Salam Literasi Pipiet Senja

Salam Literasi Pipiet Senja

GEMA JUMAT, 14 JULI 2017

Kelahiran Sumedang 16 mei1956, yang berjuang lewat pena dan telah menulis 193 sejak 1975. Ialah Pipiet Senja. Nenek dari empat cucu ini, terus aktif menulis hingga sekarang. Ia sudah terus bergeliat aktif menyebar virus

menulis dikalangan buruh migran Indonesia, yang kita kenal dengan nama TKW. Untuk para TKW yang ada di Hong Kong, Makau, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Timur Tengah. Ia telah melanglang buana ke 25 negara.

pengasuh Bilik Sastra Voice of Indonesia RRI siaran luar negeri, ia gencar meneror, menyemangati para mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Taiwan, Hong Kong, Macau, Mesir, Yaman, Qatar, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Sabah, Australia, Belanda, Inggris, Norwegia, Rusia, USA, Kanada dan Honolulu. Tentunya sebagai editor dari tulisan yang mereka kirim berupa cerpen dan tulisan lainnya.

Semangat itu tumbuh dikarenakan salah satunya berkat kedua orangtuanya. Sebagai Putri seorang pejuang ’45, Mayor CHB SM. Arief dan Hajjah Siti Hadijah. Ia mulai menulis sejak remaja, tahun 1975. Sudah tidak terhitung, ia telah menulis ratusan novel dan ribuan cerpen, baik untuk anak2, remaja dan umum.

Nenek empat cucu ini juga super aktif, sering diundang sebagai pembicara dan motivator oleh berbagai perguruan tinggi, pesantren tanah air dan mancanegara. Karyanya yang best seller dan akan di fi lmkan, diantaranya : Tuhan Jangan Tinggalkan Aku, Jejak Cinta Sevilla dan Cahaya di langit Jakarta.

Ada terbelik kisah dibalik pembuatan buku Cahaya di Langit Jakarta. Buku terbaru ini adalah kisah nyata alumni-alumni aksi bela Islam 212. Ia sendiri terjun langsung bersama para alumni aksi 212, sejak di lapangan tugu Monas hingga ke istana Negara,

“saya ikutan aksi bersama habib Rizieq Syihab, setiap aksi hampir ikut orasi dalam rombongan Gerakan Ibu Negeri,” ungkapnya. Setelah aksi itupun, ia membuat ide bersama teman-temannya, membuka koperasi pembuatan fi lm, dana yang terkumpul bisa mendanai fi lm-fi lm islami dan menampung karya muslimin,

“Bagi saya juga ada didaerah Indonesia luar biasa karya yang masih belum tertampung, menampung karya2 dari novel orang Islam dan pastinya ada harapan,” Lanjutnya.

Sebagai pemateri dalam acara Seminar dan Musyawarah Daerah (Musda) PD-IPI Aceh, yang diadakan 13 Juli 2017 oleh Ikatan Pustakawan Indonesia Aceh. Ia hanturkan harapan, setelah acara seminar ini, ia inginkan semakin banyak lahir para penulis yang ada di Aceh. Itulah Pipiet Senja, founder Yayasan Bunda Hadijah dan Pipiet Senja Publishing House ini pun sering melakukan safari pondok pesantren dengan program gerakan santri menulis. Sebagai dewan penasehat Forum Lingkar Pena (FLP), ia punya prinsip hidup, “Terus menulis dan menulis. Sebelum ajal datang, dengan pena kita bisa berperang dan melalui pena kita berjuang,“ Nelly

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.