4

Menggugat Duta Wisata

GEMA JUMAT, 04 AGUSTUS 2017

Oleh: Zulfurqan

Aceh memiliki banyak sekali potensi daerah. Salah satunya di bidang kepariwisataan dengan beragam destinasi menarik untuk dikunjungi, seperti lautnya yang indah. Pemandangan dari atas pegunungannya pun mampu menyihir mata memandang.

Potensi wisata ini akan sangat bermanfaat bila dimanfaatkan secara baik oleh setiap daerah. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi suatu daerah akan sangat berguna bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Dari sini maka akan lahir berbagai ekonomi kreatif. Perajin kesenian bisa mencoba membuat makanan khas atau souvenir khas daerah tersebut. Selama ini yang sering dijadikan kenang-kenangan wisata berbentuk baju, gantungan kunci, tas motif Aceh, dan sebagainya.

Lokasi wisata ini tidak akan banyak berkontribusi bagi ekonomi kerakyatan bila tidak dipromosikan. Tanpa promosi, sedikit sekali orang yang mengetahui lokasi wisata tertentu. Dengan kecanggihan teknologi dan tingginya “pecandu” medsos, dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tidak butuh tenaga maupun dana yang banyak. Promotor hanya perlu mendesain ataupun melampirkan foto atau video lokasi wisata yang menarik. Meskipun terkadang lokasi wisata di dunia nyata tidak semenarik yang ada di dalam gambar.

Andil pemerintah cukup tinggi untuk peningkatan atau penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah. Kalau tinggi, maka pemerintah layak mendapatkan apresiasi. Sedangkan bila menurun, sudah seyogyanya dilakukan evaluasi. Bila sangat menurun, berarti kinerja pemerintah tidak maksimal.

Pemilihan para duta wisata ini diharapkan mampu mempromosikan wisata Aceh. Peserta yang mendaftar pada ajang ini harus berpengetahuan luas serta memiliki komunikasi yang baik. Menguasai kemampuan berbahasa Inggris menjadi nilai tambah. Karena nantinya mereka juga diharapkan mampu bergaul dengan wisatawan mancanegera (wisman). Pastinya, sangat jarang di antara wisman bisa berbahasa Indonesia. Kecuali untuk wisman asal Malaysia, bahasa negeri jiran dengan mudah bisa dipahami walaupun ada perbedaan yang tidak berarti dengan Bahasa Indonesia.

Wisata Tanpa Duta

Calon duta wisata ini melalui berbagai tahapan seleksi. Mulai dari seleksi administrasi, tes kemampuan lisan dan tulisan. Peserta ajang ini merupakan kalangan pemuda-pemudi. Dari sekian banyak peserta umumnya berasal dari kalangan kampus. Mereka dites, kemudian terpilih beberapa pasangan yang akan mengikuti karantina di sebuah hotel selama beberapa hari. Di media sosial, ¬†biasanya instagram, mereka diuji mempromosikan wisata. Di sini, mereka sebenarnya juga sedang memperkenalkan diri mereka sekaligus mencari dukungan. Ajang ini dinamakan medsos challenge. Siapa yang paling banyak mendapatkan tanda “suka” mereka akan dianggap sebagai pemenang untuk kategori ini.

Ajang duta wisata tidak hanya dilaksanakan di Banda Aceh. Tidak sedikit daerah-daerah lain yang juga ambil bagian dalam kegiatan ini. Namun, apakah pemilihan duta wisata ini efektif untuk meningkatkan promosi Aceh? Ataukah cuma menjadi ajang mencari popularitas bagi pesertanya? Seolah jika berhasil menjadi pemenang, maka akan lebih dipandang hormat atau disegani. Atau sebatas seremonial untuk menunjukkan bahwa daerah tersebut juga memiliki duta wisata seperti daerah lain?

Di sisi lain, penulis juga tahu bahwa pemilihan duta wisata merupakan salah satu cara meningkatkan promosi wisata. Pemerintah juga sudah melakukan berbagai promosi wisata dengan cara lain untuk tingkat daerah, nasional, maupun internasional.

Sebenarnya seberapa besar pengaruh kehadiran duta wisata dalam peningkatan jumlah wisatawan. Penulis melihat bahwa ajang pemilihan duta wisata menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Mulai dari penyewaan hotel dan penyelenggaraan pentas kesenian. Selama ini penulis belum menemukan apa sebenarnya visi dan misi bagi wisata tersebut di dunia nyata. Kebanyakan hanya disampaikan secara lisan maupun tulisan. Belum ada yang berwujud nyata bagi masyarakat.

Bukankah lebih baik pemerintah menyediakan ruang bagi seluruh masyarakat untuk diajarkan mempromosikan wisata? Ketika ada pemilihan duta wisata, seolah wisata maupun pelestarian kebudayaan hanya milik mereka yang menggunakan selempang duta wisata. Sedangkan selama ini kontribusi duta wisata terpilih belum terlihat jelas di kalangan masyarakat. Dengan kata lain, penyelenggaran duata wisata belum memiliki makna secara nyata.

Pemilihan duta lebih mengutamakan pada kemampuan mereka secara individu. Tanpa melihat kontribusi langsung terhadap dunia wisata. Padahal masih banyak di antara kalangam masyarakat yang sebenarnya lebih layak mendepatkan selempang kebanggaan. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya diajak menjadi bagian promosi Aceh. Mereka sudah langsung berkecimpung dalam pelestarian khazanah Aceh, loyalitas mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka layak menjadi tonggak pelestari dengan fasilitas promosi yang terbilang layak. Selama ini, yang paling nampak kerja para duta adalah menjadi pendamping setiap acara pemerintahan. Sambil memberikan senyum manis kepada tetamu yang datang.

Formulasi Baru

Pemerintah perlu menyusun formulasi baru untuk memilih mereka yang layak berada di garda depan promosi wisata. Sekali lagi penulis tidak bermaksud merendahkan atau menjelek-jelekkan duta wisata. Ataupun niat merendahkan ajang duta wisata yang selama ini sudah berjalan. Pemerintah sudah memiliki niatan untuk mempromosikan Aceh. Tetapi, ada jalan lain yang bisa saja lebih layak ditempuh. Di samping mengurangi beban anggaran acara, memilih mereka yang sudah berkontribusi langsung kepada dunia wisata, tentunya gairah masyarakat mempromosikan wisata lebih meningkat.

Seperti kita ketahui bersama, masyarakatlah yang paling berpengaruh mempromosikan wisata karena mereka terlibat langsung di sana. Salah satu formulasi yang saya tawarkan adalah menggencarkan program masyarakat yang sadar akan wisata. Mereka dibina untuk menjaga lokasi wisata sekaligus tata cara menyambut wisatawan yang datang. Mungkin pemerintah sudah melaksanakan program ini jauh-jauh hari. Tetapi alangkah baiknya lebih digencarkan lagi.

Pasalnya, pembangunan atau mempercantik lokasi wisata tidaklah sesulit yang dibayangkan. Hal yang paling penting adalah bagaimana melestarikan serta merawatnya. Pemerintah harus memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal berdekatan di lokasi wisata tidak boleh membuang sampah sembarangan, misalnya. Kemudian masyarakat mensosialisasikannya dengan baik kepada wisatawan. Sebab, hampir setiap lokasi wisata tidak luput dari sampah. Baik sedikit maupun banyak.

(Penulis Alumni  Dayah Jeumala Amal Lueng Putu)

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman