Garam dalam Sunnah

Garam dalam Sunnah

GEMA JUMAT, 04 AGUSTUS 2017
Oleh: Murizal Hamzah

Selama Ahad ini, isu garam mengoyang Indonesia. Berbagai komentar negatif dan positif meluncur dari berbagai pakar atau warga di dunia maya. Kita menyimak pernyataan Indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia namun setiap tahun harus mengimpor jutaan ton garam. Benarkah demikian? Kita sering menjiplak pembicaraan orang lain tanpa melakukan kajian mendalam atau berpikir, benarkah pembicaraan tersebut? Umat perlu kritis terhadap setiap ucapan merujuk pada berbagai sumber-sumber yang shahih.

Pernyataan tentang garam itu benar jika garam diproduksi di laut. Tidak bisa dibantah, dua pertiga luas Indonesia yakni laut. Indonesia dikepung oleh perairan. Yang jadi masalah, garam di pesisir Indonesia diproses atau dijemur di darat. Jutaan hamparan lahan dibutuhkan untuk memproses air laut menjadi garam.  mengutip dari situs Faisal Basri disebutkan Kawasan pantai yang luas tidak otomatis layak menjadi bisnis usaha garam jika curah hujan tinggi serta tingkat kelembaban.

Negara lain  yang memiliki garis pantai terpanjang yakni Filipina, Jepang, Rusia, dan Selandia Baru. Apakah empat negara itu  menjadi produsen garam terbesar di belahan dunia? Jawabannya tidak. Bahkan, Jepang menjadi pengimpor garam terbesar kedua di dunia. Jadi negara mana sebagai produsen garam terbesar di dunia? Ternyata jawabannya yakni Cina yang hanya memiliki  panjang garis pantai seperempat Indonesia.  Amerika Serikat menjadi produsen garam terbesar kedua. Padahal negara adidaya ini hanya memiliki garis pantai yang panjangnya sepertiga dari garis pantai Indonesia.

Uniknya, dua negara itu menjabat sebagai produsen garam terbesar juga sekaligus pengimpor garam terbesar. Negara  itu butuh banyak garam untuk digunakan di dunia industri. Dunia Industri lebih banyak butuh garam daripada ibu rumah tangga atau rumah makan.

Nomor tiga produsen garam di dunia yakni India. Sebab negara ini memiliki sumber garam dari air laut air laut dan air danau dan deposit garam tambang (rock salt deposits). Bagaimaan dengan produsen garam di Indonesia? Hampir semua garam di sini bersumber dari air laut.

Semua dapur atau menu makanan butuh garam dalam porsi yang relatif sedikit. Tanpa garam, sajian terasa hambar. Kita tidak butuh garam yang banyak namun tanpa campur tangan garam dalam olahan dapur,  maka rasanya makanan tidak terasa. Dalam Islam, butir-butiran garam mendapat perhatian khusus. Kita menemukan sabda Rasulullah, ”Sebaik-baik lauk adalah garam” (HR. Al-Baihaqi).

Agar garam menjadi sehat bagi tubuh, ada anjuran garam ditaburkan ke lauk setelah makanan selesai dimasak atau mendidih dengan tujuan agar gizi dari garam tidak hilang atau larut. Misalnya masak sayur  dengan memasukan garam ketika airnya berangsur hangat. Sebagian warga menggunakan garam sebagai pembuka dalam sajian dengan mencicipi ke bibir.

Tentu saja, kita butuh garam yang halal yang mungkin bisa dihasilkan dari petani garam lokal. Artinya dalam proses pembuatan garam tidak tercampur dengan hal-hal yang haram atau menggunakan zat-zat yang dilarang dalam syariat.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.