Kewajiban Calon Jamaah Haji Belajar Manasik

Kewajiban Calon Jamaah Haji Belajar Manasik

GEMA JUMAT, 21 JULI 2017

Oleh: Drs. H. M. Daud Pakeh (Khatib Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh)

Saat ini telah memasuki Musim haji 1438 H, berbagai persiapan telah dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini kementerian Agama, baik persiapan administrasi, teknis, akomodasi selama di Makkah dan Madinah, visa dan pembinaan kepada calon jamaah haji telah dilaksanakan, begitu juga halnya dengan persiapan yang dilakukan oleh Jamaah Calon Haji itu sendiri. Pada tahun ini Jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan secara bertahap dari 12 embarkasi dan 5 embarkasi antara di Indonesia mulai 28 Juli 2017 untuk kloter pertama. Pemberangkatan jemaah gelombang pertama tersebut akan berlangsung dari 28 Juli-11 Agustus 2017. Sedangkan untuk gelombang kedua akan diberangkatkan mulai dari 12-26 Agustus 2017.

Pada tahun ini, Kemenag Aceh  juga mengintruksikan kepada petugas yang menyertai jamaah atau petugas Kloter untuk dapat memperkenalkan diri sejak awal kepada Calon Jamaah Haji sebelum keberangkatan, yaitu pada saat manasik di Kabupaten/Kota dengan tujuan saling mengenal dan melahirkan keakraban sehingga memudahkan dalam pelaksanaan tugas.

Namun, tidak bisa kita pungkiri, bahwa pelaksanaan manasik haji yang dilaksanakan saat ini masih terbatas dalam konteks fiqih semata, sehingga kedepan perlu persiapan lebih awal terhadap manasik tersebut, sehingga ia lebih menjiwai, tidak sebatas Fiqih semata.

Amalan Haji dan Sains

Prof. Norhisham Wahab, pendiri Color Vibration Theraphy banyak mengkaji tentang kaitan amalan haji dengan sains menjelaskan, Makkah adalah kawasan yang mempunyai gravitasi paling stabil.

Boleh dikatakan ia kawasan paling selamat di dunia. Tidak heran kalau dikatakan, jika suatu hari nanti bumi mengalami kekacauan dan malapetaka, Makkah adalah bumi yang paling aman untuk didiami.

Itulah kawasan yang dicari-cari selama ini, di mana manusia boleh tinggal dengan selamat dan aman sehingga terjadinya kiamat.

Sebagai pusat bumi memang banyak keistimewaannya. Tekanan gravitasinya tinggi, dan di situlah berpusatnya bunyi-bunyian yang membina yang tidak boleh didengar oleh telinga. Tekanan gravitasi yang tinggi memberi kesan langsung kepada sistem imun badan untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala serangan penyakit.

Sebenarnya ketika berada disana, sistem imun akan menjadi lebih kuat secara alami tanpa bantuan vaksin. Pengaruh gravitasi banyak memainkan peranan untuk merangsang kelenjar pineal (pineal gland) yang terletak di otak tengah untuk untuk mengawal kekuatan sistem imun.

Memang sudah dibuktikan apabila kita berada di Makkah, yang sakit akan jadi sehat dan yang lemah akan jadi bertenaga. Apabila gravitasi tinggi maka banyak electron ion negative yang berkumpul disitu. Sebab itulah doa akan makbul karena disitu adalah tempat gema atau ruang dan masa serentak. Apa yang diniatkan di hari adalah gema yang tidak boleh didengar tetapi boleh dirasakan frekuensinya.

Pengaruh electron menyebabkan kekuatan dalaman kembali tinggi, penuh bersemangat untuk melakukan ibadah, tidak ada sifat putus asa, ma uterus hidup, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketika berada di sisi ka’bah perasaan akan segera berubah menjadi hening, tenang, sayu, rendah diri, kerdil, pada kebesaran Tuhan. Semua itu adalah pengaruh dari tekanan gravitasi yang tinggi meskipun ada niat jahat yahudi dan umat kristiani untuk menghancurkan ka’bah, cobaab itu tidak berhasil.

Secanggih apapun  teknologi militer Negara-negara maju insya Allah tidak dapat menembus Makkah. Andaikata ada rudal ditembakkan ke Makkah untuk menghancurkannya, itupun tidak akan berhasil.

Gelombang radio tidak bisa mendeteksi kedudukan ka’bah. Begitulah hebatnya tempat yang Allah pilih sebagai kiblat bagi umat Islam.  Sudah pastinya manusia biasa tidak mampu menciptakan sesuatu sehebat itu.

Malah teknologi satelit pun tidak akan mampu meneropong apa yang ada di dalam ka’bah. Frekuensi radio tidak mungkin dapat membaca apa-apa yang ada didalam ka’bah karena tekanan gravitasi bumi yang tinggi.

Tempat yang paling tinggi tekanan gravitasinya, mempunyai kandungan garam dan aliran anak sungai dibawah tanah yang banyak.

Sebab itulah jika bersembahyang di Masjidil Haram walaupun tempat yang terbuka tanpa atap masih terasa sejuk. Sujud masih terasa dingin karena tekanan gravitasi yang sangat tinggi.

Kita pergi kesana untuk penyerahan diri kepada Allah, rasa kerdil pada kebesaran-Nya. Secara otomatis akan menyebabkan kita luupa pada urusan dunia dan kesusahan yang ditempuhi.

Pemusatan fikiranhanya kepada Allah, ia akan datang dengan sendirinya apabila berada

Ka’bah bukan sekedar bangunan hitam empat peersegi tetapi satu tempat yang ajaib karena disitu pemusatan tenaga, gravitasi, zona magnetisme nol dan tempat yang paling dirahmati.

