Jihad Ekonomi

Jihad Ekonomi

GEMA JUMAT, 21 JULI 2017


Oleh Murizal Hamzah

Saya membaca dua kisah yang diharapkan sangat menginspirasi bagi umat Islam, yakni tentang perilaku pembeli. Di  Pekalongan, Jawa Tengah, sejak dulu banyak warga Arab yang membuat dan menjual perabotan. Walaupun demikian juga beberapa pengusaha Cina punya usaha perabotan. Ada fenomena menarik, orang-orang Cina membeli perabotan rumah dan kantor-kantor dari pengusaha furniture Cina Pekalongan. Tidak membeli dari orang Arab.

Kisah kedua, seorang kakek di New York  berdiri lama di pinggir jalan menunggu taksi. Beberapa taksi yang kosong memberi isyarat  berhenti, namun kakek itu menolak naik. Dengan penasaran, seorang warga menghampiri kakek dan bertanya mengapa tidak naik taksi yang kosong? Sang kakek itu menjawab, hanya  mau naik taksi punya pengusaha Yahudi. Menurut kakek itu, inilah salah satu cara pengorbanan dirinya kepada saudara-saudaranya yang seaqidah.

Bagaimana perilaku pembeli dan penjual umat Islam di Indonesia? Tentu saja jika memakai jasa pelayanan umum atau produk tergantung pada pelayanan, rasa aman, nyaman dan sebagainya. Konsumen akan memilih pelayanan jasa terbaik tanpa melihat siapa pemiliknya.

Kita ingat, dulu ada seruan untuk boikot merek roti tertentu yang dimiliki oleh pengusaha dari Jepang yang telah mendapat sertifikat halal dari MUI. Untuk beberapa saat, produk roti itu menurun, namun kemudian kembali normal lagi. Ya harap maklum, rasa roti itu renyah dan disukai warga. Rasa tidak bisa dibohongi. Namun untuk hal-hal produk dari pabrik yang sama kualitasnya, selayaknya kita memilih membeli pada penjual orang muslim.

Salah satu jihad yang perlu digaungkan yakni jihad ekonomi. Jika ada dua pilihan dengan mutu dan harga yang relatif sama, belilah pada penjual umat Islam.  Membelanjakan uang dengan hanya membelanjakan uang pada penjual orang Islam.  Jika di kios/kedai di gampong misalnya menjual air mineral, gula dan lain-lain, belilah pada tetangga, karena ini secara langsung telah membangkitkan ekonomi umat dan menghidupkan perekonomian secara nyata. Kita tidak ingin bicara memberantas kemiskinan sambil menggigit paha ayam di hotel berbintang lima. Jika ingin membangun rumah dhuafa,  lupakan rapat-rapat yang tak ada ujungnya di ruangan ber-AC.

Kita sepakat, cara orang Yahudi, Cina dan lain-lain yang fanatik melakukan transaksi yang utama dengan sesama etnik dan agama patut diterapkan. Banyak keuntungan berbelanja sesama umat Islam yakni keutungan beli berpeluang disalurkan kepada kaum dhuafa melalui shadaqah, infaq, zakat dan sebagainya.

Ada kemungkinan harga barang yang dijual di toko/kios umat Islam bisa lebih mahal sedikit daripada di kios/toko non Islam karena  berbagai sebab. Disinilah dibutuhkan komitmen pengorbanan sesama Islam dengan menganggap barang yang mahal itu sebagai shadaqah. Sebaliknya, menghabiskan belanja pada non Islam, ada kemungkinan laba itu digunakan untuk menusuk umat Islam dengan membiaya aksi permurtadatan dan sebagainya.

Intelektual Islam Dr. Yusuf Qaradhawy mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam membelanjakan uangnya ke pihak Zionis, dan mewajibkan orang muslim membelanjakan uangnya ke saudara-saudaranya sendiri.

Kita bukan sedang bicara bicara rasis, tapi melakukan pilihan untuk membangkitkan  perekonomian umat dengan menempuh jihad ekonomi. Kita sedang mempraktikan, bahwa umat Islam lebih mencintai produk yang dihasilkan oleh umat Islam. Mari berjihad ekonomi secara berjamaah yang diawali dari diri sendiri menuju ke jamaah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.