Anda Haji Mabrur

Anda Haji Mabrur

GEMA JUMAT, 11 AGUSTUS 2017

Khatib: Dr. Tgk.Damanhuri Basyir, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar Raniry Banda Aceh

 

Firman Allah: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. (Q.S. Ali ‘Imran: 97). Nabi Muhammad saw bersabda: “Hendaklah kamu bersegra

melaksanakan haji, karena sesungguhnya seseorang tidak akan menyadari suatu halangan yang akan merintanginya”

(H.R. Ahmad) Empat puluh tujuh hari yang lalu kita melaksanakan ibadah puasa, amal spesial bagi kaum muslimin. Ibadah puasa sebagai langkah untuk mencapai maqam (posisi) mulia di depan Allah swt, yaitu insan muttaqin, itulah

jembatan mendapatkan kasih sayang Allah, memperoleh ampunan Allah dan mencapai kehidupan mulia lepas dari ancaman siksa . Insya Allah dua puluh satu hari lagi, datang pula perintah ibadah haji. Ibadah haji rukun Islam

kelima (hadis muttafaq ‘alaih) diwajibkan sekali seumur hidup. Haji adalah perjalanan suci bagi yang mampu musafi r mengunjungi Baitullah. Ibadah fi sik ini mengandung makna spiritual imani, prosesi lahiriyahnya sebagai napak tilas perjuangan empat sosok hamba Allah yang memiliki jiwa membangun di atas sendi iman tauhid .

  1. Rasul Allah Ibrahim as yang memiliki iman yang teguh, membangun ka’bah.
  2. Rasul Allah Ismail as anak takwa dan salih.
  3. Hamba Allah Siti Hajar perempuan taat kepada suami dan patuh kepada Allah yang penuh tanggung jawab .
  4. Rasulullah Muhammad saw pembawa dan pelanjut risalah akhir zaman.

Ibadah haji semestinya dilaksanakan dengan kesucian jiwa dan kemurnian tauhid. Kelapangan dan kesempatan yang

diberikan Allah hendaknya dijalani dengan niat yang kuat dan semangat yang kokoh. Bagi kaum muslimin yang mendapat kesempatan hendaknya menjaga tubuh, mental dan kesehatan, sehingga dapat melakukan ibadah ini dengan sempurna. Dengan menyempurnakannya, Allah menjanjikan ampuan, memberikan kemenangan, mendapat

balasan yang agung dan mendapat kasih sayangNya.

Perjalanan jamaah calon haji sepenuhnya bernilai ibadah di sisi Allah. Bumi yang diinjak dan segala sesuatu di sekitar jamaah menjadi saksi perjalanan itu, bahkan malaikatpun ikut berdoa kebaikan untuk jamaah . Allah mengabulkan setiap doa yang diucapkan. Kalimat talbiyah: labbaika Allahumma labbaik, dibalas dengan tahniyah (pujian). Segenap keluarga juga kaum muslimin yang ditinggalkan berdoa, semoga ibadah haji jamaah benar-benar diterima oleh Allah (mabrur).

Labbaikallahmma laibbaik labbaika la syarika laka labbaik … Itulah sebuah ucapan yang muncul dari hati yang tulus dan jiwa yang bernuansa tauhid, kemudian nuansa itu menjadi sikap dan rasa bahwa hidup ini: Anillah, apa yang dimiliki adalah pinjaman Allah. Fi rahmatillah, bahwa fi sik, jiwa dan kehidupan adalah dalam rahmat Allah. Indallah, bahwa kehidupan selalu dekat dengan Allah. Bi’aunillah, merasakan bahwa diri hidup dengan bantuan Allah. Ilallah, bahwa kehidupan pasti kembali kepada Allah. Lillah, segala amal hanya karena Allah. La Hawla Wala quwwata illah bllahil aliyil Azim. (tidak ada daya dan upaya melainkan dengan kekuasaan Allah).

Selain ibadah haji, juga bagi yang mempunyai kelapangan diperintahkan melaksanakan qurban, sebagaimana yang dicontohkan Rasul Allah Ibrahim as. Allah perintahkan menyembelih anak satu-satunya yaitu Ismail as. Ibrahimpun menyahuti melaksanakannya tanpa ragu. Ismailpun dengan tawakkal, tanpa bimbang siap menjalaninya. Atas kepatuhan Ibrahim yang dilandasi kesucian jiwa bertauhid, menjalankan agama hanif, Allah memberinya gelar  tertinggi yaitu khalilullah. (al-Nisa:125). Itulah hamba Allah, cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada anak kandungnya.

Semoga ibadah jamaah benar benar diterima oleh Allah. Ada lima yang menjadi tanda haji yang diterima oleh Allah (mabrur): 1. Harta yang digunakan untuk pelaksanaan haji itu betul-betul halal. 2. Ibadah haji dilaksanakan dengan ikhlas, hanya semata-mata menginginkan ridha Allah. 3. Dalam melaksanakan ibadah haji melengkapinya dengan berbagai ibadah sunnah lainnya. 4. Menghindari perbuatan maksiat dan jadal (berbanyah bantahan). 5.Setelah melakukan ibadah, kembali ke tanah air kelakuan bertambah baik.

Amal kebaikan pun lebih meningkat, bertambah ketekunan menjalankan Islam, juga senantiasa hidup dalam sunnah Nabi: 1. Qiyamul lail, bangun malam untuk shalat tahajjud. 2. Qiraatul Quran, senang membaca alquran. 3. Shalatul Jamaah, selalu menghidupkan masjid dengan selalu shalat berjamaah. 4. Shalat Dhuha, melakukan shalat Dhuha. 5. Senang bersekah walau sedikit. 6. Selalu menjaga kesucian diri dari hadas dan dosa maksiat. 7. Hatinya senantiasa berrzikir mengingat Allah.

Kualitas suatu ibadah hanya dilandasi keikhlasan dan ketakwaan. Dalam penyembelihan qurban misalnya Allah mengingatkan dengan berfi rmanNya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekalikali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaanmu …..” (Q.S. al-Hajj: 37). Allah tidak melihat kemajuan kehidupan duniamu, berganti merk mobil, berganti seri hand phone, meningkat tipe rumah, lebih tinggi eselon, juga gelar agama, julukan social maupun gelar akademik yang disandang, tetapi yang sangat penting adalah bagaimana kualitas ibadah.

Jamaah calon haji yang melakukan ibadah dengan sempurna masuk dalam golongan muhibbin dan mahbubin (mencintai Allah dan dicintai Allah). Hamba Allah yang mendapat pencapaian cinta Allah itu. 1. Tawwabun, bertaubat dari kesalahan. 2. Muthahharun, senantiasa menjaga kesucian jiwa dan fi sik: makanan, pakaian dan tempat tinggal. 3. Muhsinun, senantiasa berbuat baik dengan sesama. 4. Mutawakkilun, senantiasa bertawakkal kepada Allah 5. Shabirun, bersabar dalam menjalani hidup dan menjalankan agama.

Kepada calon jamaah yang akan berangkat ke tanah suci, diucapkan selama jalan semoga Allah merahmati. Kami yang ditinggal menitip berpesan, doakan Aceh semoga tetap aman dan damai dalam ridha Allah swt. Demikianlah, semoga khutbah singkat ini semoga bermanfaat untuk khatib, jamaah dan mustami’in dan mustamia’at.

Di penghujung khutbah ini khatib menukil sebuah tulisan Syekh Abdurrauf Singkil dalam kitab Mawa’iz al-Badi’ah: Hasil manusia, yang tidak mengingat Allah, baginya tidak merasa cukup dengan yang sedikit Ia tidak puas dengan yang banyak. Baginya tidak bertambah apa apa, tetapi ia bertambah jauh dengan Allah. Ia merasa selalu dalam kekurangan dan papa.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.