalkam puasa. Tapi para sahabat banyak yang puasa. Karena itu puasa bukanlah halangan untuk bekerja.  Bahkan terjadi sebaliknya,  dengan berpuasalah kaum muslimin mencapai kemenangan. Banyak contoh-contoh yang lain misalnya perang salib,  kaum muslimim bisa mengalahkan tentara salib dalam bulan ini.  Begitu juga perang memperoleh kemerdekaan RI terjadi di saat kaum muslim menjalankan ibadah puasa.

Bagaimana agar puasa kita tetap terjaga?

Puasa tidak saja menahan diri dari makan dan minum. Lebih dari pada itu kita perlu menahan diri dari segala yang dapat mengurangi pahala puasa. Rasululllah pernah menyebutkan bahwa “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”  Kita tentu saja tidak ingin puasa kita sia-sia. Oleh karena itu agar puasa kita tetap terjaga kita harus menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Shalat lima waktu kita lakukan tepat waktu dengan berjamaah. Setelah shalat kita jangan beranjak dulu melainkan kita sisihkan sedikit waktu untuk membaca al-Qur’an. Membaca al-Qur’an menjadikan hati kita tenang.  Selalu membacanya maka hidup kita penuh ketenangan. Hal positif lainnya memperbanyak sedekah. Memberi makan orang berbuka puasa. Membangun silaturahim.  Berbicara yang baik-baik kepada siapa saja atau diam.

Awal Ramadhan masjid penuh, namun seiring berakhir Ramadhan Jamaah juga turut berkuran, Pandnagan Anda?

Kejadian seperti itu sudah lazim terjadi di daerah kita.  Sudah menjadi budaya, awal-awal puasa penuh mesjid atau meunasah. Bahkan sepuluh terakhir orang kita sudah sibuk berbelanja, sibuk buat kue.  Bukan tidak boleh, itu boleh,  tapi jangan menghilangkan ibadah-ibadah utama misalnya puasa,  tarawih,  tahajud dan tadarrusan al-Qur’an. Seharusnya semakin berlalu hari puasa semakin kuat ibadah kita.  Apalagi Rasulullah telah menjamin bahwa 10 pertama bulan ramadhan adalah rahmat,  10 kedua adalah maghfirah dan 10 terakhir adalah itqun minannar atau lepas dari api neraka. Dengan demikian, seharusnya ibadah kita semakin meningkat. Nah, ini harus kita dakwahkan kepada saudara-saudara kita semua.

Menjaga kebiasaan baik selama Ramadhan untuk bulan-bulan berikutnya?

Caranya sebenarnya cukup sederhana.  Apa saja ibadah yang kita lakukan pada bulan ini tetap kita lakukan pada bulan yang lain.  Misalnya puasa senin kamis, sedekah, tadarusan al-Qur’an dan ibadah shalat lima waktu secara berjamaaah di samping shalat-shalat sunnah lainnya. Kita harus pasang target berapa ayat kita baca al-Qur’an dalam sehari. Puasa ini juga mendidik kita untuk hidup disiplin.  Disiplin bekerja dan beribadah. Nah kalau dalam bulan ini sudah benar-benar menjalankan ibadah, maka akan kita dapatkan perubahan untuk bulan-bulan selanjutnya. Dan kita harus selalu berdoa kepada Allah swt agar diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah dan selalu berharap agar istiqamah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.