Kewirausahaan Sosial

Kewirausahaan Sosial

GEMA JUMAT, 04 AGUSTUS 201

 

 Oleh: Sayed Muhammad Husen

Berhadapan dengan permasalahan kemiskinan dan pengangguran di Aceh mestilah berbagai pihak lebih kreatif menemukan solusinya. Pemerintah, organisasi dan individu  masyarakat sipil bisa saja menawarkan jalan keluar yang dianggap menciptakan perubahan dan kondisi yang lebih baik. Salah satu pendekatan dapat dilukan dengan mengembangankan kewirausahaan sosial.

Apa itu kewirausahaan sosial? Kewirausahaan sosial menggabungkan inovasi, sumberdaya dan peluang untuk mencari solusi terhadap permasalahan sosial dan lingkungan dengan pendekatan kewirausahaan. Pendekatan ini juga fokus pada perubahan sistem, pemberdayaaan masyarakat dan mengatasi penyebab kemiskinan dan pengangguran.

Kewirausahaan sosial juga menemukan solusi terhadap kerusakan yang timbul akibat kebijakan yang melahirkan kaum marginal, kerusakan lingkungan dan rendahnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Memperbaiki mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Karena itu, kewirausahaan sosial harus menciptakan keuntungan untuk menjamin keberlanjutan program dan kegiatan bisnis sosial yang dilakukan. Bisnis sosial bukan nirlaba, tapi bisnis, karena dengan keuntungan yang diperoleh dapat memperluas aktivitas pemberdayaan dan mengembangkannya lebih besar lagi.

Kewirausahahan sosial dilakukan oleh orang yang rela berkorban, segera bertindak dan berinisiatif mencari solusi terhadap permasalahan sosial di lingkungannya. Misalnya masalah kemiskinan dan pengangguran yang kita sebutkan di atas. Seorang entrepreneur sosial memiliki sikap praktis, inovatif dan berani ambil resiko. Suka berbagi keberhasilan dan mengevaluasi apa yang dikerjakannya.

Salah satu aktivitas kewirausahaan sosial yang spesifik dan berbasis masjid adalah Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB). Pada awalnya Kelompok Swadaya Masyarakat BQB diinisiasi beberapa entreprenuer sosial,  ICMI Orwil Aceh dan Pengurus Masjid Raya Baiturrahman memiliki modal usaha Rp 16 juta dan kini assetnya sekitar Rp 15 miliar.

BQB mempekerjakan 15 karyawan dan memfasilitasi modal usaha mikro berkelanjutan hampir 1.000 anggota. BQB telah menyediakan peluang kerja bagi karyawan, masyarakat yang membutuhkan modal usaha dan meminimalisir peran rentenir yang menjerat pengusaha mikro miskin. BQB memediasi pemilik harta dengan muslimim lainnya yang membutuhkan modal kerja.

BQB sebenarnya bisa menjadi inspirasi bagi entrepreneur sosial lainnya untuk mengembangkannya di lokasi lain di seluruh Aceh. Sama halnya seperti BMT (Baitul Mal Wattamwil) yang berkembang di seluruh Indonesia. Wirausaha sosial ini diyakini bagian dari solusi terhadap problem kemiskinan  dan pengangguran di Aceh. Boleh kita coba.

 

 

 

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.