SIAPKAH KITA MENGHADAP TUHAN?

SIAPKAH KITA MENGHADAP TUHAN?

 

GEMA JUMAT, 21 JULI 2017

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu- sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).(Q.S. Al- An’am ayat 94)

Al-Quran memberikan penegasan tentang keadaan manusia saat bertemu dengan Allah dalam keadaan terasing, sendiri dan tanpa ada teman. Semua yang pernah menjadi sahabat terbaik, harta melimpah, kekuasaan yang luas, tak akan bersama kita lagi saat berjumpa dengan Allah swt. Dengan demikian, sejarah kelahiran dan kematian pada hakikatnya merupakan dua peristiwa yang sama. Dilahirkan dalam keadaan sendiri, kemudian meninggal juga dalam keadaan sendiri. Tidak lebih.

Hanya kebaikan yang menyertai kita sebagai pembela di kehidupan yang selanjutnya. Adapun keburukan yang kita lakukan juga akan kita dipertanggungjawabkan sendiri. Syeitan yang menipu manusia pun akan berlepas diri dari apa yang mereka bisikkan berupa kejahatan dan keburukan. Melemparkan kesalahan kepada orang yang menyuruh kita untuk mengerjakan sesuatu kejahatan, tidak ada gunanya. Semua orang akan mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya.

Jikapun penyesalan akan datang karena keburukan amal yang dilakukan di dunia, pada saat ‘kesendirian’ kita menghadap Allah swt, tak berguna lagi. Semua dipundakkan pada masing-masing kita. Tidak ada pertolongan sedikitpun. Tidakada belas kasihan sedikitpun. Hanya Allah swt dan amal kebaikan yang kita lakukan menjadi fi da’ (tameng pelidung) dari dahsyatnya kubur dan hari Kiamat.

Pernahkah kita merenungkan hal tersebut? dimana keadaan diri kita begitu terasing dalam dekapan tanah kubur yang keras ? Pernahkah kita merasa malu jika aib kita dibuka di hadapan Rabb al-Alamin di padang mahsyar…? Atau membayangkan sekilas kobaran api neraka yang membakar? Atau kita hanya menghitung-hitung kebaikan dan tidak pernah mengintrospeksi keburukan dan kejahatan yang kita lakukan? Hidup di dunia adalah perenungan. Perenungan terhadap nasib ‘kesendirian’ dalam kubur dan mempertanggungjawabkan semua amalan. Allahumma ighfi r lana ya Allah.. allahumma amiin.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.