PAI dan Diniyah Harus Sinergi

PAI dan Diniyah Harus Sinergi

GEMA JUM’AT, 28 JULI 2017

Masrur Salamuddin, SPdI, MA, Alumni PAI UIN Ar-Raniry

Bagaimana Anda melihat kehadiran mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah?

Mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) sangat penting diajarkan bagi siswa di sekolah. Karena, PAI sendiri mencakup pelajaran quran, hadits, aqidah akhlak dan fiqh, yang semua pelajaran tersebut merupakan ilmu yang wajib dimiliki dan diketahui oleh anak didik dalam beribadah dan bermuamalah untuk kehidupan sehari-hari.

Apakah sekarang sudah maksimal siswa mempelajari mata pelajaran PAI?

Sampai saat ini sekolah belum maksimal menerapkan pelajaran PAI di sekolah. Siswa belum maksimal menerima pelajaran PAI, karena alokasi waktu belajarnya masih kurang, ditambah lagi kendala-kendala lain dilapangan. Seharusnya, mata pelajaran PAI itu diajarkan untuk siswa di sekolah dalam seminggu, idealnya 6 sampai 8 jam.

Bagaimana peran mata pelajaran PAI dalam mendidik siswa terutama di bidang akhlak?

Mata Pelajaran Agama Islam, khususnya aqidah akhlak seharusnya mampu menjawab krisis moral siswa di sekolah. Untuk menjawab permasalahan tersebut guru harus profesional dalam membimbing siswanya, terutama dalam membentuk karakter atau moral siswa. Disini pihak sekolah dituntut harus mampu memanfaatkan peluang dalam mengintegrasikan pelajaran sekolah dan dayah di sekitar sekolah.

Bagaimana solusinya?

Kehadiran diniyah di sekolah merupakan salah satu solusi yang baik, namun harus dikelola dengan bagus, sehingga hasilnya nanti mampu menjawab persoalan tersebut.

Kalau saya melihat selama ini, solusi yang bisa ditempuh dalam memaksimalkan kehadiran PAI di sekolah adalah menambah alokasi waktu terhadap mata pelajaran itu sendiri. Disamping itu penerapan diniyah dan kerjasama pihak sekolah dengan majelis taklim atau dayah disekitar sekolah dalam membangun pendidikan PAI secara bersama sama.

Solusi lain yang bisa ditempuh ialah melaksanakan pembinaan guru PAI secara menyeluruh, sehingga melahirkan guru-guru yang profesional. Indra Kariadi

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.