Refleksi 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Refleksi 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia

GEMA JUMAT, 18 AGUSTUS 2017

Umat Islam berjuang sangat maksimal memperjuangkan kemerdekaan. Kuantitas umat Islam menjelang kemerdekaan mencapai 95 persen. Mereka memiliki semangat spiritual yang baik menuntut kemerdekaan dari penjajahan. Api semangat ini dikobarkan oleh para ulama berada di barisan depan mewujudkan kemerdekaan. Ulama sangat paham konsep jihad sebenarnya.

Islam sendiri mendidik umatnya melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Di Aceh, beberapa ulama motor penggerak kemerdekaan seperti Tgk Chik Di Tiro, Tgk Chik Pante Kulu yang menulis Hikayat Perang Sabi, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Prof Ali Hasjmi, dan lainnya. “Jadi spirit yang mereka bangun adalah spirit keagamaan, cinta tanah air adalah bagian dari iman,” papar Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Prof Dr Misri A Muchsin MAg.

Tokoh lain berperan mewujudkan kemerdekaan adalah Tgk Abdul Jalil. Ungkapannya yang paling terkenal adalah “Ta let asee, ditameung bui”. Belanda itu diibaratkan anjing. Jepang diibaratkan babi karena sikapnya lebih parah dari Belanda. Permulaan kedatang Jepang ke Aceh, banyak pihak mendukung. Jepang diharapkan bisa mengusir penjajah Belanda. Sedangkan Tgk Abdul Jalil menentang keras kehadiran Jepang. Tgk Abdul Jalil merupakan tokoh perlawanan pertama se-nusantara melawan Jepang. Ia gugur tertembak saat memerangi Jepang bersama murid-muridnya.

Umat Islam dulu memiliki mentalitas baja melawan penjajah. Bahkan di Aceh, muncul tokoh perjuangan perempuan yakni Laksamana Malahati. Para janda yang suaminya gugur di medan perang ia rangkul ke dalam pasukannya. Armada perang ini disebut Inong Balee.

Bedanya sekarang, mentalitas seperti itu sudah memudar. Yahudi dan Nasrani sangat senang bila umat Islam tidak lagi mempunyai semangat juang. Mereka terus berusaha memecah belah umat. Upaya yang mereka lakukan seperti melemahkan mental generasi muda melalui pornografi dan narkoba. Pornografi dan narkoba pasti merusak saraf-saraf otak. “Akibatnya agama ditinggalkan,” ujar Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Aceh itu.

Kini, jihad yang perlu dipahami bukan lagi mengangkat senjata. Perang umat Islam sekarang adalah melawan kemungkaran. Begitu banyak terjadi kemungkaran tapi sedikit sekali orang mempedulikannya. Di sisi lain, Yahudi dan Nasrani akan selalu menggerogoti umat Islam. Kalau umat Islam tidak melawan kemungkaran berarti Yahudi dan Nasrani telah berhasil menjalankan misinya.

Perjuangan kemerdekaan dulu dilakukan berdasarkan keikhlasan. Para pejuang Aceh misalnya saat ke Sumatera Utara melawan penjajah, mereka ke sana tanpa imbalan. Zaman dulu semangat juang sudah dipupuk sejak kecil melalui lantunan syair. Sehingga darah perjuangan itu melekat erat di dada. “Seharusnya memang untuk membela agama dan negara tidak meminta bayaran,” pungkas Dosen FKIP Sejarah Unsyiah Drs Mawardi Umar MHum MA.

Seperti diketahui, setelah diproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda ingin merebut kemerdekaan itu. Ulama memfatwakan wajib mempertahankan kemerdekaan.

Di Indonesia tokoh-tokoh pejuang nasional berasal dari umat Islam. Setelah kemerdekaan, umat Islam turut berperan besar mengisi kemerdekaan. Dua organisasi besar yang pengisi kemerdekaan yakni Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah. NU berdiri pada 31 Januari 1926 yang diprakarsai oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah. Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912.

Sejarah kemerdekaan tentunya menjadi pelajaran bagi semua orang. Oleh karenanya bukti-bukti sejarah seperti dokumen-dokumen penting perlu dirawat. “Kalau bukti sejarah hilang, apalagi yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita ke depan,” tutur Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) itu.

Selain itu, nilai-nilai dalam sejarah perlu dipahami oleh generasi sekarang dan di masa yang akan datang. Hal-hal baik dalam sejarah patut dijadikan pedoman. Sementara hal negatif perlu dipelajari lebih lanjut agar tidak pernah terulang lagi. Terlalu banyak sudah darah tumpah demi memerdekakan Indonesia. Masyarakat Indonesia berkewajiban menghargai jasa pahlawan-pahlawannya. Zulfurqan

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.