Ameer Hamzah

Perang Badar dan Tewasnya Abu Jahal

GEMA JUMAT, 16 JUNI 2017

Oleh H. Ameer Hamzah

sesungguhnya Aku akan mengirim bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut… Sesungguhnya Aku bersama kamu. Maka teguhkanlah pendirian orang- orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan dalam hati orang-orang kafi r (QS Al-An- fal[8]:9 dan 12).

PERANG Badar meletus  antara kaum muslimin pimpinan Rasulullah SAW dan kaum musyrikin Mekkah di bawah pimpinan Abu Jahal Bin Hisyam. Rasulullah SAW bersama tentaranya  menuju Badar tanggal 12 Ramadhan dan tiba disana  tanggal 17 Ramadhan  2 H. Untuk menghadang kaum kafi r yang selama ini selalu mer- ugikan Islam.

Ini adalah perang per- tama yang sangat menentukan masa depan Islam. Rasulullah SAW  berdoa agar Al- lah SWT memberi bantuan dan me- menangkan perang ini. “Ya Allah, jika golongan ini (umat Islam) kalah pada hari ini, maka tidak ada lagi yang menyembah-Mu.  Ya Allah,  sesung- guhnya aku memohon kepada-Mu, sesuai  janji yang Engkau berikan ke- padaku, hancurkanlah musuh-musuh- Mu ya Allah!”. Rasulullah mengang- kat tangannya tinggi-tinggi, sehingga purdahnya jatuh dari pundak.

Abubakar Siddiq yang satu kemah (tenda) dengan Rasulullah SAW mem- benahi purdah Nabi smbil berkata. “Cukup wahai Rasulullah! Engkau telah memohon  penuh harap kepada Rabbmu, Allah telah mendengar dan mengabulkan doamu.” Rasulullah masih berujar: Ya Allah, hancurkan musuh-musuh-Mu dan menangkan tentara Islam.(Kitab: Ar-Rahiqul Mak- tum, Shafi yurrahman Al-Mubaraqfuri).

Jumlah terntara yang dimiliki Rasulullah hanya 314 orang dengan senjata pedang dan iman yang teguh, sedangkan orang-orang musyrikin me- miliki kekuatan yang sangat dahsyat, empat kali lipat yakni 1.400 porsonel. Mereka sangat congkak dan mengang- gap remeh umat Islam yang dipimpin oleh Rasulullah. Dua pasukan ini ber- temu di Badar (nama tempat), maka perang ini dinamakan perang Badar.

Doa Rasulullah SAW dikabulkan oleh Allah SAW, perang berlangsung sangat dahsyat,  kedua belah pihak mu- lai terluka dan tewas. Kaum Muslimin terus menerus bertakbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Sangat bergemuruh sehingga hati kaum kafi r itu menjadi kecut. Pasukan kafi r sudah cukup banyak yang tewas, sementara pihak muslimin yang syahid sangat sedikit. Kemenangan pihak Islam mu- lai nampak.

Mengenai perang Badar telah men- dapat bantuan dari Allah berupa tenta- ra dari langit yakni para malaikat yang jumlahnya sampai 1.000 orang. Allah berfi rman:  Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu ketika itu ada- lah orang-orang yang lemah. Karena itu hendaklah kamu tetap bertakwa kepada Allah dan hendaklah kamu selalu mensyukurinya. (QS Ali Imran [3]:123).

Perang Badar  berakhir dengan kenenangan kaum muslimin secara tel- ak. Pihak kafi r tewas 70 orang dan di- tawan 70 orang pula. Panglima mereka Abu Jahal  juga tewas. Sementara pihak Islam hanya  syahid 14 orang. Rasulullah dan pasukannya sangat gembira dengan kemenangan perang pertama ini.

Abu Jahal Ketahuilah, sungguh jika dia (Abu Jahal) tidak berhenti (memusuhi Ra- sulullah), nicaya Kami akan menarik ubun-ubunya. Yaitu ubun-ubun orang yang mendustai lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya untuk menolongnya, kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniah. (QS. Al’Alaq [96]:15—18).

Abu Jahal dan kawan-kawannya terus berjuang melawan Rasulullah SAW. Dalam perang Badar. Bersama sisa pasukannya dia berujar. “Kecera- han hari berperang tak akan pudar bagiku/Akulah unta perkasa, baru dua tahun usiaku/ untuk itulah aku dila- hirkan ibuku”. (Kitab Fiqus-Sirah: Syeikh Muhammad Al-Ghazali).

Ketakutan terus menyelimuti hati musuh-musuh Islam, mereka mundur karena tak mampu  melawan kemam- puan tentara-tentara Islam yang ahli menunggang kuda dan mengayung pedang. Tentara-tentara muda yang terbang menebas leher-leher mereka. Rupanya para malaikat yang menyeru- pai diri seperti manusia. Siapa yang mampu mengalahkan malaikat?

Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin ‘Auf dalam hadits Bukhari bercerita: Dalam perang Badar aku turut dalam barisan kaum muslimin. Dua anak muda remaja selalu ada di kanan dan di kiriku. Tiba-tiba seorang di antara keduanya bertanya kepadaku. “Wahai paman, tunjukkan kepada saya yang mana Abu Jahal?”. Aku bertanya: “Wahai pemuda, apa yang hendak engkau lakukan terhadap dia?” Ia men- jawab: ”Saya telah berjanji kepada Al- lah, bila saya melihat Abu Jahal akan saya bunuh atau aku mati dibunuh olehnya.”

Selanjutnya Abdurrahman bin ‘Auf menunjukkan tampang Abu Jahal. Seketika itu juga dua anak muda terse- but menyambar Abu Jahal, laksana dua ekor elang dan memukulnya dengan pedang. (Diperkirakan dua anak muda itu adalah malaikat). Abu Jahal jatuh tersungkur dan meringis. Mereka men- inggalkan Abu Jahal dalam kedaan sekarat, dan terus berperang mem- bunuh lainnya.

Abdullah bin Mas’ud, sahabat Ra- sulullah yang bertubuh kecil, lemah dan pincang melihat Abu Jahal masih hidup, sedang minta ditolong. Lalu ia menginjak dada Abu Jahal sambil berkata; Hai musuh Allah, apakah engkau merasa telah dinista oleh Al- lah?” Abu Jahal bertanya: perang ini siapa kalah?  Ibnu Mas’ud menjawab: kemenangan di pihak Allah dan Ra- sul-Nya.

Tanpa banyak bicara lagi, Abdul- lah bin Mas’ud menancapkan pedang ke dada Abu Jahal, kemudian memo- tong lehernya sampai putus. Kepala Abu Jahal diseret oleh Abdullah Bin  Mas’ud ke hadapan Nabi. Rasulullah senang dengan kematian musuhnya. Beliu memerintahkan agar Abu Jahal dikebumikan dalam sumur tua dan kering yang bernama Qalib  bersama sejumlah dedengkot kafi r yang lain.

Rasulullah berdiri di pinggir sumur dan berkata: Hai penghuni Qalib, hai Abu Jahal, hai Uthbah bin Rabi’ah, hai Syaibah bin Rabi’ah, hai Umayyah bin Khallaf, bukankah sekarang kalian telah menyaksikan kebenaran yang dijanjikan Allah. Aku telah menerima kebenaran yang dijanjikan kepadaku”.  Beberapa sahabat bertanya: “Men- gapa Anda berbicara dengan orang telah dikubur?” Rasulullah menjawab: “Kalian tidak lebih mendengar per- kataanku daripada mereka. Hanya saja mereka itu tidak bisa menjawab”.

comments

Post Author: Nurjannah Usman