Menkeu RI Ingin Zakat Dikelola seperti Pajak

Menkeu RI Ingin Zakat Dikelola seperti Pajak

 

GEMA JUMAT, 25 AGUSTUS 2017

Yogyakarta (Gema)-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ingin agar zakat bisa dikelola dengan baik seperti pajak. Dengan demikian, masyarakat khususnya umat muslim bisa mengeluarkan kewajibannya berupa zakat dan dapat dikelola dengan baik.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan, potensi zakat masyarakat Indonesia mencapai Rp 217 triliun. Angka ini hampir sama dengan jumlah penerimaan negara bukan pajak (PNBP) per tahun.

“Ada Rp 217 triliun potensi zakat atau sama dengan penerimaan ne gara bukan pajak. Ini lebih dari 10 persen anggaran pemerintah. Ini sangat menjanjikan. Tapi hanya 2 persen yang mampu dikumpulkan melalui Baznas,” ujar dia di Yogyakarta, Rabu (23/8).

Menurut Sri Mulyani, minimnya zakat yang terkumpul tersebut lantaran sebagian besar masyarakat Indonesia memandang zakat hanya dibayarkan jelang Idul Fitri, yaitu zakat fitrah.

Padahal, selain zakat fi trah, ada juga zakat mal yang justru punya potensi lebih besar karena dikeluarkan

berdasarkan pendapatan yang terima masyarakat.

“Orang punya pandangan soal zakat yang berbeda. Mereka menganggap zakat hanya dikeluarkan pada saat Ramadan, yaitu zakat fitrah. Yang lupa dibayar zakal mal, zakat kekayaan berdasarkan keuangan yang anda miliki,” lanjut dia.

Dia mengungkapkan, memang pada zaman Nabi Muhammad SAW harta yang menjadi objek zakat, yaitu berupa emas, perak, barang-barang pertanian, dan tambang. Namun, pada masa sekarang, objek zakat tersebut telah banyak berubah dan berkembang.

“Sekarang banyak tabungan Anda tidak dalam bentuk tambang, emas, tapi dalam bentuk deposit. Ini dinilai bukan objek zakat karena pada zaman Nabi Muhammad tidak ada simpanan dalam bentuk deposit,” ungkap dia.

Agar potensi zakat ini bisa optimal, maka metode pengumpulannya harus seperti pajak. Sebab, pada yang dikumpulkan untuk pembangunan.

“Kita harus mengedukasi untuk yakinkan agar pengelolaan dana ini, karena hampir sama dengan pajak. Anda membayar dan tidak mengharapkan itu dasarnya zakat sama seperti pajak  kembali. Ini bagian dari Anda sebagai warga Negara harus bayar pajak, dan sebagai muslim ada keyakinan harus bayar zakat. Ketika bayar pajak digunakan untuk pembangunan melalui pemerintah,” tandas dia. Lptn6

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.