Kerukukan Umat Beragama

Kerukukan Umat Beragama

GEMA JUMAT, 25 AGUSTUS 2017

Khatib: Dr. Tgk. Mizaj Iskandar, Lc., LL.M, Dosen UIN Ar-Raniry

Setelah sepuluh tahun menjalankan misi dakwahnya di Mekkah, Rasulullah Saw akhirnya memutuskan untuk

hijrah ke kota Yatsrib. Di kota ini, Rasulullah mendapatkan tantangan baru dalam menjalankan misi dakwahnya. Tantangan tersebut tidak hanya berupa kehidupan sosial masyarakat di kota yatsrib lebih plural dan majmuk

dibandingkan dengan kota Mekkah. Tetapi juga terdapat berbagai kelompok keagamaan yang hidup secara

berdampingan di kota tersebut.

Kala itu, di kota Yatsrib umat Islam merupakan kaum minoritas. Rasulullah datang ke Yatsrib bersama 120 orang sahabat muhajirin. Penduduk pribumi (al-anṣār) yang memeluk agama Islam baru berkisar ratusan orang saja, selebihnya mereka masih beragama paganisme dan animisme. Di lain pihak, kota Yatsrib saat itu juga di huni oleh umat Yahudi yang terdiri dari tiga suku, Banī Naḍīr, Banī Qainuqā‘, dan Banī Quraiḍah. Keberagaman agama ini mendorong Rasulullah untuk menciptakan aturan-aturan baru yang mengatur dan menjamin keharmonisan umat berama.

Aturan-aturan ini dike mudian hari dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah (Watsiqah al-Madīnah). Yang menarik dari konstitusi ini adalah, diperkenalkannya bentuk persaudaraan baru, yaitu persaudaraan antar umat beragama yang disebut dengan alukhwah al-waṭaniyyah (saudara sebangsa), di samping saudara seiman dan seagama (alukhuwah al-islāmiyyah). Hal ini setidaknya dapat dilihat dari pembukaan Piagam Madinah yang menyebutkan, “hadzā kitāb min Muhammad baina al-mu’miniīna wa almuslimīna min Quraisy wa Yatsrib wa man tabi‘ahum fal ḥaq bihim, wa jāhidu ma‘ahum, wa annahum ummatan wāhidatan min dūni al-nās (ini adalah suatu kitab yang berisi perjanjijian dari Muhammad kepada kaum Mukminin dan Muslimin baik yang berasal dari Quraisy maupun Yatsrib, dan siapa saja yang mengikuti mereka dari kalangan non-Muslim, maka kebenaran bersama mereka, dan mereka akan berjuang bersama-sama dalam menghadapi musuh, dan mereka semua adalah sebangsa dan setanah air).

Semenjak piagam Madinah ini disetujui sebagai pendoman hidup bersama dari berbagai golongan keagamaan yang hidup di kota Yatsrib di zaman itu, terciptalah kestabilan, kerukunan, dan keharmonisan antar umat beragama di kota Yatrsib. Maka semenjak itu, kota Yatsrib berubah nama menjadi Madinah (suatu tempat yang teratur), masyarakatnya disebut tamaddun (masyarakat berperadaban), orang-orangnya disebut mutamaddin (manusia berperadaban), peraturan yang menjamin terwujudnya kerukunan, kedamaian dan keharmonisan antar umat beragama disebut madaniyyah (aturan yang selaras dengan peradaban).

penjelasan di atas terlihat betul, bahwa Rasulullah hanya menganggap mereka yang mampu dan mau hidup rukun dan harmonis di dalam perbedaan sebagai manusia berperadaban. Sikap Rasulullah seperti itu bukanya tanpa dasar, tetapi sebaliknya sikap tersebut merupakan tindak lanjut dari fi rman Allah Swt yang terdapat dalam Q.S, 11:118 yang berbunyi, “Dan jika Allah berkehendak pasti manusia akan dijadikan satu umat”. Keterangan senada dengan ayat ini dapat juga dilihat dalam Q.S, 16:93, 21:92, 23:52, 42:8, dan Q.S, 43:33.

Dalam hal ini, jika ditelusuri lebih jauh lagi, boleh jadi kita akan dikejutkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi kita menyambut rombongan tamu orang-orang Kristen dari negeri Najran. Beliau mengizinkan fasilitas di mesjid Nabawi digunakan oleh orang Kristen Najran dalam menjalankan ritual misa meraka. Peristiwa ini dapat dibaca dalam tafsir Ibn Katsir, “Diceritakan oleh Ibn Ishaq: suatu hari Rasulullah kedatangan rombongan tamu dari orang-orang Kristen Najran. Ketika mereka tiba, beliau sedang menjalankan shalat ‘Ashar di Mesjid Nabawi. Orang-orang Kristen Najran tinggal beberap waktu di kota Madinah. Sampai tibalah suatu saat mereka harus melaksanakan ritual peribadatan dalam agama mereka, sedangkan di Madinah kala itu tidak ada Geraja. Rasulullah pun mengizinkan mereka menggunakan mesjid Nabawi dalam menjalankan ritual ibadah mereka. Para sahabat sempat gelisah dengan kejadian tersebut. Rasulullahpun menjawab kegelisahan sahabatnya tersebut dengan bersabda: biarkanlah mereka beribadat, mereka pun beribadat menghadap ke arah Timur”.

Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfi q, hidayah dan perlindungan. Wallahu a‘lām bi al-ḥaqīqah wa al-ṣawāb.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.