Peran Ulama dalam Kemerdekaan RI

Peran Ulama dalam Kemerdekaan RI

GEMA JUMAT, 18 AGUSTUS 2017

Azwar,  AG – Alumni FKIP Sejarah Unsyiah

Peran Ulama dan umat islam menjelang kemerdekaan Republik Indonesia ditandai dengan keterlibatan Tokoh tokoh Umat Islam dalam BPUPKI dan PPKI, mereka mendesak presiden Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan, walaupun pada saat itu sedikit terjadinya konflik antara kaum muda dan kaum tua menyangkut hari dan tanggal pembacaan proklamasi.  akan tetapi, dalam permasalahaan tersebut Sokarno meminta pendapat dan keputusan dari ulama. Berikut wawancara singkat Wartawan Tabloid Gema Baiturrahman, Indra Kariadi dengan Azwar, AG, S.Pd, alumni FKIP Sejarah Unsyiah.

Bagaimana Sejarah Umat Islam dalam memerdekakan Indonesia.?

Umat Islam dan ulama mempunyai peran sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaa Indonesia. Hal ini bisa dilihat bagaimna gerakan yang dibangun Umat Islam ketika pra kemerdekaan atau lebih disebut era pergerakan Nasional. Kita bisa dilihat dengan munculnya berbagai macam Organisasi yang notabene-nya Islam seperti Serikat Islam, Muhammadiyah dan NU, tujuannya tetap satu yakni, untuk memperjuangkan kemerdekaan dari penjahan Belanda. Selanjutnya, organisasi itu kemudian juga jadi pelopor atau terlibat lansung dalam Sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928.

Apa peran Umat Islam dalam Mengisi Kemerdekaan?

Setelah kemerdekaan, peran umat Islam juga masih sangat besar, hal ini bisa dilihat dimana terjadinya perdebatan antar golongan dalam menentukan Arah dan masa depan Negara ini terkait dasar dan bentuk Negara. Untuk mengakomodir semua suku dan agama di Indonesia. Maka, Presiden Soekarno kembali memanggil sejumlah Ulama untuk dilibatkan dalam peerumusan dasar Negara yang kemudian disepakati pancasila sebagai dasar Negara yang Pancasila. Karna Pancasila ketika itu dianggap salah satu perekat dan menyatukan seluruh komponen dan Rakyat Indonesia. bukan hanya itu, Pancasila juga dianggap sebagai hasil Ijtihad para Ulama Indonesia dalam hal bernegara.

Selanjutnya?

Satu lagi, saat pasukan NICA-Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia atau disebut sebagai Agresi Militerr Belanda II.  Lagi-lagi, Sokarno mengrim Utusan ke tebu Ireng untuk menemuai Pimpinan Pesantren yang tidak lain adalah Rais Akbar PBNU Yaitu KH Hasyim Asy’ari untuk meminta Fatwa tantang Hukum membela dan Mempertahankan Bangsa dari Penjajahan sihingga pada tanggal 21 Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari Memanggil semua Ulama-ulama yang ada di Pulau Jawa dan Madura menggelar rapat Besar di Surabaya tepatnya di kantor PB ANO (Pengurus Besar Anshor Nahdlatul Oelama).

Hasil keputusan rapat itulah yang melahirkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 Bahwa melawan penjajah dan mempertahankan tanah Air meripakan Fardhu Ain yang apabila maninggal dalam peperangan tersebut adalah Syuhada, keputusan itu juga di bawa dan dibahas dalam rapat MASJUMI, maka Keputusan Resolusi Jihad merupakan keputusan Umat Islam bersama Sehingga Resolusi jihad ini menggema dan Memcahkan perang Rakyat Indonesia untuk kembali melawan penjahan Belanda

Bagaimana hubungan Umat Islam dengan Keutuhan NKRI?

Hubungan Umat Islam dengan keutuhan RI sangatlah kuat, dikrenakan para tokoh dan Ulama selalu menanamkan Jiwa keislaman dan Nasionalisme kepada setiap generasi ini. Disadari atau tidak, kaum Muslim mempunyai kewajiban dalam amar makruf nahi mungkar, perjuangan para umat Islam dalam mengusir penjajahan tidak lain adalah untuk menegagkan ‘izzul Islam wal Muslimin.

Apakah hubungan ini bertahan lama?

Hubungan ini tentu ada pasang surutnya. Untuk menjaga lebih harmonis, Negara harus pandai menghargai para Perjuangan Ulama dan Umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Misalnya, dalam penetapan tanggal hari Besar Nasional seperti Hari kebangkitan nasional, pada 20 Mei atau tepat hari lahirnya Budi Oetomo,(20 Mei 1908). Tujuannya adalah untuk menyatukan masyarakat Jawa Dan Madura. Bahkan, Budi utomo sendiri tidak sempat mngantarkan Negara ini merdeka karena, Organisasi Ini bubar tahun 1935.

Konon juga katanya hanya beranggotakan 10.00 Orang. Kenapa tidak dijadikan hari kebangkitan Nasional adalah hari lahirnyan Serikat Islam (SI) yang lahir pada 16 Oktober 1905 yang Organisasi ini untuk menyatukan Msyarakat Nusantara yangb anggotanya pada tahun 1919 mencapai 2 juta orang dari 181 cabang seluruh Indonesia.

Kalau dlihat sejarah ini bukankah Organisasi Islam lebih besar pengaruhnya dari Organisasi Priyai Birokrat, lantas kenapa hari kebangkitan nasional tidak diperingati hari Lahirnya Serikat Islam yang perannya jauh lebih besar dari Budi Oetomo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                     

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.