Implementasi Syukur; Manifestasi Ketaqwaan kepada Allah SWT

Implementasi Syukur; Manifestasi Ketaqwaan kepada Allah SWT

GEMA EDISI KHUSUS Idul fitri 1438H / 2017M

Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh Allahu Akbar-Allahu Akbar- Allahu Akbar Walillahilhamd

Hadirin Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah Pada hari ini ketika matahari 1 Syawal 1438 H telah keluar dan kehidupan kita terus- menerus berputar dengan hati gemetar kita bersujud kepada zat yang Maha Besar sebagai pancaran ketaqwaan kepada Allah SWT. Syeikh Muhammad Bin Ibrahim Al-Hamd mengatakan bahwa taqwa adalah perbekalan disaat kritis dan penolong dikala terjadi musibah, taqwa tempat mendapatkan kegembiraan dan ketentraman serta mendapatkan kesabaran dan ketenangan, taqwa tangga menuju kejayaan dan tangga ketinggian menuju langit, dan taqwa itu pula yang mengukuhkan kaki ditempat yang menggelincirkan dan meneguhkan hati dalam menghadapi ujian.

Hadirin Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah Dengan meniti jalan taqwa, kita akan selalu terpelihara dari kesesatan yang bisa menimbulkan malapetaka. Firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 115: “Tidaklah sekali-kali Allah bakal menyesatkan suatu bangsa setelah ia memberikan hidayah kepada mereka, sehingga dijelaskannya bagi mereka apa saja yang harus
dijaga. Sesungguhnya Allah mengetahui segala-galanya”.

Karena itulah, atas karunia iman yang telah menuntun kita dalam menjalani kehidupan dengan ujian suka dan duka, seharusnya rasa syukur kita tak kunjung putus setiap waktu, seperti diungkapkan oleh Nabi Sulaiman AS tiap kali mendapatkan kenikmatan: “Ini semata-mata merupakan karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah kufur” (An-
Naml ayat 40). Begitu pula Rasullullah SAW hampir saban hari beliau senantiasa mengangkat kedua tangan dan berdoa: “Ya Allah jadikan aku orang yang tahu bersyukur, jadikanlah pula aku orang yang tabah sabar, serta jadikanlah aku orang yang menganggap diri sendiri kecil walaupun orang lain menganggapku besar.” Alangkah mulianya harapan hamba-hamba Allah yang shalih itu dan alangkah nistanya kita apabila tidak mengikuti jejak langkah mereka. Sebab kenikmatan yangkita terima dari Allah begitu banyaknyasehingga kita tidak mampu menghitungnya, Firman Allah dalah Surah Ibrahim Ayat 34: “Dan dia selalu memberikan untukmu semua yang kamu inginkan dan seandainya kamu ingin menghitung kenikmatan Allah sungguh kamu tidak akan sanggup melakukannya”.

Allahu Akbar Wa Lillahilhamd Hadirin yang Mulia

Pertanyaan kita kemudian apakah syukur itu? Cukupkah dengan gerakan lidah dan mengucapkan “Alhamdulillah” tentu saja tidak walaupun ucapan hamdalah merupakan salah satu tanda bersyukur, para Ulama ahli hikmah menyatakan: “syukur adalah mengakui kenikmatan Allah yang dilanjutkan dengan berkhidmat kepadanya”. Berkhidmat merupakan bentuk implementasirasa syukur sebagai manifestasi ketaqwaan yang diwujudkan dalam bentuk iman dan amal shaleh. Hakikatnya itulah bekal yang harus kita siapkan untuk kembali ke kampung halaman kita yang abadi. Karena hidup di dunia ibarat tempat singgahan para perantau, cepat atau lambat mereka akan mengalami kematian untuk kembali kepada Allah selama-lamanya. Kematian adalah sebuah peristiwa biasa yang terjadi pada makhluk yang bernama hidup. Tidak ada sesuatu yang luar biasa dengan kematian itu karena setiap bernyawa pasti akan mati. Kematian yang dirasakan oleh manusia adalah sebagai bukti bahwa Allah maha berkuasa yakni berkuasa menghidupkan makhluk berkuasa pula dalam mematikannya.

Hadirin yang mulia!

Bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian di dunia yang fana ini. Sebagai manusia kita sering disibukkan dengan mempersiapkan bekal hidup dunia semata, sementara bekal hidup setelah mati nyaris dilupakan. Sebaik-baik bekal kata Allah
adalah taqwa yang diwujudkan dalam bentuk amal ibadah.

Sementara syahadat Rasul merupakan pengakuan kita terhadap kerasulan Muhammad SAW sebagai pemungkas segala Nabi dan Rasul, karenanya syahadat Rasulkita juga akan batal kalau kita tidak bisa melepaskan diri dari pengakuan selain Muhammad SAW.

Shalat mensucikan jiwa dengan selalu mengingat Allah. Puasa mensucikan rohani dengan mengendalikan hawa nafsu dan menundukkannya pada perintah Allah. Zakat mensucikan harta dengan memberi kelebihan harta dengan niat membantu sesama manusia. Haji mensucikan kehidupan dengan mengarahkan seluruh perjalanan hidup menuju Allah. Karenanya syahadat, shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya merupakan bekal sebenarnya, ironi memang bekal ini yang sering dilupakan manusia.

Hadirin Yang Mulia

Seiring berjalannya waktu, sebenarnya kita bisa melakukan perenungan bahwa sudah puluhan idul fitri kita lewati, sebanyak bilangan Ramadhan yang kita alami. Sering lebaran kita jadikan tonggak-tonggak penting dalam kehidupan kita. Setiap tahun lebaran datang menjenguk kita, dia membawa kisah suka dan duka. Kenanglah lebaran yang lalu. Bukankah pernah lebaran datang ketika kita dirundung oleh kemalangan, diuji dengan berbagai kepedihan? Bukankah pernah juga lebaran datang ketika dimanja oleh berbagi kenikmatan, artinya suka dan duka datang silih berganti. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Setiap kali lebaran datang ada saja di antara orang-orang yang kita cintai tidak lagi berlebaran bersama kita, mereka tidak ikut mempersiapkan Idul Fitri karena mereka telah mendahului kita mudik ke alam baka yaitu kembali ke kampung yang abadi. Sebagai orang yang ditinggalkan marilah kita kenang mereka, kita bacakan doa yang tulus kepada orang- orang yang kita kasihi: “Ya Allah
masukkanlah kebahagiaan kepada penghuni kubur. Tuhan kami masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘adnin yang telah Engkau janjikan kepada orangorang shaleh, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”.

Jamaah Yang Mulia

Di sebuah pekuburan kota Kufah Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai penduduk kampung yang sunyi, wahai penduduk yang tinggal di kampung yang sepi. Wahai yang berdiam di kubur yang gelap, wahai yang berbaring di atas tanah, yang terasing, yang sendirian dan yang kesepian. Kalian telah mendahului kami, kami insya Allah akan menyusul kalian. Rumah kalian sudah
ditinggali orang lain, istri atau suami kalian sudah menikah lagi, harta kalian sudah dibagi-bagi. Inilah kabar dari kami. Bagaimana kabar dari kalian. Imam Ali kemudian menoleh kepada sahabat-sahabatnya dan berkata: “Demi Allah sekiranya Allah mengizinkan mereka berbicara,
mereka akan berkata: “Sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa”.

Jamaah Yang Mulia
Ramadhan telah mendorong kita agar senanatiasa memperbanyak amalan sebagai implementasi rasa syukur kepada Allah sehingga menjadi bekal untuk kehidupan kita berikutnya. Ramadhan telah mendidik kita menjadi orang yang dapat mengecilkan hawa nafsu dengan selalu membesarkan Allah Taala. Dalam ibadah puasa, takbir kita dicerminkan dengan mengecilkan pengaruh hawa nafsu dan menghidupkan kebesaran Allah dalam hati kita. Ketika kita membaca al-Quran kita mengecilkan seluruh pembicaraan manusia dan hanya membesarkan kalamullah. Ketika kita berdiri shalat malam di bulan Ramadhan kita kecilkan
seluruh urusan dunia ini dan hanya membesarkan perintah Allah. Seluruh ibadah kita adalah takbir. Seluruh ibadah kita dimaksudkan untuk mengecilkan apapun selain Allah yang Mahatinggi.

Ramadhan juga telah mengajarkan supaya kita benar-benar menjadi manusia bersyukur. Zakat Fitrah yang diperintahkan di penghujung Ramadhan adalah wujud dari kesyukuran sebagai manifestasi ketaqwaan kita kepada Allah. Rasullullah bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah
orang-orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”.

Hadirin yang Mulia
Setelah menyelesaikan seluruh ibadah ini, Allah masih juga memerintahkan kita untuk takbir. Bukankah dalam puasa, kita sudah membesarkan Allah? Bukankah dalam tarawih dan tadarus kita sudah membesarkan Allah? Bukankah pada malam ‘Idul Fitri kita juga bertakbir? Mengapa kita masih harus bertakbir lagi, mengapa kita masih harus membesarkan Allah lagi? Allah tahu
kita sering takbir dalam ibadah-ibadah kita, tetapi ironi kita sering melupakan takbir di luar itu. Kita besarkan Allah hanya di masjid saja, tapi di luar masjid di agungkan kekayaan, kekuasaan dan kedudukan. Kita besarkan hawa nafsu, kepentingan, dan pikiran kita. Di atas sajadah sembahyang, di masjid, mushalla, di tempat-tempat ibadah, kita gemakan takbir. Sementara di kantor, pasar, ladang dan di tengah-tengah masyarakat, kita lupakan Allah dan kita gantikan takbir dengan takabbur.

