Ramadhan Bulan Sucikan Jiwa dan Harta

Ramadhan Bulan Sucikan Jiwa dan Harta

GEMA JUMAT, 16 JUNI 2017

Ramadhan bulan penuh keberkahan. Allah melipatgandakan pahala atas amalan kebaikan setiap hambanya. Alangkah sedihnya bila di bulan suci ini seorang hamba tidak memperbanyak ibadah seperti sedekah, menahan nafsu, salat sunah, serta perbuatan kebaikan lainnya.

Dr Bukhari Daud M Ed menuturkan Ramadhan merupakan bulan untuk melatih diri mengontrol hawa nafsu, baik itu seks, marah, lapar dan haus, dan sebagainya. Jiwa yang kotor disebabkan oleh hawa nafsu. Nafsu cenderung membawa seseorang ke arah yang bertentangan dengan perintah Allah. Oleh Karena itu nafsu itu harus dikontrol.

Katanya, nafsu amarah berasal dari syaitan yang diciptakan dari api. Untuk meredakan amarah dianjurkan berwudhu. Seperti halnya memadamkan api menggunakan air. Seseorang boleh saja marah, tapi jangan mengumbarnya. Orang yang mampu mengontrol amarahnya mendapat pujian dari Allah. “Berlatih diri di bulan Ramadhan, supaya di luar Ramadhan lebih bisa menahan diri. Marah itu berasal dari syaitan,” tuturnya kepada Gema Baiturrahman, Kamis (15/6) di Banda Aceh.

Ia menambahkan, harapan setelah Ramadhan, umat Islam bisa kembali ke fitrah, seperti dilahirkan kembali. Namun, waktu menyucikan diri bukan hanya di bulan Ramadhan. Ramadhan ini adalah masa training supaya berdampak positif dalam kehidupan seorang hamba selamanya. “Orang yang menang adalah orang yang mampu mengendalikan diri setelah Ramadhan. Tapi kalau setelah Ramadhan kembali mengikuti nafsu, ia akan tergilas oleh nafsunya sendiri,” tutupnya.

Menyucikan Harta

Kehadiran Ramadhan juga menjadi momentum yang baik untuk menghitung nisab zakat harta. Sebab, penghitungan nisab zakat menggunakan kalender hijriah. Penghitungan zakat ini bisa dibarengi dengan penghitungan zakat fitrah yang dilaksanakan empat atau tiga malam sebelum hari raya idul fitri.

Kepala Baitul Mal Kota Banda Aceh Tgk Safwani Zainun menuturkan, zakat, infaq, dan sedekah merupakan metode untuk menyucikan harta. Di dalam Alquran, Allah mengulangi tentang kewajiban membayar zakat lebih 80 kali, 30 kali diulangi beriringan dengan kewajiban melaksanakan salat. “Islam yang mengakui kepemilikan (harta). Karena mengakui kepemilikan, ada hak yang harus dibagikan kepada sesama,” ujarnya kepada Gema Baiturrahman, Kamis (15/6) di Banda Aceh.

Ia menjelaskan, terdapat kalangan kaya dan miskin dalam kehidupan di dunia. Itu adalah sunnatullah. Maka, sunnatullah harus dibangun atas kebersamaan. Orang kaya membagi rezekinya kepada orang yang membutuhkan. Sehingga tidak ada kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Mereka bisa saling hidup berdampingan tanpa munculnya sifat iri dan dengki. “Makanya zakat itu sebagai instrumen untuk menjembatani antara yang kaya dan miskin, melalui sedekah dan infak juga,” tuturnya.

Lanjutnya, Allah mengecam siapa saja yang tidak membayar zakat. Karena tujuan zakat untuk saling menghargai. Dalam hadits, nabi menyebutkan bahwa zakat itu merupakan virus yang harus dipindahkan. Bila tidak, virus ini dapat mengotori harta-harta yang lain. Sayangnya, sebagian dari masyarakat mengklaim harta yang diperoleh semata-mata miliknya seorang. Padahal, Islam menjelaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang lain.

Safwani mengatakan seratus persen masyarakat menyalurkan zakat fitrah, berbeda dengan zakat harta. Masih ada di antara kalangan muslim tidak berzakat ataupun berzakat tapi tidak sesuai ketentuan. penyebabnya karena kekurangan ilmu. Secara resmi berdasarkan Alquran, berzakat disalurkan melalui amil untuk menjaga marwah orang miskin. Jadi orang kaya tidak secara langsung menyalurkan zakatnya. “Jatuh sekali harga diri orang miskin ketika menerima uang dari orang kaya. Tapi ketika melalui amil, dia tidak akan apa-apa,” paparnya.

Sejak dari masa rasulullah dan masa khalifaurrasyidin, penyaluran zakat dilaksanakan melalui amil. Pemungutan zakat juga dilakukan oleh amil. Kenyataannya, banyak orang menyalurkan zakat secara langsung. “Untuk sedekah dan infak boleh diberikan kepada orang terdekat. Tapi (kategori) penerima zakat sudah jelas penerimanya, sudah disebutkan dalam Alquran,” ujarnya.

Ia menambahkan, partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk berzakat meningkat. Dari tahun ke tahun masyarakat semakin mempercayai Baitul Mal sebagai penyalur zakat. Angka penerimaan zakat di Baitul Mal Banda Aceh pada 2016 sudah mencapai Rp 6 miliar. Sedangkan potensinya mencapai Rp 10 miliar.

Sambungya, kalangan penyalur zakat sebagian besar berasal dari kalangan pedagang. Rata-rata pedagang di Banda Aceh berasal dari daerah luar. Tidak sedikit di antara mereka lebih memilih berzakat di kampungnya. Padahal zakat tersebut dibayar di tempat seseorang mencari nafkah. Sedangkan zakat fitrah wajib ditunaikan dimana seseorang berada saat malam idul fitri.

“Hari ini pemerintah sudah mengatur penyaluran zakat. Setiap kabupaten kota sudah memilik Baitul Mal masing-masing,” imbuhnya. [furqan]

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.