2

Takwa Sepanjang Masa

Gema JUmaT, 23 JUNI 2017

Selama Ramadhan jamaah di masjid cenderung banyak dibandingkan hari biasa. Mereka melakukan aktifitas ibadah seperti mengaji, salat, zikir, dan lainnya. Setelah melewati Ramadhan, umat Islam diharapkan menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Dalam surah Al-Baqarah ayat 183 Allah menyebutkan, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

Untuk memahami makna puasa Ramadhan serta harapan setelahnya, wartawan Gema Baiturrahman Zulfurqan mewawancarai Pimpinan Pondok Pesantren Tgk Chiek Oemardiyan Indrapuri, Aceh Besar Tgk H Fakhruddin Lahmuddin M Pd, Sabtu (17/6) di Masjid Agung Al-Makmur (Oman) Lampriet, Banda Aceh. Ia juga aktif sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh.

Apa makna puasa Ramadhan?

Puasa ini adalah sebuah lembaga pendidikan atau sering disebut umpanya diklat. Dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu yang dikarang oleh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, dalam pembahasan fiqih puasa, pada bab faedah puasa, beliau menyebutkan puasa ini sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian muslim. Maka sebetulnya yang diharapkan, melalui proses puasa yang kita jalani ini, proses pelatihan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam proses pelaksaan puasa itu sendiri. Kemudian apa yang kita lakukan selama Ramadhan itu permanen. Kalau puasa dianalogikan sebagai lembaga pendidikan, berarti ada visi misinya. Kurikulum dalam lembaga pendidikan harus mampu mencapai visi dan misi.

Apa visi puasa itu?

Kalau kita melihat surat Al-Baqarah 183, dengan puasa yang kalian jalani, kemudian puasa mampu mendidik kalian orang yang bertakwa secara permanen.

Orang bertakwa memiliki ciri-ciri, bisa dijelaskan?

Pada awal surat Al-Baqarah, Allah menyebutkan sifat pokok orang bertakwa adalah keimanan kepada yang gaib. Semua rukun iman terkait yang gaib. Kalau kepada yang zahir tidak membutuhkan iman. Di antara beriman kepada yang gaib, beriman yang paling utama adalah beriman kepada Allah. Meyakini Allah, ada namanya tauhid uluhiyah, meyakini bahwa Allah satu-satunya zat yang disembah. Kedua, tauhid rububiyah, meyakini Allah menciptakan alam dengan segala isinya, Allah yang mengatur, memelihara. Ketiga, tauhid asma wal alsifat, meyakini sifat yang melekat pada Allah. Di antaranya Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui. Orang yang bertakwa meyakini hal itu.

Bagaimana puasa mampu menjembatani menjadi orang yang betakwa?

Perkara di luar Ramadhan seperti makan dan minum boleh. Selama puasa, perkara ini menjadi dilarang. Orang yang berpuasa meyakini bahwa perintah itu datangnya dari Allah. Sehingga ia patuh untuk tidak makan dan minum meski di rumahnya ada makanan, sekalipun tidak ada orang yang melihat. Ia yakin bahwa orang tidak melihat tapi Allah melihat. Ini penanaman nilai kepada orang yang berpuasa. Jangan hanya dalam hal makan dan minum saja (ketika berpuasa) ia patuh, tetapi seluruh perintah dan larangan Allah mesti dipatuhi sepanjang hayatnya, sebagaimana ia patuh selama Ramadhan. Maka ia tidak akan melakukan hal yang dilarang Allah karena ia yakin bahwa Allah melihatnya.

Selama Ramadhan banyak orang yang giat beribadah. Namun ketika Ramadhan berakhir, sebagiannya kembali kepada pola kehidupan sebelum Ramadhan. Kenapa?

Manusia memang sudah diberi nafsu oleh Allah yang melekat. Ini (nafsu) adalah biangnya masalah. Segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwa manusia namanya syahwat, banyak jenisnya syahwat. Ketika puasa, kita harus mampu mengendalikannya. Karena faktor nafsu dan dikerjain oleh setan dengan berbagai cara, setelah puasa, orang semakin lemah usaha untuk menekan nafsu. Sehingga orang kembali kepada pola (hidup) yang sama seperti sebelum Ramadhan. Tapi dalam Alquran tidak dipastikan bahwa orang yang berpuasa akan bertakwa, tetapi semoga.

Bagaimana caranya supaya nilai-nilai yang terkandung dalam puasa tertanam dalam jiwa?

Nabi sudah membertahukan, berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali menahan lapar dan haus. Karena nilai dalam puasa tidak mampu menjelma ke dalam jiwa dia yang permanen. Misalnya, kenapa sekarang orang banyak ke masjid selama Ramadhan, itu karena dia menggerakkan diri. Sebenarnya, tidak sulit menggerakkan diri.

 

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman