3

Lahirkan Skill, Mengatasi Kemiskinan

GEMA JUMAT, 04 AGUSTUS 2017

Iskandar Zulkarnaen, Ph.D – Dosen Universitas Malikussaleh

Kini era masyarakat ekonomi ASEAN atau sering disebut dengan singkatan MEA sudah berlansung. Generasi muda, mahasiswa bahkan lulusan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia khususnya Aceh mesti terus berlomba-lomba mencari celah dan peluang untuk terus meraih kesempatan, mengembangkan diri untuk mencapai kesuksesan. Namun pertanyaan mendasar yang banyak muncul adalah bagaimana kesiapan mereka baik dari segi motivasi atau jiwa enterpreniur maupun kemampuan skill sebagai poin yang lebih diutamakan saat ini? Dan pertanyaan lain adalah apa benar mereka akan tersingkir di negaranya sendiri?

Simak wawancara singkat Wartawan Tabloid Gema Baiturrahman, Indra Kariadi dengan dosen Universitas Malikussaleh, Iskandar Zulkarnaen, Ph.D

Bagaimana Anda melihat pemuda hari ini?

Kalau ingin melihat pemuda hari ini, maka kita harus melihat kepada pemuda 5–10 tahun ke belakang. Yang kita indetifikasi pemuda hari ini adalah anak kecil dan para remaja yang 5-10 tahun kebelakang. Apa yang terjadi pada anak kecil dan remaja yang 5–10 tahun kebelakang. Aceh pada waktu itu mengalami transisi dari daerah konflik ke damai, dan pada saat yang sama terjadinya tsunami. Jadi bisa kita mengatakan generai sekarang adalah generasi pemuda yang hidup tidak normal seperti daerah lain. Daerah lain hidup dalam kedamaian, tidak ada gangguan keamanan, tidak adak konflik, pendidikan yang ditempuh juga normal. Jadi dengan kondisi tersebut, jangan heran kita melihat profil pemuda sekarang, yaitu profil pemuda yang ketergantungan tinggi pada orang tuanya. Mereka tidak bisa mandiri, layaknya pemuda yang ada di provinsi lain. Padahal, di Aceh dahulu pemuda itu diciptakan oleh dua lembaga pendidikan, yang pertama adalah lembaga formal seperti sekolah-sekolah. Kedua adalah lembaga nonformal yaitu dayah. Tetapi karena berbagai kesulitan maka mereka tidak optimal dalam menjalankan pemdidikan baik didayah maupun di sekolah.

Penyebabnya?

Situasi politik global, politik nasional dan politik sekarang itu sangat konfetitif. Sedangkan lingkungan kita tidak konfetitif. Ada warung kopi yang menjamur setelah rehab rekom, memenuhi bukan hanya di Banda Aceh tetapi diseluruh wilayah. Dulu warung kopi itu hanya tempat transit sebentar, tempat bertukar informasi, menyambung tali silaturrahmi, tetapi sekarang berubah pungsi, warung kopi itu menjadi tempat anak-anak melakukan internet, duduk diwarung kopi dari pagi hingga sore, cuma untuk mengakses internet. Apa yang terjadi kemudian hari, jika factor itu dibiarkan secara berlarut-larut, maka akan lahir para pemuda kita yang kurang produktif, mereka tidak memiliki inovasi, karena mereka hanya hidup sendiri, sedangkan orang tua tidak tahu. Kondisi ini sangat mencemaskan, karena para orang tua berpikir, daripada anaknya main dijalan, lebih baik mereka duduk diwarung kopi, lama-kelamaan ini dibiarkan akan menciptkan generasi muda yang tidak produktif.

Perubahan apa saja yang menyebabkan seperti itu?

Perubahan dinamisasi dalam masyarakat. Dulu anak muda yang di kampung-kampung, mereka hanya berkumpul di meunasah, biasanya disampig meunasah itu ada sarana olahraga, seperti lapangan volli. Pada saat azan magrib tiba mereka akan melaksanakan ibadah shalat berjamaah dan malam harinya mereka mengisi pengajian. Sehingga aparat gampong bisa berinteraksi dengan pemuda lebih intens, sekarang budaya itu sudah berubah, anak muda sendirinya, sedangkan para orang tua gampong sibuk dengan aktifitas sendirinya. Sehingga tidak ada kontrol sosial dari orang tua terhadap pemuda yang semakin hari semakin berkurang. Pada saat yang sama juga muncul tantangan berikutnya, yaitu tekhnologi informasi. Muncul informasi yang tidak tersaring lagi, muncul informasi dari internet yang cukup banyak. Jadi tidak ada yang mengontrol para pemuda, orang tua sibuk sendiri, guru terbatas mengontrol anak-anak, mereka mengontrol aktifitas anak-anak hanya di sekolah, diluar sekolah tidak menjadi tanggung guru lagi. Sedangkan lembaga agama hanya mengontrol lingkungan di dalam dayah saja, sedangkan diluar dayah itu tumbuh sendiri. Sedangkan masyarakat tidak bisa mengontrol para pemuda. Beda dengan kondisi 20-30 tahun yang lalu, manakala aktifitas anak muda itu bersentuhan langsung orang tua.

Apa yang menjadi tantangan terberat hari ini?

Sekarang yang menjadi tantangan paling besar adalah narkoba. Yang mengkomsunsi paling banyak itu adalah generasi muda, ini harus kita akui. Kenapa mereka bisa mengkomsunsi tersebut, faktor utama adalah ketidak tahuan, mereka tidak tahu, apa dampak dari narkoba. Faktor kedua, mereka hanya ingin coba-coba. Dan yang ketiga, pelarian dari aktifitas dirumah, orang tua sibuk sendiri, akhirnya mereka mencari kehidupannya sendiri. Ini juga yang menjadi penyebab, narkoba itu marak di depan pemuda, karena kontrol sosial sekarang adalah kontrol sosial yang sangat tipis, tidak ada lagi interaksi antara orang tua dengan pemuda.

Kenapa pengangguran di Aceh makin meningkat?

Sekarang kita melihat  Aceh daerah yang termasuk perguruan tingginya paling banyak. Kita memiliki perguruan tinggi negeri level universitas itu ada lima, yaitu Unsyiah, Uin Ar-raniry, Unimal, Unsam dan Utu. Itu hanya universitas yang negeri belum lagi yang swasta, universitas ini memproduksi sarjana setiap tahun, tetapi jarang sekali mereka duduk bersama dengan pemerintahan daerah provinsi, untuk menentukan bagaimana kualifikasi lulusan yang diharapkan oleh pemerintah. Jarang sekali terjadi duduk bersama, seperti misalnya Gubernur Aceh memanggil semua rektor, untuk menyapakati apa yang diharapkan dari lulusan yang ada, juga laju lulusan sarjana dikampus setiap tahun semakin meningkat. Lulusa perguruan tinggi itu bisa digunakan dan dibutuhkan sebagai pekerja. Siapa yang menentukan ini, maka yang berkepentingan menentukan ini adalah pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Maka mereka harus melakukan duduk bersama untuk mencari solusi, demi tidak terciptanya angka pengangguran yang semakin meningkat, ini harus di inisiatifkan secara bersama.

Bagaimana skill pemuda Aceh sekarang ?

Kondisi sekarang adalah skill kepemudaan Aceh, harus kita akui, kita tertinggal dari daerah-daerah yang lain. Jadi pada saat misalnya ada industri yang mau masuk ke Aceh, kita butuh, tetapi kita tidak siap dan hanya masih berlindung pada keistimewaan Aceh, dengan cara minta kepada perusahaan untuk untuk menerima masyarakat lokal. Kalau ini masih kita gaungkan, kapan kita bisa dewasa, dan kapan kita bisa menyiapkan masyarakat kita. Terutama kita mau mengisi industri sektor di Aceh, dan sektor investasi di Aceh. Maka pemerintah harus berkomitmen menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai yang memiliki kwalifikasi tinggi.

Harapan Anda?

Harapan kita kepada pemerintah yang baru ini, pemerintah harus menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai dan mendorong dinas-dinas terkait dalam menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai. Untuk menyiapkan ini, maka ini bukan hanya tanggung jawab gubernur saja, perguruan tinggi juga harus didorong. Maka untuk itu  perlu duduk bersama demi menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai. Dari pengalaman-pengalaman negara maju, ada empat pihak yang terlibat dalam pembangunan, sehingga pembangunan itu berhasil. Yang pertama pemerintah itu sendiri, yang kedua perguruan tinggi, yang ketiga memiliki industri dan keempat adalah lembaga swadaya masayarakat dan media massa sebagai Kontrol sosial. Kalau sinergi empat lembaga ini dan bisa berjalan dengan baik, maka proses pembangunan disatu daerah itu, bisa diyakini daerah tersebut bisa membangun dengan lancar dan bisa mengatasi permasalahan didaerah tersebut..

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman