UMAT TERBAIK

UMAT TERBAIK

GEMA JUMAT, 14 JULI 2017

Khatib: Dr. Samsul Bahri, M. Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Hadirin para jama’ah yang dirahmati Allah. Syukur alhamdulillah atas hidayah dan ‘inayah-Nya hingga saat ini kita masih tergolong sebagai umat yang mengimani keesan Allah. Terima kasih tak terhingga patut kita sampaikan kepada para guru, endatu dan pendahulu kita yang telah ikut berjasa mengarahkan kita untuk menganut ajaran ilahiah yang masih dan akan terus terpelihara kemurniannya ini. Mereka tiada henti-hentinya memperkenalkan kepada kita bagian-bagian mendasar dari ajaran agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah, sebagai termaktub di dalam salah satu firman suci-Nya;

إArtinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Q. S. Ali Imran: 18).

Sekalipun banyak tantangan, godaan, dan rayuan yang berupaya mengajak kita beralih kepada keyakinan lainnya; namun kita tetap mengingat pesan leluhur kita yang direfleksikan dari firman Allah;

Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q. S. Ali Imran: 85).

Kita sadar betul bahwa agama yang kita anut ini adalah benar. Tidak ada keraguan sedikit pun pada kita mengenai kebenaran dan keabsahan ajaran Islam. Singkatnya, kita sudah membuat pilihan yang tepat dan ideal dengan memilih agama Islam. Persoalannya sekarang adalah; sudahkah kita mengupayakan diri menjadi umat ideal dari sebuah agama yang ideal ini? Cukup beranikah kita mengakui bahwa diri kita dalah representasi dari umat Islam sebagaimana tuntutan ajaran Islam yang sesungguhnya? Sayang beribu sayang…al-Islam mahjubun bi al-muslimin kata orang bijak. Keindahan dan nilai-nilai ideal dari ajaran Islam terhalangi oleh prilaku yang tidak wajar dari umat Islam itu sendiri.

Dalam kaitan inilah kita dituntut untuk selalu berikhtiar mengaca diri. Islam adalah agama terbaik; dan sudahkah kita menjadi umat terbaik? Jawabannya tak perlu dicari di dalam kitab, ensiklopedi atawa kamus. Jawaban sesungguhnya ada dalam benak kita; diperkuat oleh fakta diri kita; realita dan fenomena di sekitar kita. Beberapa isyarat mengenai ciri umat terbaik disampaikan oleh Allah di dalam sejumlah firman suci-Nya;

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q. S. Ali Imran: 110).

Sekali lagi, Islam adalah agama terbaik. Umat Islam dengan demikian mesti sebagai umat terbaik. Namun, kedudukan sebagai umat terbaik bukan semata-mata karena seseorang berkebetulan sebagai beragama Islam. Keberislaman seseorang dalam konteks ini dapat disebut sebagai modal dasar atau potensi untuk menjadi umat terbaik. Seseorang dipersyaratkan kemampuan mengaktualisasi potensi tersebut untuk meraih prediket umat terbaik. Aktualisasi dimaksud terwujud dalam sejumlah aktivitas;  menyuruh kepada yang ma`ruf; mencegah dari yang munkar; dan beriman kepada Allah, sebagaimana lanjutan ayat al-Qur’an di atas.

Ibn Katsir sebagai seorang penafsir al-Qur’an ternama merangkum sejumlah riwayat terkait penafsiran makna khaira ummah (umat terbaik). Umat Islam kata beliau adalah umat terbaik karena membawa manfaat bagi manusia. Kebaikan dalam kaitan ini dihubungkan dengan nilai kegunaan, sehingga pengiringan ungkapan ta’muruna bi al-ma’ruf dan seterusnya adalah bagian yang menyatu dengan ungkapan khaira ummah. Artinya, umat Islam adalah umat terbaik karena membawa manfaat bagi manusia. Manfaat dimaksud terkait dengan tugas yang diemban umat Islam sebagai pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar. Hal yang sama juga dikemukakan oleh penafsir lainnya, Imam Qurthubi. Beliau mengutip pendapat Mujahid, seorang mufassir dari kalangan tabi’in bahwa prediket umat terbaik baru akan diperoleh jika melaksanakan kegiatan amar ma’ruf dan nahi munkar. Tanpa upaya yang serius dalam aktivitas amar ma’ruf dan nahi mungkar, prediket umat terbaik tidak mungkin dapat diperoleh.

Amar ma’ruf dan nahi mungkar bukanlah pekerjaan sederhana. Sesungguhnya ia amat berat dan merupakan pekerjaan besar. Oleh karenanya, pekerjaan tersebut hanya mampu dilakukan oleh orang-orang besar saja. Orang besar yang dimaksudkan di sini bukan dari segi ukuran tubuh dan jabatan yang disandang; tetapi kebesaran dari sudut ketinggian derajatnya.

Dewasa ini di sekitar kita terdapat sejumlah pelanggaran, penyimpangan, dan penyelewengan. Boleh jadi pelanggaran tersebut dilakukan di wilayah tempat kita tinggal. Tidak jarang pula terjadi di lembaga atau instansi tempat kita bekerja. Pelakunya mungkin saja orang-orang terdekat kita. Kerabat kerja kita, atau malah atasan kita. Pertanyaannya, mampukah kita menjadi pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar

Kita mengetahui bahwa mengajak seseorang untuk melaksanakan shalat misalnya, adalah bagian dari amar ma’ruf. Kita juga tahu bahwa melarang orang melakukan perzinaan dan kwalwat umpamanya, merupakan bagian dari nahi mungkar. Seterusnya, bukankah kita juga tahu bahwa melakukan penggelembungan harga (mark up) pada sejumlah proyek juga penyimpangan? Terkadang muncul pertanyaan dari masyarakat awam (atau pura-pura awam); tidak adakah anak negeri kita ini yang pandai dalam membangun jembatan sehingga kuat untuk menahan banjir? Tidak mampukah anak negeri ini membangun jalan yang tahan hingga sepuluh tahun? Tidak bisakah putera daerah membangun rumah korban tsunami yang sebermutu bangunan milik Turki?

Orang-orang awam ini melihat jalan yang dilintasinya dari pasar Aceh ke Darussalam misalnya, tiap tahun ada perbaikan, pembobokan, dan pengaspalan ulang. Bodoh sekalikah kita sehingga hanya mampu membuat jalan dengan mutu yang sangat rendah dan tahan hanya beberapa hari itu? Eeee rupanya bukan bodoh, tapi kelewat pandai. Pandai dalam memalsukan data. Pandai dalam mengolah angka. Maka jadilah sebagian pemborong sebagai pembohong. Adakah yang mampu menjadi pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar terhadap penyimpangan ini?

Sampai sejauh ini agaknya kita masih takut. Karena prediket menjadi umat terbaik memang belum mampu kita sandang sepenuhnya. Semoga Allah memaafkan kenaifan kita di masa lalu. Sekarang, dan nanti sesudah shalat jum’at ini saya yakin sebagian besar di antara kita menjadi lebih berani. Yakinlah, keberadaan kita di muka bumi ini tidak akan terlalu lama. Kita bertekad, kehidupan kita mesti bermanfaat, walau hanya satu kali dan sesudah itu mati. Seandainya semua kita memberanikan diri satu kali saja, mungkin penyimpangan dan pelanggaran akan dapat diberantas. Semoga Allah memotivasi kita dan memberikan inspirasi sehingga kita menjadi umat terbaik melalui keberanian dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.