PAI, Komitmen Siapkan Generasi Masa Depan

PAI, Komitmen Siapkan Generasi Masa Depan

GEMA JUMAT, 28 JULI 2017

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah bertujuan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, memantapkan pengetahuan ajaran Islam, dan berakidah kuat. Sudah sewajarnya mata pelajaran ini mendapatkan perhatian serius. Apalagi Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.

Pembentukan karakter siswa tidak akan berhasil apabila orang tua tidak turut membantu. Menurut Abdul Aziz S.Ag MPd, guru PAI di SMP Negeri 8 Banda Aceh, setiap orang tua sepatutnya membina akhlak anaknya di rumah. Sehingga, ketika di sekolah proses pengembangan akhlak lebih mudah dilaksanakan.

Supaya tujuan PAI tercapai, tenaga pendidik harus siap, misalnya mempersiapkan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik. Metode mengajarnya juga harus tepat agar siswa mudahmencerna materinya.

Penerapan mata pelajaran PAI telah memberikan dampak positif bagi para siswa. Tujuan PAI semakin mudah tergapai setelah dipadukan dengan program Pendidikan Diniyah yang dicetus oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Ia menjelaskan, program Pendidikan Diniyah berlaku untuk sekolah-sekolah mulai dari jenjang setingkat sekolah dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Dilaksanakan pada pukul 14.00 sampai 16.00 WIB di sekolah setempat.

“Program ini merupakan upaya melindungi umat Islam serta membentengi generasi muda Islam dari usaha-usaha permurtadan dan pedangkalan aqidah,” tutur guru program Pendidikan Diniyah ini.

Pendidikan Diniyah telah berlangsung sejak 2012 dan terus mendapat perluasan dan dukungan masyarakat hingga sekarang. Kegiatan program ini di bawah koordinasi Komisi Penguatan Aqidah- Pendidikan Agama Islam(KPA-PAI) dan Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Tenaga pengajar awalnya terdiri dari guru di sekolah yang telah lulus tes oleh Tim KPAPAI. Tenaga pengajar dari dayahdayah dan pesantren pun direkrut untuk memenuhi kebutuhan.

Abdul menilai program ini layak untuk dipertahankan karena dianggap berhasil membina dan membentuk akidah, syariah, dan akhlak. Indikator keberhasilannya, hampir tidak ada lagi usaha-usaha pendangkalan akidah dari pihak yang tidak bertanggungjawab. Peserta didik sudah terbiasa melakukan salat berjamaah dua waktu di sekolah, yaitu zuhur dan asar dengan harapan terjadinya peningkatan lagi. Kemudian hampir tidak terdengar lagi gejolak-gejolak sosial berkaitan akhlak buruk peserta didik, seperti balapan liar, tawuran, dan lain-lain.

“Peserta didik tetap dalam pengawasan dimanapun mereka berada dan tidak banyak membuang waktu untuk kegiatan yang sia-sia dan hura-hura,” tambahnya.

Pentas PAI 2017

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penghayatan peserta didik terhadap ajaran Islam, Kantor Wilayah Kementrian Agama Aceh menyelenggarakan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) ke-3 pada 21-25 Juli 2017 di Taman Ratu Safi atuddin, Lampriet, Banda Aceh. Acara rutin dua tahun sekali tersebut dibukalangsung oleh Wakil Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT, Jumat malam (21/7).

Pentas PAI 2017 bertemakan Junjung Tinggi Prestasi Kobarkan Semangat Pendidikan Agama Islam memperlombakan 8 cabang perlombaan tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Lombanya seperti musabaqah tilawatil quran, pidato, musabaqah hifzil quran, cerdas cermat, kaligrafi, seni nasyid, debat, dan kreasi busana muslim. Jumlah peserta dan offi cial mencapai 1.150 orang perwakilan 23 kabupaten/kota.

Kepala Kantor Kemenag Aceh Drs HM Daud Pakeh dalam kata sambutannya mengharapkan, PEntas PAI mampu menumbuhkan sikap mandiri, kreatif, dan sportif. Kemudian agar ukhwah islamiah menguat serta melahirkan siswa berprestasi dan seniman berbakat yang bisa mengharumkan nama daerah.

“Pentas PAI diharapkan menjadi momentum strategis pemberdayaan keterampilan dan seni bagi peserta didik. Termasuk sarana mencari bibit unggul, siswa berprestasi dan siswa bebakat,” jelasnya.

Mendukung kegiatan islami

Nova Iriansyah mengatakan Pemerintah Aceh mendukung penuh pelaksanaan kegiatan bernuansa islami. Kegiatan seperti itu merupakan bentuk syiar Islam. Pentas PAI bukan hanya sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah silaturahmi serta berbagi pengalaman. “Acara seperti ini terlalu banyak manfaat untuk menangkal hal-hal negatif, untuk memupuk hal positif,” paparnya.

Mencermati kondisi masyarakat, terutama remaja, sarat terhadap tantangan seiring perkembangan teknologi. Oleh karena itu, para remaja perlu diarahkan ke arah positif dengan cara mengadakan ajang kompetisi. Pentas PAI merupakan bentuk apresiasi bagi siswa berprestasi, berakhlak mulia, memiliki rasa peduli, dan cerdas.

Siswa di sekolah sepatutnya semakin mantap mengamalkan ajaran Islam. Kemudian menularkan nilai kebaikan kepada lingkungannya. Nova turut menyikapi persoalan singkatnya jam pelajaran PAI di sekolah, yakni hanya dua sampai tiga jam seminggu. Hal ini sepatutnya menjadi perhatian pemangku kepentingan sebagai bentuk tanggungjawab.

Dijelaskannya, mata pelajaran PAI menuai berbagi kritik karena belum mampu menjadikan peserta didik cerdas secara spiritual dan moral. Kritikan ini muncul sebab endahnya nilai pengetahuan kognitif peserta didik, atau minimnya efek keseharian siswa itu. Oleh karena itu, Pemerintah Aceh mendukung penuh kolaborasi Kemenag dan Dinas Pendidikan Aceh guna tercapainya tujuan PAI. “Kegiatan bernuansa islami perlu digalakkan dan dilaksanakan lebih meriah,” imbuhnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.