Dr. Tgk. H.Bukhari Daud, M.Ed

Qurban dan Cinta pada Allah SWT

GEMA JUMAT, 04 AGUSTUS 2017

Oleh:  Dr. Tgk. H.Bukhari Daud, M.Ed

 

Kita akan segera memasuki bulan haji dan akan bertemu kembali dengan suatu  peristiwa besar yaitu Idul Adha. Ditanah suci, para jamaah haji akan berwukuf di Arafah, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang merupakan rangkaian aktivitas ibadah haji. Di tanah air kita merayakan Idul Adha. Kami ingin mengajak para jamaah untuk belajar dan mengambil beberapa hikmah dari Idul Adha yang kita rayakan setiap tahun.

Hari raya Idul Adha sering disebut dengan hari raya Haji karena bertepatan dengan musim Haji. Disebut juga dengan hari raya Qurban karena disunnahkan untuk melaksanakan penyembelihan hewan qurban.  Menarik untuk diungkap kembali bagaimana hikmah hari raya Qurban dalam rangka membuka hati kita untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT, sebagaimana telah dicontohkan oleh khalilullah Ibrahim alaihissalam.

Sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya semata wayang yang bernama Ismail. Berkali-kali beliau bermimpi hingga ia yakin betul bahwa itu datangnya dari Allah. Karena itu, beliau mencoba menyampaikannya kepada anak yang sangat disayanginya itu untuk diminta pendapatnya.

Karena Ibrahim meyakini mimpi itu berasal dari Allah, maka beliau mau melaksanakannya meskipun terasa sangat berat di hati.  Betapa tidak, seorang ayah disuruh untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai kurban sebagai dasar cinta kepada Allah.  Nabi Ibrahim yakin bahwa itu sebagai suatu ujian kepatuhannya kepada Allah sehingga tidak boleh diingkari.

Ternyata sang anak yang bernama Ismail pun meyakininya itu datangnya dari Allah.  Beliaupun berserah diri kepada Allah, seraya berkata: “‘Hai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaffat: 102).

Jawaban itu semakin memperkuat keyakinan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan kurbannya.  Dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, Nabi Ibrahim lalu membawa anaknya itu pada suatu tempat dan dibaringkan untuk disembelih.  Ketika sedang dilakukan penyembelihan, ternyata Allah menggantikan apa yang disembelihnya dengan seekor kibas.  Dan Allah berfirman: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shaffat: 104-107).

Dari kisah itu kita bisa mengambil sejumlah hikmah.  Pertama, orang-orang yang benar-benar mencintai Allah di atas segalanya, akan rela mengorbankan segalanya.  Termasuk apa yang paling dicintainya, seperti anaknya.  Bila anaknya sendiri rela dikorbankan, apalagi harta benda yang lain.

Berbeda dengan orang-orang yang iman dan kecintaan kepada Allah setengah-setengah, kalau mau melakukan sesuatu yang wajib akan setengah hati, apalagi yang sunat.  Umpamanya, waktu untuk shalat saja tidak pernah mendapat “prioritas”, tetapi digunakan sisa-sisa dari waktu yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang lain. Dengan kata lain, dia “shalat sambilan”, di celah-celah aktivitas lain yang lebih dia prioritaskan dari pada shalat.  Itu menjadi suatu pertanda atau ukuran tentang betapa rendahnya kecintaan seseorang kepada Allah SWT.

Kedua, orang-orang yang benar-benar mencintai Allah akan berusaha melawan segala godaan dunia. Ibrahim dan Ismail melakukan perlawanan terhadap segala godaan yang merintangi dan menghalangi niat mereka. Ketika mau berkurban lazimnya bagi kita manusia akan berhadapan dengan godaan-godaan untuk membanding-bandingkan keuntungan dunia.  Karena terlalu mementingkan keuntungan dunia, sebahagian orang malah akan mundur dari niat baiknya.  Sedangkan orang yang mencintai Allah akan mementingkan keuntungan akhirat, yang tentunya lebih besar dan lebih penting.  Allah juga telah berkali-kali memastikan bahwa kehidupan akhirat lah yang lebih baik, bagi orang-orang yang mengetahui (Al A’la:17; Adh-dhuha: 4). Bagi orang-orang yang berilmu dan mau beramal tentunya akan memilih yang terbaik untuk akhiratnya.

Ketiga, perlu mendidik keluarga kita untuk sama-sama mencintai Allah. Seorang kepala keluarga perlu menghindari sikap otoriter. Dia harus bermusywarah dalam keluarga untuk membuat persetujuan dan saling mendukung untuk melaksanakan suatu ibadah kurban.  Dukungan positif dari isteri dan anak sangat penting agar keikhlasan dan keyakinan kita bertambah saat mau berkurban.  Di samping itu, hal itu menjadi cara kita menanamkan nilai-nilai pendidikan bagi anak dalam keluarga agar mencintai Allah dengan mengurbankan apa yang dimiliki dan dicintai demi mengharapkan cinta Allah.  Kita perlu mengingatkan diri bahwa pendidikan bukan hanya di sekolah (formal), tetapi juga dari keluarga (informal) dan masyarakat (non formal).

Keempat, orang-orang yang benar-benar mencintai Allah akan rela mengorbankan harta terbaiknya dalam rangka membantu saudara-saudaranya. Kita tidak akan dapat meraih keridhaan Allah sebelum mampu memberikan sebagian harta yang kita cintai (Ali Imran: 92).  Sebagaimana lazimnya qurban yang dilaksanakan umat Islam dengan menggunakan berbagai jenis binatang seperti lembu dan kambing.  Dagingnya dibagi-bagi untuk fakir miskin dan disunnahkan sebahagian untuk dimakan sendiri (Al-Haj: 36). Dengan peduli pada orang lain sama dengan keluarga sendiri secara langsung atau tidak langsung. Bila orang-orang lain baik terhadap diri kita, maka itu bisa menyelamatkan keluarga kita.  Secara horizontal, orang yang dipandang baik atau punya kontribusi untuk masyarakat lazimnya tak akan dimusuhi, bahkan akan dijaga dan dibantu. Sedangkan secara vertikal, orang yang berbuat baik kepada orang banyak akan dicintai oleh Allah SWT.

Karena itu, dalam berkurban sepatutnya kita perlu membetulkan niat. Berkurbanlah semata-mata karena Allah, lillahi ta’ala.  Bukan diniatkan untuk mencari ketenaran dalam masyarakat, tetapi semata-mata sebagai wujud kecintaan Allah.  Perlu kita ingat bahwa niat yang salah akan membuat amal menjadi sia-sia. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

comments

Post Author: Nurjannah Usman