1

Orang Tua Motivator Pendidikan Terbaik

GEMA JUMAT, 14 JULI 2017

Belajar merupakan kegiatan sehari-hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Tetapi kegiatan belajar tersebut tergantunga dari minat dan keinginan masing-masing individu. Belajar membutuhkan motivasi dari keluarga, pendidik, lingkungan, dan diri sendiri. Dalam makalah ini kami tidak hanya membahas motivasi bagi peserta didik tetapi kami juga membahas motivasi bagi para pendidik. Peranan dan pentingnya motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar dan pembelajaran. Maka dari itu dalam makalah ini kami membahas tentang peranan motivasi dalam proses belajar dan pembelajaran.

Pembantu Rektor III Universitas Serambi Mekkah, Jalaluddin, S.Pd, M.Pd menuturkan ada tiga factor yang menyebabkan kurang minat dari seorang pelajar untuk melanjutkan jenjang pendidikan, yakni factor ekonomi, kekurangan lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah, dan pengaruh lingkungan tempat mereka tinggal.  faktor lingkungan ini sangat berpengaruh bagi keberlanjutan jenjang pendidikan anak Aceh.

“Faktor lingkungan yang tidak bisa memberi dorongan terhadap generasi muda ini untuk melanjutkan studi, seperti transparansi informasi beasiswa,” imbuhnya kepada Gema Baiturrahman, Kamis (13/7) di Banda Aceh.

Menurutnya, transparasi dan informasi kepelosok yang kurang didapatkan, sehingga bagi yang tidak memiliki dana, maka dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Seperti kita melihat informasi yang ada, mulai dari tamat SMA pemerintah sudah menyediakan beasiswa yatim, fakir miskin, bidikmisi, beasiswa dari pemerintah Aceh sendiri juga ada. Makanya, perlunya ada keterbukaan informasi dan sosialisasi yang serius dan benar dilakukan.

Ia meminta kepada tenaga pendidik, untuk bisa memotivasi siswa dan mahasiswa dalam mengacu lebih giat lagi belajar bahasa inggris, karena inilah tantangan untuk mendapatkan beasiswa. Generasi muda hari ini, selain berprestasi juga harus bisa menguasai bahasa asing, seperti bahasa inggris, bahasa arab, bahasa china dan bahasa lainnya. Kalau ini tidak dimiliki oleh pelajar, maka akan sia-sia prestasi yang dimilikinya.  “Boleh kita melihat, generasi muda di Aceh hari ini dan diperdesaan, berapa persen anak-anak kita bisa bahasa inggris dan juga bahasa asing lainnya,” ujar pelatih Sistem Penjaminan Mutu Internal Akademik.

Katanya, tantangan Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta harus mengembangkan soft kill setiap yang dimiliki oleh mahasiswa. Karena mahasiswa itu harus menjadi contoh bagi kawan-kawan dikampung dan membawa perubahan kemajuan daerahnya.

“Minat masyarakat berkurang,  karena di perguruan tinggi negeri maupun swasta, belum mampu mengembangkan soft kill mahasiswa itu sendiri,” tutur mahasiswa Doktor Universitas Medan.

Lanjutnya, semangat motivasi pembelajaran berkurang anak Aceh hari ini sudah menurun, ini disebabkan oleh tiga variable. Pertama, dosen tidak mempungsikan perannya sebagai dosen. Kedua, orang tua tidak mempungsikan dirinya sebagai orang tua. Dan ketiga, lingkungannya juga tidak bisa memerhatikan apa yang dilakukan mahasiswa itu sehari-hari, selama dia menjadi mahasiswa.

“Kalau memang mereka dibimbing oleh dosen, orang tua dan lingkungan, mereka akan selalu menanyakan mana informasi untuk bisa melanjutkan studi yang lebih tinggi, baik kepada dosen, orang tua dan kawan-kawan mereka,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Ar-Raniry,  Dr. H. Mujiburrahman, M.Ag menjelaskan, kualitas mutu Pendidikan di Aceh dewasa ini masih jauh tertinggal, dengan provinsi lain di Indonesia. Rangking kita masih belum masuk sepuluh besar nasional. Hal ini perlu perhatian serius seluruh stakcholders dan masyarakat Aceh. “Harus ada semangat dan usaha untuk bangkit dari keterpurukan,” paparnya.

Pada satu sisi  budaya pendidikan  kita masih rendah, namun sisi lain  semangat generasi muda Aceh untuk menempuh dan melanjutkan pendidikan itu sangat tinggi. “Semangat tersebut menjadi terkendala karena   faktor ekonomi orang tua yang tiddk mampu,” terangnya.

Menurutnya, pada aspek untuk meningkatan mutu pendidikan, maka diperlukan intervensi negara atau penguasa dalam hal ini gubernur, bupati dan walikota harus punya visi, kebijakan dan program penguatan SDM Aceh secara terukur, sistematis dan konsisten.

Lanjutnya, pengelolaan pendidikan yang baik sangat mempengaruhi kemajuan pendidikan. Contohnya pada gebrakan dan kebijakan  beasiswa untuk putra/putri Aceh melanjutkan pendidikan S2 yang digagas oleh Gubernur Bapak Irwandi pada periode 2012-2017,  melalui lembaga LPSDM sangat baik dan harus dilanjutkan. Hari ini hasil dari kebijakan tersebut banyak anak Aceh menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri pada perguruan tinggi ternama. “Kebijakan dan program ini harus dilanjutkan dan ditingkatkan dan juga jangan di lupakan untuk beasiswa bagi penddikan agama (dayah) untuk menyiapkan calon ulama di Aceh,” tambahnya.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh anggota Majelis Pendidikan Daerah Kabupaten Aceh Besar bidang Komisi Pendidikan Umum dan Agama, Tgk. Muhammad Hafidz H. Ibrahim, Sistem pendidikan yang di gagas oleh pemerintah selama ini sudah jauh lebih baik dan lebih maju kalau kita bandingkan dengan zaman kita dulu. Namun pesatnya technologi (IT),  terkadang salah dipungsikan dan digunakan oleh anak kita sendiri. “Maka pendidikan umum harus sinergi dengan pendidikan agama dalam artian tidak boleh ada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum,” paparnya.

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, orang tua adalah figur sentral dalam pengembangan pendidikan anak. “Kebanyakan anak mereka belum tahu arti pentingnya pendidikan, orang tua wajib mengarahkan anaknya untuk belajar secara terorganisir baik di rumah maupun di sekolah,” ujar pimpinan Dayah Ruhul Falah Samahani. Indra Kariadi

comments

Post Author: Nurjannah Usman