AL-QUR’AN, KEBENARAN DAN KENABIAN

AL-QUR’AN, KEBENARAN DAN KENABIAN

GEMA JUMAT, 8 SEPTEMBER 2017

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat al-Maidah ayat 48

Dan Kami telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu menuruti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki niscaya kamu dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan, Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan kepada Kamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.

Dalam ayat sebelumnya, Allah swt menerangkan dengan panjang lebar, tentang prilaku orang Yahudi yang meminta kepada Nabi Muhammad saw. untuk memberikan kepastian hukum, karena dalam agama mereka telah terjadi kesewenangan dalam penerapan hukum. Kemudian sambungan ayat tersebut dijelaskan lagi tentang kitab dan petunjuk bagi orang Yahudi yaitu taurat sebagai pegangan bagi mereka.

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, bahwa misi kerasulan beliau adalah untuk membenarkan semua kitab-kitab yang diturunkan, tidak dengan mendustakannya serta menjaga hukum-hukum tersebut, meski telah terjadi perubahan disebabkan oleh kejahilan kaum tersebut.

Allah swt menegaskan kepada Rasulullah saw, juga bahwa jangan sampai kehilangan pegangan dalam melaksanakan hukum, karena menuruti keinginan mereka dalam bertauhid, dalam beribadah dan dalam berdakwah. Rasulullah saw senantiasa terus menyampaikan kebenaran risalah al-Qur’an.

Allah swt juga menjawab pertanyaan tentang kenapa manusia tidak dijadikan satu umat saja? Sehingga tidak capek-capek untuk diberikan petunjuk dalam berbagai versi wahyu dan kitab, Allah swt menjelaskan bahwa hal tersebut adalah hak prerogatif Allah swt untuk menguji umat manusia, apakah mereka beriman dan bersyukur terhadap anugerah dan limpahan karunia yang telah diberikan oleh-Nya. Hanya iman, perbuatan amal saleh saja yang akan berguna untuk menghadap Allah swt. Selanjutnya, semua perdebatan tentang akidah, iman dan sebagainya, akan diberitahukan kebenarannya kepada kita oleh Allah swt kelak di hari akhirat. Wallahu musta’aan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.