Ketika kita duduk di kantor, kita campakkan perintah-perintah Allah. Jabatan yang seharusnya kita gunakan untuk memakmurkan negara, melayani rakyat, membela yang lemah, menyantuni yang memerlukan pertolongan, kita manfaatkan untuk memperkaya diri. Kita bangga kalau kita
mampu menyalahgunakan fasilitas kantor. Kita bangga kalau kita melihat rakyat yang harus kita layani merengek-rengek bersimpuh memohon belas kasihan kita. Kita bangga dengan sedikit kecerdikan kita menumpuk keuntungan walaupun mengorbankan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Ternyata di kantor kita singkirkan takbir dan kita suburkan takabur.

Ketika bersaing merebut pasar dan konsumen, ketika kita menjalankan bisnis seakan-akan Allah tidak pernah hadir dalam hati kita. Kita lakukan cara apapun tanpa peduli halal haram, tanpa memperhatikan apakah tindakan kita menghancurkan hidup orang lain atau menyengsarakan banyak orang. Kita lupakan firman Allah yang datang setelah perintah puasa. “Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahuinya” (Al-Baqarah : 188)

Kita lupakan firman tersebut bahkan kita merasa hebat bila kita dapat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, walaupun mencampakkan firman Allah, kita sudah menggantikan takbir dengan takabbur. Di tengah-tengah masyarakat kita tidak lagi mendengar firman Allah yang mengajarkan kejujuran, keikhlasan, kasih sayang dan amal saleh. Sebaliknya dengan setia kita
mengikuti petunjuk iblis untuk melakukan penipuan, kemunafikan, kekerasan hati dan penindasan. Allah yang kita besarkan dalan shalat dan doa kita, kita lupakan dalam kehidupan kita. Dalam puasa kita menahan diri untuk tidak memakan makanan dan minuman yang halal, tetapi kita berbuka dengan makanan dan minuman yang haram. Bibir kita kering karena kehausan, perut kita kempis karena kepalaran, tetapi tangan-tangan kita kotor karena kemaksiatan.

Allahu Akbar Walillahil Hamd Jamaah yang Mulia Itulah sebabnya ibadah dalam Islam sebagai wujud implementasi syukur kepada Allah tidak hanya menyangkut hubungan vertikal atau “Hablum minallah” melainkan hubungan horizontal”Hablum Minan nas”. Kedua sisi ini merupakan sepasang sayap yang harus tetap utuhapabila kita ingin terbang tinggi meraih
cita-cita bersama, menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara. Artinya rasa syukur itu tidak saja diwujudkan dalam ibadah ritual dogmatis saja, tetapi juga melaksanakan segi-segi sosialnya yang luhur karena ibadah dalam Islam memiliki pesan-pesan strategis untuk memperbaiki tatanan kehidupan manusia di dunia ini.

Dengan keras Allah mengingatkan dalam surat Al-Ma’un dimulai dari ayat 1: “Tahukah kamu siapa pendusta agama” ternyata yang dimaksudkan Allah sebagai pendusta agama tidak lain adalah orang yang tidak terpanggil untuk menyantuni anak-anak yatim (Ayat 2) dan tidak menghiraukan nasib fakir miskin (Ayat 3). Allahu Akbar- Allahu Akbar-Allahu Akbar Wa Lillahilhamd

Hadirin Jamaah Idul Fitri yang Mulia Al-quran dimulai dengan nama Allah “Bismillah” dan diakhiri dengan nama manusia “Annas”. Shalat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, penghormatan kepada manusia. Puasa dimulai dengan menahan makan dan diakhiri dengan memberi makan kepada orang lain (zakat fitrah). Bukankah itu semua menunjukkan bahwa Ramadhan dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan tasyakur. Artinya implementasi rasa syukur kepada Allah sebagai wujud dari manifestasi ketaqwaan kepada Allah
adalah dimulai dengan membesarkan Allah dan diakhiri dengan mendatangkan manfaat kepada manusia, karena Rasul bersabda: “Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Terakhir dalam Hadis yang lain Rasullullah juga bersabda: “Orang-orang yang pengasih pasti akan dikasihi oleh yang Maha Pengasih, karena itu kasihilah penduduk bumi, nanti penghuni langit akan mengasihi kamu” Wassalamualaikum Wr.Wb!
CATATAN:
Khuthbah ini telah kami persingkat tanpa menghilangkan intisarinya

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.