Ramadhan Bulan Pendidikan Umat

Ramadhan Bulan Pendidikan Umat

GEMA JUMAT, 02 JUNI 2017

Tidak diragukan sedi kitpun, bahwa ramadhan adalah bulan pendidikan bagi semua orang beriman. Allah memanggil semua orang beriman dengan penuh kelembutan;“Ya ayyuhaal-ladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman). Kemudian, Allah menetapkan dengan tegas
materi pembelajaran pada bulan ramadhan, yaitu: “kewajiban menunaikan ibadah puasa bagi semua orang beriman sebagimana diwajibkan kepada umat sebelumnya”. Tujuannya adalah
agar mereka bertaqwakepada Allah”. Inilah inti dari fi rman Allah dalam Q.S. 2: 183.

Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, H. Sholeh Hidayat, mentakan Allah Swt, menyediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya
mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim.

Sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) sekurangkurangnya menurut nya, ada enam nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa ramadhan; Pertama; puasa mengembangkan kecerdasan emosi. Sesuai hakikat puasa puasa adalah menahan diri dan menahan hawa nafsu bukan membunuh hawa nafsu, puasa mendidik manusia agar dapat melakukan pengendalian
diri (self controll) dan pengaturan diri (self regulation).

Kedua; puasa mendidik kejujuran. Orang yang sedang berpuasa atas dasar imanan wahtishaban,
ia tidak akan makan dan minum serta melakukan hal-hal yang membatalkan puasa betapapun tidak ada orang yang melihat dan tidak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Allah.

Ketiga: puasa mendorong dan mendidik manusia agar selalu belajar dalam rangka memperoleh dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada bulan pusa ramadhan ini terdapat peristiwa turunnya al-Quran (Nuzulul Qur’an), Alqur’an surat Al-Alaq: 1-5 sebagai
ayat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad Saw menjadi bukti agar manusia mau belajar.
Keempat, puasa mendidik kesetaraan. Dalam ibadah puasa, Islam memandang manusia memiliki kesamaan derajat. Mereka yang memiliki banyak harta, status sosial yang yang tinggi, memiliki dolar, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau bahkan orang yang tak memiliki sepeserpun ketika sedang berpuasa , tetap merasakan hal yang sama yaitu : lapar dan haus.

Kelima, puasa mendidik sikap disiplin. Puasa adalah ibadah paling rahasia di mata manusia, yang bisa menumbuhkan sikap disiplin diri, merasa diawasi (muraqabah) oleh Allah. Sikap ini akan memunculkan perasaan ada pengawasan diri sendiri dan saat mengawasi itu kitapun sadar bahwa kita sedang diawasi oleh Zat Yang Maha Mengetahui segala-galanya.

Keenam; puasa mendidik sabar, betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman meskipun itu halal melainkan kita harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba.

Pendapat senada juga disampaikan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Tgk H. Syabuddin Gade,MA mengatakan, ada tiga dimensi pendidikan dalam bulan Ramdhan, Pertama, demisnsi “hablun min Allah”. Bagi seorang mukmin tidak cukup mengucapkan dua kalimah syahadah saja, tetapi juga sekurangkurangnya wajib mengakui sekaligus menegakkan “ibadah mahdhah” dengan tulus ikhlas karena Allah(seperti menegakkan shalat, puasa, zakat dan menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu). Dan, akan lebih sempurna lagi, sekiranya seorang mukmin juga melaksanakan ibadah nawafil(ibadah sunnah, seperti shalat rawatib, shalat sunnah lainnya, rajin membaca al-Qur’an, berzikir, istighfar dan sebagainya).

Karena itu, sangat disayangkan bila saudara-saudara kita seiman masih mengabaikan perintah agama dalam konteks “hablun min Allah”, misalnya jarang/ tidak menegakkan shalat dan enggan berpuasa, bahkan ada yang tersesat, dsb. Untuk itu, khatib mengajak diri, jama’ah
jum’at sekalian dan seluruh umat Islam yang mendengar siaran khutbah ini agar terus menerus menjaga dan menegakkan “hablun min Allah” dengan tulus dan ikhlas, baik dengan melaksanakanibadah mahdhah maupun ibadah nawafi l. Marilah pada bulan mulia ini kita memetik pahala yang berlipatganda, meraih rahmah, maghfirah dan mengejar ridha Allah sebagai bekal kita di akhirat kelak! Bersegeralah kita mengambil kesempatan ini, karena kita tidak tahu apakah setelah hari ini kita masih hidup ataupun tidak?

Dimensi Kedua, kata Syahbuddin adalah “hablunmin al-nas. Artinya, melalui puasa ramdahan Allah mendidik kita agar aktif dan kreatif menegakkan “hablunmin alnas”(hubugan antar sesama manusia) dengan sebaik-baiknya. Kita diminta berpuasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami-isteri dan hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi
juga diminta memperkuat “hablun min al-nas” dengan cara menjauhkan diri dari dusta, mengumpat, adu-domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. Sebab, kelima hal ini bukan hanya menggugurkan pahala orang berpuasa (Imam al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab,: 6/356), tetapi juga bisa menjadi pemicu rusaknya hubungan antar sesama. Betapa banyak kasus dalam kehidupaan sehari-hari di mana gara-gara “dusta”, “mengumpat”, “adu domba” atau “sumpah palsu” menjadi pemicu putusnya silaturrahim?

Untuk memperkuat “hablun min al-nas”, melalui puasa ramadhan kita juga dididik menjadi manusia berjiwa sosial. Kita diwajibkan membayar zakat fitrah,disunnahkan memberi makan orang buka puasa dan bersedekah.Ini semua mengandung nilai sosial kepada sesama. Bahkan, jika kita yang mampu mau mengumpulkan “jatah makan siang” selama bulan ramadhan untuk kepentingan ekonomi fakir miskin, maka akan memberi manfaat luar biasa kepada mereka. Jika
diandaikan “jatah makan siang” misalnya Rp.10 ribu per orang, kemudian dikalikan 1 juta rakyat Aceh yang mampu dan mau bersedekah, kemudian dikalikan 29 hari, maka akan terhimpun dana sebanyak Rp. 290 milyar. Infaq sebanyak ini tentu bisa dijadikan sebagai modal pemberdayaan ekonomi fakir miskin di Aceh. Coba bayangkan jika hal ini terlaksana setiap tahun? Tentu akan sangat bermanfaat bagi para fakir miskin dan pahala dari Allah-pun luar biasa tercurahkan.

Dimensi terakhir, Ramadhan menjadikan puasa sebagai perisai (junnah). Sesungguhnya puasa itu adalah tameng atau perisai yang melindungi seorang Muslim dari melakukan setiap kekeliruan, kemaksiatan dan dosa. Sebab jiwa orang berpuasa akan merasa diawasi oleh Allah
dan merasa akut akan pahala puasanya ketika jika melanggar perintah Allah. Dbs/Marmus

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.