Menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran

Menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran

GEMA JUMAT, 09 JUNI 2017

Nuzulul Qur’an adalah suatu momentum di bulan Ramadhan yang sering diperingati oleh umat Islam untuk mengenang turunnya al-Quran. Penyebutan Nuzulul Quran untuk merujuk kepada sejarah turunnya al-Quran yang secara bervariatif semua pendapat menyebutnya pada bulan Ramadhan. Padahal tujuan al-Quran diturunkan bukanlah diperingati, yang terpenting adalah bagaimana Al Quran ditadabburi atau direnungkan sehingga bisa memahami, mengambil ibrah dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya.

Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Syamsul Rijal, M.Ag, mengatakan, penafsiran al-Quran bukan dengan “selera” terbatas memahami ayat secara
tekstual tetapi haruslah didukung oleh kemampuan ilmu pendukung untuk itu. Misalnya ilmu lughah (fi lologi) ilmu yang dapat memahami arti setiap kata al-Quran. Demikian juga dengan ilmu Nahwu, Saraf, Isytiqaq, Ma’ani, Bayan, Qiraat, Ushul Fiqh, Asbab al-Nuzul, Nasikh Mansukh, Fiqh, Hadist, dan lainnya.” ujarnya kepada Gema Baiturrahman, Rabu (7/6) kemarin.

Guru besar UIN Ar Raniry ini menjelaskan, fungsi dari sebuah perguruan tinggi islam dalam mencetak ahli tafsir al-Quran, “semua ilmu sejatinya dikuasai oleh seseorang yang ingin mendalami al-Quran dan menjadikannya ahli dalam menafsirkan al-Quran. Secara akademik
ilmu dasar tentang al-Quran itu semua diajarkan di prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry di jenjang strata satu. Pada level ini tentu belum mengantarkannya menjadi ahli tafsir, oleh karena itu dianjurkan untuk melanjutkan
ke jenjang lebih tinggi lagi”, ujar mantan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry.

Dari sisi ilmu yang didapatkan, masih sebatas memahami secara tafsir yang sudah ada. “Dalam level tertentu yang ditawarkan dalam sistem kependidikan kita baru sebatas melahirkan sarjana intelektual yang memahami secara ahli tafsir yang telah ada. Nah, untuk menjadi seorang yang ahli dapat melahirkan kitab tafsir tentu dibutuhkan proses transformasi ilmu yang telah dipelajari tersebut. Di Indonesia ada tafsir Misbah (Quraish Shihab) tafsir al-Azhar (Hamka), dan tafsir An-Nur (Hasbi ash-Shiddiqie) yang terakhir ini adalah putera Aceh.,” tutur Prof. Syamsul.

Menurutnya, untuk melahirkan intelektual yang sampai memgantarkannya kepada ahli Tafsir tidaklahmudah tidak cukup oleh lembaga PTKIN tetapi juga harus disupport oleh pemerintah dalam sebuah proses transformasi ilmu yang telah dimiliki itu sehingga mengantarkannya sebagai ahli Tafsir.

“Padahal menurut hemat saya dalam dinamika kehidupan sosio-religi ke-Acehan diperlukan pakar Tafsir yang melahirkan tafsir kontemporer yang dapat memetakan problematika kehidupan kontemporer ke-Acehan sebagai jawaban tantangan zaman terkini.,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebenarnya kalau kader intelektual yang mengetahui tafsir ada di Aceh itulah mereka yang menekuni prodi ilmu al-Quran dan Tafsir dan untuk mengantarkan mereka menjadi ahli Tafsir yang melahirkan kitab tafsir tersendiri dengan proses transformasi ilmu. “Dengan spirit Nuzul al-Quran semoga menjadi bahan renungan dan kajian kita bersama menuju lahirnya ahli yang melahirkan kitab tafsir dari kalangan warga Aceh sendiri.,” jelasnya.

Paparnya, disamping menghafal al-Quran dengan seni ilmu tersendiri, memahami pesan al-Quran juga dengan ilmu tersendiri. Lazimnya para ahli tafsir yang memiliki kitab tafsir
juga hafi dz alquran. “Hafal dan memahami al-Quran serta mengamalkan pesan al-Quran adalah keutamaan seorang yang mendalami al-Quran dengan ilmu tafsir serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Prof. Syamsul

Pihaknya meminta kepada pemerintah perlu mengembangkan kelembagaan ilmu Quran, “misalnya, kita telah memiliki lembaga tilawatil Qur’an, tentu diperlukan juga lembaga
hifdzul Quran dan pada gilirannya diperlukan lembaga yang memguatkan intelektual ahli al-Quran menuju lahirnya tafsir Qur’an. Dalam konteks transformasi nilai keislaman dalam memenuhi kebutuhan dinamika sosio-religi tentu hal itu sangat memungkinkan dikaji dan dibentuk lembaga ilmu Quran,” tuturnya.

Senada dengan Prof. Syamsul, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Nahdlatul Ulama Aceh. Tgk. H. Muhammad Hatta, Lc., M.Ed, menjelaskan, prinsipnya, Al-Quran yang merupakan kalamullah. “Tidak cukup hanya dihafal, tetapi lebih penting dari itu, kita dituntut untuk dapat memahaminya,” tuturnya.

Alumni Dayah MUDI Mesra Samalanga ini menambahkan, banyak ayat yang tergandung dalam al-Quran yang berbunyi, afala yatadabbarunal quran, yang menjelaskan sebagai tuntutan bagi kita untuk mendalami kandungan isi al-Quran.

Para ulama sudah menjelaskan, tidak semua kita bisa dengan mudah dalam menafsirkan al-Quran. “Banyak ilmu yang mesti dimiliki selain juga memperhatikan hadist Nabi Muhammad saw yang berkaitan dengan substansi ayat yang akan ditafsirkan,” ujar anggota MPU Aceh.

Paparnya, di samping itu, salah satu ulama ahli tafsir menjelaskan dalam kitab al-Itqan fi ulumil Quran karangan Imam Jalaluddin al-Sayuthi, menyebutkan beberapa syarat menjadi mufassir atau ahli tafsir.. antara lain: “Akidah yang benar, tidak mengikuti hawa nafsu, berniat baik dan bertujuan benar, berakhlak mulia, tawadhu dan lemah lembut, aspek Intelektual, dan bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek,” tutupnya. Indra Kariadi

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.