Mengapa bermalam di Muzdalifah dan Mina menjadi satu perkara yang wajib sebelum melontar jumroh? Dibalik semua itu ada tujuan Allah dalam menurunkan perintahnya.

Wajib haji itu bertujuan mendapatkan cukup rehat bagi memulihkan tenaga sebelum kembali ke Mesjidil haram menunaikan thawaf dan sa’i.

Tidur dengan posisi menghadap Ka’bah secara otomatis otak tengah akan terangsang sangat aktif hingga ke tulang belakang.

Rukun Haji dan Kesehatan

Pengaruh gravitasi itu penting untuk menentukan kedudukan tulang belakang untuk menghasilkan sel darah. Ini adalah sebagai langkah persediaan untuk melakukan rukun haji yang berikutnya, untuk itulah diwajibkan bermalam di muzdalifah dan mina.

“Semasa tawaf nanti memerlukan tenaga yang banyak untuk mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Bila bermalam di Mina seolah-olah kita sudah dapat energi baru untuk melakukann rukun yang lebih menantang lagi,” jelasnya. Sedangkan mengenai tawaf pula memang banyak keistimewaannya.

Pergerakan mengelilingi Ka’bah arah lawan jam memberikan energi hidup alami dari alam semesta. Sebenarnya pusat bumi itu bukan sekadar untuk bumi saja, tetapi ia seakan satu ruang atau saklar yang mengontrol seluruh alam semesta, bintang, matahari, planet dan ruang angkasa. Berarti pusat bumi itu ada energi yang cukup kuat yang tidak bisa dilihat, di dengar, dirasa, tetapi bisa terdeteksi frekuensinya.

Prof. Norshisham juga menjelaskan pergerakan melawan arah jarum jam di dalam jumlah tujuh putaran. Katanya, semua yang ada di alam ini bergerak menurut lawan jam, itulah sunnatullah arah jarum.

Elektron mengelilingi nukleus, molekul protein terbentuk dari kiri ke kanan, darah beredar juga dari arah yang sama di dalam tubuh, sperma juga beredar menurut melawan arah jarum jam, matahari, bulan dan planet dan semuanya berputar sesuai hukum yang sama.

Peredaran darah atau apa saja di dalam tubuh manusia sesuai melawan arah jarum jam. Justru dengan mengelilingi Ka’bah sesuai melawan arah jarum jam, berarti sirkulasi darah di dalam tubuh meningkat dan sudah tentunya akan menambah energi. sebab itulah orang yang berada di Mekkah selalu bertenaga, sehat dan panjang umur.

Sedangkan jumlah tujuh itu adalah simbolik ke tidak terhingga banyaknya. Angka tujuh itu berarti tidak terbatas atau terlalu banyak. Dengan melakukan tujuh kali putaran sebenarnya kita mendapat ibadah yang tidak terbatas jumlahnya.

Di dalam menunaikan rukun haji, ada hal yang dilarang selama berihram, larangan memakai topi, songkok atau menutup kepala karena rambut dan bulu roma (pria) adalah ibarat antena untuk menerima gelombang yang baik yang dipancarkan langsung dari Ka’bah. Sebab itulah setelah melakukan haji kita seperti dilahirkan kembali sebagai manusia baru karena segala yang buruk telah ditarik dan diganti dengan nur atau cahaya baru.

Setelah selesai semua itu baru lah bercukur atau tahalul. Tujuannya untuk melepaskan diri dari pantang larang dalam ihram. Namun rahasia sebaliknya adalah untuk membersihkan antena atau reseptor kita dari segala kekotoran sehingga hanya gelombang yang baik saja akan diterima oleh tubuh.

Bila ini dapat dijalani dengan sebenarnya oleh para jamaah haji, maka akan memperoleh manfa’at haji, perubahan pada diri orang yang sebenarnya. Itulah perintah Allah.

Ibadah haji juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran kepada umat Islam. Karena dalam proses perjalanan ibadah haji dari awal pendaftaran, yang harus antri puluhan tahun, hingga akhir thawaf wada’, membutuhkan perjuangan yang disertai dengan kesabaran. Dan orang yang sabar akan selalu ditemani Allah swt. dalam setiap langkahnya.

Setiap orang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah, untuk menyempurnakan rukun Islamnya. Ibadah haji merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam yang mampu secara jasmani, rohani, finansial, dan keamanan. Ajaran haji juga sebagai pertanda, bahwa syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari syariatnya Nabiyullah Ibrahim as. Dalam QS. al-Hajj ayat 27, Allah menginformasikan tentang perintah-Nya kepada nabi Ibrahim, untuk memanggil semua manusia agar melaksanakan ibadah haji ke baitullah, baik dengan jalan kaki atau naik unta.

Banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah haji. Diantaranya adalah tentang perintah untuk menyempurnakan haji dan umrah lillah (karena Allah), bukan karena yang lain. Ini adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan oleh al-Qur’an dengan redaksi fi’il amar dan diiringi perintah motivasi lillah (wa atimmul hajja wal umrata lillah). Ini memberi isyarat, bahwa ibadah haji dan umrah memiliki sisi niat yang rentan menyeleweng dari tujuan aslinya. Bisa karena riya’ (pamer), takabbur (sombong), ‘ujub (heran dengan amal sendiri) atau karena hanya ingin dipanggil pak haji atau bu hajjah. Sehingga menjaga niat selama melakukan ibadah haji dan umrah, dan sepulang dari ibadah, menjadi penting untuk dilaksanakan. Niat lillah artinya melaksanakan ibadah haji dan umrah karena melaksanakan perintah Allah dan menjalankan serta mengikuti syari’at Rasulullah Saw.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.